Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

Senin, 30 Jumadil Akhir 1441 / 24 Februari 2020

BMKG Klaim Titik Panas Cenderung Turun

Kamis 19 Sep 2019 21:11 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Muhammad Hafil

Seorang petugas memantau areal proyek pembangunan Terminal Kijing yang diselimuti kabut asap di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (19/9/2019).

Seorang petugas memantau areal proyek pembangunan Terminal Kijing yang diselimuti kabut asap di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (19/9/2019).

Foto: Antara/Jessica Helena Wuysang
Masyarakat tetap harus mewaspadai karhutla.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta kepada masyarakat untuk terus mewaspadai sebaran asap akibat dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Indonesia,  khususnya di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Walau pun kecenderungan jumlah titik panas di wilayah tersebut menurun dibanding periode awal September 2019.

Deputi Bidang Meteorologi R. Mulyono R. Prabowo menyebut penurunan jumlah titik panas di wilayah ASEAN terdeteksi berdasarkan citra Satelit Terra, Aqua, Suomi-NPP, NOAA-20, dan Himawari-8, selama 3 hari terakhir (16 – 18) September 2019. BMKG telah mengidentifikasi setidaknya terdapat 3.302 titik panas dengan kategori tingkat kepercayaan tinggi di seluruh wilayah Asia Tenggara.

"Jumlah titik panas ini lebih rendah dibandingkan dengan jumlah titik panas pada periode waktu 13-15 September 2019 yang mencapai 3.854 titik," katanya dalam siaran persnya, Kamis (19/9).

Ia mengungkapkan lokasi titik panas tersebut diantaranya berada di wilayah Indonesia (Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan). Kemudian juga terdeteksi di Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Vietnam, Papua Nugini, dan Timor Leste.

"Di wilayah Indonesia pada tanggal 14 September terdeteksi titik panas mencapai 1.080 titik. Jumlah titik panas mengalami penurunan sejak tanggal 15 September 2019 sampai dengan tanggal 17 September 2019, meskipun terdapat peningkatan kembali pada tanggal 18 September 2019," jelasnya.

Ia menerangkan terdeteksi masih adanya sebaran asap yang memasuki wilayah Semenanjung Malaysia dari wilayah Sumatera. Selain itu pada waktu yang sama, terdeteksi pula adanya sebaran asap yang meluas hingga wilayah Serawak Malaysia dari Kalimantan Barat.

"Kondisi ini dapat terjadi karena arah angin di wilayah Riau bertiup dari arah tenggara – selatan ke utara – timur laut, sementara arah angin di wilayah Kalimantan Barat ke arah Utara," paparnya.

Ia mengklaim kecenderungan penurunan jumlah titik panas di Indonesia dan negara ASEAN secara tidak langsung dapat menurunkan sebaran asap di wilayah Indonesia. Namun masyarakat masih harus mewaspadai tingkat kemudahan terjadinya karhutla dikarenakan potensi hujan yang masih rendah di  daerah tersebut.

"Saat ini dalam mengupayakan peningkatan potensi hujan di daerah terjadinya karhutla, BMKG terus memonitor dan menganalisis potensi terbentuknya awan hujan, utk menjadi acuan bagi upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (dengan hujan buatan) yang dilakukan oleh BPPT, TNI & BNPB," tuturnya.

Upaya modifikasi cuaca ini mendesak dilakukan untuk memaksimalkan potensi hujan di wilayah karhutla,  yang sudah dilaksanakan di  beberapa tempat di Wilayah Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA