Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tasikmalaya Ingin Jadi Pelopor Wisata Halal di Jabar

Kamis 19 Sep 2019 19:58 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Friska Yolanda

Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman saat diwawancarai wartawan, Kamis (19/9).

Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman saat diwawancarai wartawan, Kamis (19/9).

Foto: Republika/Bayu Adji P
Kota Tasikmalaya sudah mulai mengarahkan produk UMKM untuk punya label halal.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya berencana menjadi pelopor wisata halal di Jawa Barat (Jabar). Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman mengatakan, latar belakang wilayahnya dengan tradisi Islam yang kuat dan memiliki banyak pesantren menjadi modal yang kuat untuk menjadi destinasi wisata halal.

"Kita sangat mendukung itu. Apalagi kita dikenal dengan kita santri, pesantren. Artinya sangat pas," kata dia, Kamis (19/9).

Ia menilai, saat ini wisata halal sudah memiliki pasar yang luas. Bahkan, lanjut dia, Jepang yang notabene bukan negara dengan mayoritas penduduk Muslim telah menawarkan paket wisata halal ke tempatnya untuk para wisatawan. Menurut dia, itu karena pasar wisatawan di Asia cukup besar. Apalagi, mayoritas penduduk Asia beragama Islam.

Dalam mewujudkan rencana itu, Budi menjelaskan, pihaknya sudah mulai mengarahkan produk usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk memiliki label halal. Terutama untuk produk kuliner.

"Hanya belum semua. Kita ingin semua, kalau masuk ke Tasikmalaya makanan semua halal," kata dia.

Sebelumnya, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) cabang Tasikmalaya mengggelar lokakarya wisata halal untuk para pemangku kepentingan di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat. Lokakarya yang diikuti ratusan orang itu membahas mengenai cara untuk pengembangan wisata halal. 

Ketua Umum MES cabang Tasikmalaya, Profesor Kartawan mengatakan, lokakarya itu dilakukan untuk membekali para pemangku kepentingan dengan konsep wisata halal. Menurut dia, wilayah Priangan Timur sangat memiliki potensi untuk wisata halal.

"Alasannya, kondisi di sini relatif Islami. Kita banyak pesantren dan tempat bersejarah. Selain juga objek yang biasa, dengan pelayanan dan produk yang syariah," kata dia.

Ia mencontohkan, Pondok Pesantren Suryalaya di Kabupaten Tasikmalaya atau Pesantren Sirnarasa di Kabupaten Ciamis, banyak dikunjungi jamaahnya untuk wisata religi. Hal itu, kata dia, belum digarap secara maksimal dengan pelayanan yang baik. Padahal, ia menyebut, sektor pariwisata dapat mendongkrak perekonomian daerah.

Ia menjelaskan, konsep wisata halal sebenarnya bukan hanya dikhususkan untuk wisatawan Muslim. Lebih dari itu, masyarakat dunia sudah mulai mengonsumsi segala hal yang halal lantaran dinilai sebagai gaya hidup untuk sehat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA