Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Indonesia Butuh Lembaga Transfer Teknologi

Kamis 19 Sep 2019 13:51 WIB

Rep: Antara/ Red: Indira Rezkisari

Ilmuwan

Ilmuwan

Foto: Pixabay
Lembaga transfer teknologi membantu penelitian terwujud ke level terapan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Budi Wiweko mengatakan, Indonesia saat ini sangat membutuhkan Technology Transfer Office (TTO). TTO dibutuhkan agar hasil riset di Tanah Air tidak sia-sia.

Akademisi FK UI yang akrab disapa Iko ini mengatakan, salah satu peran utama TTO adalah membawa penelitian ke ranah komersial atau terapan. “Saat ini kesenjangan atau gap yang terjadi umumnya di fase antara penelitian transisional dengan terapan yang membutuhkan dukungan kuat dari pihak industri,” kata Iko yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Medical Education Research Institute (IMERI) FK-UI di Jakarta, Kamis (19/9).

Baca Juga

Iko menjelaskan, hampir semua universitas terkemuka di dunia menaruh perhatian besar pada TTO. Dia juga mengatakan, banyak riset universitas yang mampu memberikan efek perubahan signifikan.

Ia mencontohkan, di Amerika Serikat terdapat Association University Technology Managers (AUTM), sebuah organisasi yang tugasnya mengoordinasi semua TTO universitas di Amerika. Perjalanan panjang AUTM pada 1996-2015 berhasil mendorong 380.000 penemuan dengan 80.000 di antaranya mendapatkan paten.

Gambaran ini, kata Iko, menunjukkan hanya sekitar 20 persen penemuan yang mendapatkan paten dan potensial menjadi produk. Karena itu, gagasan untuk melakukan penelitian harus terus diasah, dilatih, didorong serta difasilitasi oleh pemerintah, akademisi dan pihak industri.

Selain itu, komunikasi intensif, kondusif dan interaktif akan membuka peluang akselerasi prototipe riset ke ranah komersialisasi. “Hal ini sangat diperlukan agar riset Indonesia tak lagi hanya masuk kotak," tutur Iko.

Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia ini mengatakan, TTO berperan sebagai corong komunikasi, endorser, perencana business plan, dan negosiator.

“Technology Transfer Officer harus, memiliki kemampuan ulung untuk mengendus. Serta mendeteksi potensi komersialisasi dari sebuah aktivitas riset,” tambah Iko.

Karena itu, TTO harus memiliki kemampuan membaca dan menterjemahkan kebutuhan pasar serta bekerja cepat, jeli dan tidak bosan-bosannya melihat potensi kebaruan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sehingga akan mengakselerasi pusat riset untuk segera mewujudkannya melalui sebuah produk.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA