Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Sunday, 1 Jumadil Akhir 1441 / 26 January 2020

Bank Syariah Harus Libatkan Induk Usaha Jual Sukuk Tabungan

Sabtu 14 Sep 2019 05:45 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Karyawan Bank Mandiri Syariah memberikan informasi kepada nasabah mengenai informasi Sukuk Tabungan Seri ST003 melalui website Mandiri Syariah di Jakarta, Kamis (7/1).

Karyawan Bank Mandiri Syariah memberikan informasi kepada nasabah mengenai informasi Sukuk Tabungan Seri ST003 melalui website Mandiri Syariah di Jakarta, Kamis (7/1).

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Sukuk Tabungan membuat likuiditas perbankan syariah semakin ketat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak tahun lalu pemerintah aktif menghimpun dana lewat penerbitan surat utang ritel. Salah satu produk yang ditawarkan kepada masyarakat adalah Sukuk Tabungan yang mencakup produk investasi syariah.

Munculnya Sukuk Tabungan justru membuat likuiditas perbankan syariah semakin ketat. Sebab, imbal hasil yang tinggi akan mendorong nasabah menempatkan sebagian dananya ke Sukuk Tabungan.

Menurut Ekonom Bazari Azhar Azizi adanya perpindahan dana dari deposito perbankan syariah ke Sukuk Tabungan dan menjual bank konvesional membuat mengetatnya likuiditas perbankan syariah.

“Sebenarnya Sukuk Tabungan yang diterbitkan justru tujuannya agar adanya dana-dana baru yang masuk ke perbankan syariah, baik dari luar nasabah perbankan syariah atau perpindahan dana dari perbankan konvensional ke syariah. Karena adanya Sukuk Tabungan atau sukuk negara lainnya, dana untuk penggunaan projectnya ditempatkan di perbankan syariah,” ujarnya ketika dihubungi Republika, Jumat (13/9).

Maka seharusnya, kata Bazari, perbankan syariah terlibat lebih banyak lagi menjual Sukuk Tabungan dengan memanfaatkan jaringan induknya jika perbankan syariah tersebut merupakan anak usaha konvensional. Sehingga dana dari Sukuk Tabungan semakin banyak yang akan disimpan perbankan syariah tidak kesulitan likuiditas lagi.

“Bukan justru bank konvensional yang menjual Sukuk tabungan,” ucapnya.

Sebelumnya Direktur Utama BCA Syariah John Kosasih mengatakan adanya sukuk pemerintah juga membuat biaya dana atau cost of fund perbankan syariah akan meningkat, sehingga pricing pembiayaan juga naik.

"Surat Berharga Negara (SBN) masuk ke riil sektor dananya muter lagi, kalau tidak muter maka dana stagnan. Asumsi agak lambat (penyaluran kredit) maka ketersediaan DPK akan terbatas," ujarnya kepada Republika di Kantor Pusat BCA Syariah, Jakarta, Kamis (12/9).

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA