Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Tawuran Berkedok Transaksi Narkoba

Jumat 20 Sep 2019 04:09 WIB

Red: Joko Sadewo

Esthi Maharani

Esthi Maharani

Foto: dok. Republika
Tawuran merupakan cara mengalihkan perhatian untuk transaksi narkoba.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Esthi Maharani*

Pada awal September lalu, tawuran kembali meledak di Jakarta. Tawuran antara warga Manggarai Selatan dengan warga Menteng Tenggulun itu terjadi di kawasan stasiun Manggarai di jam pulang kerja para karyawan kantoran. Tawuran bahkan melebar dan memasuki kawasan yang seharusnya steril dari aktivitas masyarakat. Tak pelak, jam sibuk commuter line pun jadi terganggu bahkan berhenti total menunggu kondisi dan situasi aman.

Tawuran antarwarga ini sudah menjadi kegiatan rutin yang sudah terjadi beberapa kali. Bahkan, tahun lalu kejadian tawuran di Manggarai 2018 terjadi pada dua hari menjelang hari besar Idul Adha. Pemicunya tawuran disebabkan banyak faktor antara lain rivalitas antarkampung, saling ejek, dan aktivitas antargeng.

Permasalahan tawuran ini disebabkan adanya dendam lama yang tak kunjung padam antara warga Manggarai Selatan dengan warga Menteng Tenggulun. Peseteruan antarkampung tersebut kerap terjadi sejak tahun 1970. Akibatnya budaya tawuran dibangun melalui kebanggaan identitas antarkelompok dan membuat kegiatan tawuran diwariskan ke tiap generasi.

Tawuran tentu saja memberikan dampak buruk bagi lingkungan sekitar. Pada kasus yang terjadi 4 September 2019 itu, perjalanan KRL dari arah Bogor, Bekasi, Sudirman, dan Jakarta-Kota ke Stasiun Manggarai tertahan. Petugas keamanan gabungan PT KAI Daop 1 Jakarta dan PT KCI turut mengamankan kondisi sekitar Stasiun Manggarai. Aparat juga turun tangan dan melemparkan gas air mata untuk membubarkan tawuran antarwarga.

Saya masih ingat tawuran itu mengundang reaksi marah dari warga Jakarta yang sudah lelah bekerja seharian dan ingin pulang segera. Beberapa bahkan menyarankan agar pihak KRL tetap mengoperasikan kereta, kalau perlu dengan kecepatan penuh agar orang yang terlibat tawuran menyingkir dari jalur.

Tetapi, tak sampai satu bulan kemudian, ternyata tawuran itu menyisakan cerita lain. Tawuran di Manggarai adalah kamuflase untuk transaksi narkoba. Hal itu diungkapkan Kasat Narkoba Polres Jakarta Selatan, Kompol Vivick Tjangkung yang menangkap tersangka A di flyover Tebet, Jakarta Selatan.

"Ini lokasi penangkapannya dekat lokasi tawuran kemarin, kemungkinan masih ada hubungannya dengan tawuran kemarin. Dia sudah 10 kali bertransaksi dalam setahun," kata Vivick, Senin (16/9).

Dari pengakuan tersangka juga terungkap bahwa aksi tawuran yang terjadi di Manggarai kerap kali berkaitan dengan transaksi narkoba. "Jadi sudah terjawab karena banyak sekali tawuran yang identik dengan informasi setiap ada tawuran ada transaksi narkoba berbarengan, pengakuan tersangka pun sudah diakui oleh tersangka," tuturnya.

Jika ditelisik lebih jauh lagi peristiwa tawuran di daerah lain di Jakarta juga menjadikan tawuran sebagai kamuflase dan tameng transaksi narkoba. Misalnya saja Kepolisian sektor Tambora Polres Metro Jakarta Barat mengungkap sindikat peredaran gelap narkoba di wilayah Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat pada 8 Oktober 2018. Ketiga tersangka yang ditangkap merupakan otak tawuran antara geng Jembatan Besi dan Geng Borobudur di Tambora, Jakarta Barat pada Juli di tahun yang sama. Mereka sengaja menciptakan tawuran agar perhatian polisi teralihkan dan mereka pun bisa mengedarkan narkoba secara bebas.

“Tiga orang tersangka itu pelaku yang mengalihkan adanya tawuran pada Juli lalu. Padahal mereka sebenarnya sedang mengedarkan narkoba,” kata Kapolsek Tambora, Kompol Iverson Manosoh waktu itu.

Memang tak semua tawuran di Jakarta jadi kedok untuk transaksi narkoba. Ada banyak factor dan motif yang bisa memicu tawuran bisa meledak meskipun upaya pencegahan sudah banyak dilakukan. Di Jakarta Pusat misalnya, Pemkotnya melakukan pengetatan keamanan dengan membangun pos keamanan, memasang CCTV, menggelar berbagai kegiatan, hingga penyuluhan moral.

Yang diperlukan adalah komitmen dan konsistensi untuk melakukan pencegahan dan menindak secara tegas pelaku bahkan pihak-pihak yang memanfaatkan peristiwa tersebut untuk tindakan kriminal semacam transaksi narkoba. Karena mengatasi persoalan tawuran di Jakarta tidak bisa dilakukan semudah membalikan telapak tangan.

*) Penulis adalah jurnalis republika.co.id

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA