Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Kabut Asap, Kesehatan tak Sedap

Rabu 18 Sep 2019 21:10 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seorang balita bernama Zikra terpaksa menggunakan alat bantu oksigen karena menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan sesak nafas saat mengungsi di posko kesehatan warga terdampak kabut asap di Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus Kemensos di Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (18/9/2019).

Seorang balita bernama Zikra terpaksa menggunakan alat bantu oksigen karena menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan sesak nafas saat mengungsi di posko kesehatan warga terdampak kabut asap di Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus Kemensos di Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (18/9/2019).

Foto: Antara/FB Anggoro
Kabut asap memiliki efek berbahaya bagi tubuh manusia baik jangka pendek dan panjang

Tak ada asap jika tak ada api. Tidak ada persoalan yang muncul jika tidak ada sebab-musababnya. Sebagaimana adanya kabar kebakaran hutan dan lahan, yang mengakibatkan berbagai persoalan baru yang muncul di setiap tahunnya. Ini akibat dari meningkatnya ketebalan asap. Sehingga sangat mengganggu aktivitas warga yang terdampak kabut asap tersebut.

Baca Juga

Seperti yang diberitakan oleh Republika.co.id, pada Senin, 12 Agu 2019 08:33 WIB, bahwasanya Umat Islam melaksanakan Salat Idul Adha di tepian Sungai Kapuas di Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu (11/8), dalam kondisi diselimuti kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan.

Bahkan Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyatakan, pihaknya berencana akan memundurkan jam belajar di kota itu karena dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia juga mengimbau warga Kota Pontianak untuk mengurangi aktivitas di luar rumah karena kondisi udara yang masih diselimuti asap.

Edi juga mengingatkan agar setiap warga yang beraktivitas di luar untuk mengenakan masker. Selain itu, Edi juga meminta warga menghemat penggunaan air bersih lantaran kadar garam Sungai Kapuas sudah berada di atas ambang batas, yakni 600 miligram per liter (Republika.co.id).

Kabut asap merupakan jenis polusi udara yang dihasilkan dari campuran beberapa gas dan partikel yang bereaksi dengan sinar matahari. Gas-gas yang terlibat dalam proses ini adalah karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO2), sulfur oksida (SO2), senyawa organik volatil (VOC), dan ozon. Sementara itu, partikel-partikel yang terdapat dalam kabut asap adalah asap itu sendiri, debu, pasir, dan serbuk sari (Alodokter.com).

Efek berbahaya bagi tubuh manusia baik jangka panjang maupun jangka pendek. Efek jangka pendek akibat tinggal di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk, yaitu dalam lingkup kabut asap adalah susah bernapas dan kerusakan paru-paru.

Ketika udara tidak semakin bersih (karena masih terselubung kabut asap), maka dalam jangka panjang, dapat meningkatkan risiko kematian. Akibat paru-paru yang terus menerus menghirup zat merugikan dari gas dan partikel dalam asap. Bahaya ini bisa menimpa semua orang, terutama pada anak-anak, bahkan bisa menimbulkan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan kanker paru-paru.

Selain bahaya di atas, kabut asap juga bisa menimbulkan batuk dan iritasi tenggorokan. Umumnya keluhan ini berlangsung selama beberapa jam. Namun, efeknya bagi sistem pernapasan manusia bisa berlangsung lama walau gejala sudah menghilang.

Pada tingkat lanjut, bisa memperburuk gejala penyakit paru-paru. Penyakit asma dan PPOK berisiko menjadi semakin parah jika menghirup kabut asap. Dikarenakan zat yang terkandung dalam kabut asap bersifat iritatif dan dapat membuat paru-paru meradang.

Dampak buruk selanjutnya kepada fungsi jantung. Partikel-partikel yang ada dalam kabut asap berisiko menginfiltrasi aliran darah manusia sehingga dapat berakibat buruk bagi jantung. Hal ini terjadi karena partikel dalam kabut asap biasanya sangat kecil, yaitu kurang dari 10 mikrometer. Makin kecil ukuran partikel, maka makin besar risiko yang bisa ditimbulkan.

Hal lain yang timbul akibat kabut asap adalah hal buruk untuk mata. Efek buruknya adalah iritasi pada mata, akibat debu dan zat iritatif di dalam kabut asap. 

Hal lain yang juga semakin memperparah kondisi adalah berisiko terkena kanker paru-paru. Apabila seseorang terpapar kabut asap dalam jangka panjang, maka orang yang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker paru-paru, sekalipun dia bukan perokok. Karena, kabut asap mengandung banyak partikel penyebab kanker (karsinogen).

Kabut asap yang berkepanjangan tidak hanya menimbukan gangguan pada saluran napas dan organ dalam saja. Polusi udara dan kabut asap juga dapat merusak kulit. Kabut asap dapat merusak kulit dengan cara menimbulkan iritasi dan peradangan pada jaringan kulit. Diantaranya meningkatkan risiko penuaan dini kulit, jerawat, kanker kulit, dan memberatnya gejala eksim dan psoriasis, hingga kanker kulit.

Resiko berbahaya kabut asap pada bayi, anak-anak, dan manula akan lebih kelihatan danpaknya. Pasalanya  mereka adalah kelompok paling rentan terhadap efek kabut asap. Perlu dicatat, bahwa efek buruk kabut asap berbeda-beda pada tiap individu.

Hampir setiap tahun Indonesia diselimuti kabut asap. Bahkan kabut dampak kabut asap dirasakan hingga lain wilayah dan lain negara. Ada sesuatu yang menjadi tanda tanya, faktor apa yang menyebabkan terjadinya karhutla? Apakah ini unsur untuk memudahkan membuka lahan perkebunan baru? Dengan tanpa menangani hutan secara besar-besaran. Bukankah teknologi canggih bisa digunakan untuk menghentikan karhutla, dengan membuat hujan buatan. Lantas mengapa masih terkesan adanya 'mengulur waktu' untuk menanganinya?

Wallahu alam bisawab

Pengirim: Sunarti, bidan dan pengusaha asal Ngawi

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA