Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

CEO Boeing Diminta Jelaskan Grounded 737 MAX ke Parlemen AS

Rabu 18 Sep 2019 08:26 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Foto: AP Photo/Ted S. Warren
Boeing akan menyampaikan penjelasan ke Parlemen AS pada akhir Oktober mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINTON -- Parlemen Amerika Serikat meminta CEO Boeing, Dennis Muilenburg serta Kepala Teknisi John Hamilton untuk menjelaskan masalah larangan terbang sementara pesawat Boieng 737 MAX yang masih berlangsung di seluruh dunia. Para pimpinan Boeing diminta bersaksi di depan parlemen.

Sebagaimana dilansir Bloomberg, Rabu (18/9), Ketua Komisi khusus Transportasi dan Infrastruktur, Peter DeFazio mengatakan, parlemen mengundang pihak Boeing untuk datang pada sidang yang bakal di gelar 30 Oktober 2019. Boeing 737 MAX yang merupakan model terlaris belum mendapatkan kejelasan setelah di larang terbang pasca dua kecelakaan tragis terjadi.

Sidang pada Oktober mendatang tepat satu hari setelah peringatan satu tahun kecelakaan 737 MAX di lepas pantai Indonesia 2018 lalu. Permintaan parlemen tersebut bisa meningkatkan ketegangan antara keduanya.

Pada Kamis (12/9) lalu, komisi telah merilis keterangan resmi yang mengumumkan bahwa meminta karyawan Boeing untuk diwawancara. Boeing kemudian menjawab bahwa perusahaan sangat kecewa dan menganggap keterangan resmi tersebut seperti "korespondensi pribadi".

Soal pertemuan pada 30 Oktober mendatang, pihak Boeing menyatakan telah menerima undangan parlemen dan tengah meninjau undangan tersebut. "Kami akan terus bekerja sama dengan kongres dan otoritas pengawas karena kami fokus untuk mengembalikan Max dengan aman ke layanan," kata Boeing seperti dikutip dai Bloomberg.

Sebagai informasi, dua kecelakaan 737 MAX yang terjadi di Indonesia dan Ethipia total menewaskan 346 orang. Dalam kedua kasus tersebut, diduga akibat kegagalan fungsi sistem kontrol penerbangan otomatis.

Boeing telah mengantisipasi bahwa pilot dapat merespons keadaan darurat. Namun, kru pesawat dalam dua kasus itu kehilangan kendali.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA