Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Ibnu Firnas dan BJ Habibie, Bapak Inovasi Muslim

Selasa 17 Sep 2019 21:56 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

BJ Habibie

BJ Habibie

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Ibnu Firnas dan Habibie adalah muslim yang sama-sama berinovasi di bidang penerbangan

Islam banyak melahirkan tokoh-tokoh peradaban yang memberikan sumbangsih  bagi kehidupan umat manusia. Diantara  tokoh muslim yang direkam  oleh dunia yang memberikan sumbangsih besar adalah Abbas Ibnu Firnas dan Profesor BJ Habibie. Kedua tokoh tersebut  bersumbangsih luar biasa pada dunia penerbangan.

Ibnu Firnas adalah manusia yang  pertama kali melakukan uji coba penerbangan. Pengakuan tersebut disebutkan sejarawan Barat, Philip K Hitti, dimana Philip mencantumkan nama Abbas Ibn Firnas sebagai manusia pertama dalam sejarah yang melakukan uji coba penerbangan ketika ia menerbitkan buku berjudul History of the Arabs.

Pada 875 Masehi, Ibnu Firnas telah menciptakan sebuah desain pesawat berbahan kayu, dilengkapi dengan kedua sayap yang dirajut dengan sutra dan bulu-bulu. Kala itu, ia mengundang masyarakat Cordoba untuk turut menyaksikan aksi penerbangan perdananya. Ibnu Firnas memilih titik tolak  Bukit Jabal Al-Arus (Mount of the Bride) di daerah Rusafa, dekat Cordoba. Sebelum terjun, Ibnu Firnas dikisahkan sempat mengucapkan kalimat perpisahan guna mengantisipasi jika penerbangannya gagal dan ia harus menjemput ajalnya.

Namun, ternyata firasatnya tak terbukti. Setelah terjun dari Bukit Jabal Al-Arus, Ibnu Firnas berhasil menerbangkan pesawat kayunya. Ia mengudara di langit Cordoba sekitar 10 menit.

Kendati demikian, Ibnu Firnas tampaknya memang belum memikirkan proses pendaratan yang tepat. Saat hendak mendarat, ia tak mampu mengontrol kecepatan pesawatnya yang mengakibatkan dirinya terempas ke tanah dan mengalami cedera serius.

Namun, kecelakaan itu memberi pelajaran tersendiri untuk Ibnu Firnas. Ia menyadari bahwa desain pesawatnya belum dilengkapi bagian untuk memperlambat kecepatan. Seekor burung harus menggunakan sayap dan ekornya untuk menahan laju kecepatannya. Hal itu disadari oleh Ibnu Firnas bahwa dia luput atau tak merancang bagian ekor untuk pesawatnya.

Kendati menyadari hal tersebut, Ibnu Firnas tak mampu menciptakan pesawat lain dengan desain yang lebih sempurna. Hal itu disebabkan kondisi kesehatannya yang kian memburuk pasca gagalnya uji coba pesawat perdananya. Akhirnya ia pun meninggal pada 887 Masehi, 12 tahun setelah insiden tersebut (Republika.co.id, Jumat, 22/02/2019).

Atas dasar ini, Ibnu Firnas disebut sebagai peletak dasar dari teori penerbangan atau aerodinamika yang pertama. Lalu, pengalaman atau uji coba penerbangan yang dilakukan Ibnu Firnas menjadi bahan pelajaran dan kajian bagi ilmuwan-ilmuwan berikutnya.

Hingga pada abad ke-19 berhasil ditemukan pesawat dengan perlengkapan mesin penerbangan oleh Wright Bersaudara, yakni Orville Wright dan Wilbur Wright sebagai tokohnya.  Rancangan mereka bernama Flyer, Wright Bersaudara sukses mengudara di sekitar Amerika Serikat pada 1903. Namun, perlu diingat bahwa jauh sebelum itu, Ibnu Firnas sudah lebih dulu berhasil terbang mengudara sebelum Wright. Maka, apa yang diletakkan oleh Ibnu Firnas disebut sebagai 'invention'. Invention merupakan suatu hal yang benar-benar baru, yang belum pernah ada sebelumnya, benar-benar hasil kreasi manusia yang belum pernah dijumpai atau ditemukan sebelumnya.

Kemudian, dalam pengembangan teknologi pesawat terbang, tentu dunia tidak akan luput dari nama Prof. Bacharuddin Jusuf Habibie. BJ Habibie adalah penemu teori keretakan pesawat atau crack progression (techno.okezone.com, Kamis, 12/09/2019).

Pada awal 1960-an, musibah pesawat terbang masih sering terjadi karena kerusakan konstruksi yang tak terdeteksi kelelahan pada bodi pesawat yang masih sangat sulit terdeteksi karena keterbatasan alat. Saat itu, belum ada pemindai dengan sensor laser yang didukung unit pengolah data komputer untuk mengatasi persoalan rawan tersebut. Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat atau antara sayap dan dudukan mesin.

Ketika menyentuh landasan, bagian ini pula yang menanggung empasan tubuh pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itulah awal dari keretakan atau crack. Kalau tidak terdeteksi, taruhannya jelas harga mahal, karena sayap bisa sontak patah saat pesawat tinggal lepas landas.

Habibie kemudian menemukan bagaimana rambatan titik crack itu bekerja. Perhitungannya sungguh rinci, sampai pada hitungan atomnya. Perhitungan itu dikenal dengan Teori Habibie, Fungsi Habibie, dan Faktor Habibie. Dengan perhitungan titik crack maka keretakan pesawat dapat dihindarkan dengan penggunaan bahan dan konstruksi pesawat yang tepat.

Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang. Dalam dunia penerbangan, terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie.

Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10 persen dari bobot sebelumnya. Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25 persen setelah Habibie menyusupkan material komposit ke dalam tubuh pesawat.

Lalu, Faktor Habibie  berperan dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian kerangka (konstruksi) pesawat. Sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara saat tubuh pesawat lepas landas. Begitu pula dengan landing gear yang akan jauh lebih kokoh, sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat. Demikianlah,  pesawat lebih memiliki ketahanan ketika mengudara, dan tercegah dari kehancuran selama penerbangan, perjalanan mengudara hari ini pun menjadi lebih aman. 

Berdasarkan hal tersebut, maka teori keretakan pesawat BJ Habibie disebut penemuan 'innovation' yakni bentuk penemuan untuk proses pengembangan dan penyempurnaan dari teori penerbangan yang sudah ditemukan sebelumnya. Baik invention Ibnu Firnas atau innovation BJ Habibie, keduanya berhasil memukau dunia. 

Keduanya dapat disebut sebagai bapak invention dan bapak innovation muslim. Karena, kedua tokoh muslim tersebut telah berjasa besar atas dunia penerbangan dan menjadikan penemuan mereka sangat bermanfaat untuk seluruh umat manusia. Semoga menjadi inspirasi bagi umat Islam hari ini. 

Oleh : Shela rahmadhani, penulis artikel

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA