Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Kisah Emak-Emak Berebut Rendang

Selasa 17 Sep 2019 18:42 WIB

Red: Sammy Abdullah

Abdullah Sammy

Abdullah Sammy

Foto: Republika/Daan Yahya
Pendidikan tentang dunia maya mendesak untuk diterapkan di sekolah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Abdullah Sammy

Jangankan politik, urusan rendang saja bisa membuat geger satu negeri! Inilah kisah yang sedang viral pekan ini di dunia maya. Kisah tentang dua ibu alias emak-emak yang nyaris baku hantam ketika mengantre makanan saat hajatan.

Sulit berkata-kata menyaksikan video itu. Sulit pula menahan tawa. Singkat cerita kisah ini bermula dari protes seorang ibu yang sedang mengantri makan dalam sebuah hajatan.

Si ibu yang berada di posisi belakang protes karena ibu di depannya mengambil rendang dalam porsi raksasa. Ibu yang dikritik tidak terima. Dia balik menuding ibu di belakangnya menyerobot antrean.

Dari adu mulut, duel rendang kondangan itu kemudian berujung ke aksi fisik saling dorong. Aksi kedua ibu yang kemudian tersebar di media sosial itu memancing komentar warganet yang tak kalah lucu.

Salah satu warganet mengkritisi ibu yang mengambil rendang dangan porsi yang tak kira-kira. "Anjay rendang tinggal dikit dikeruk semua. Sampe bumbunya dikerok abis gak dikasih ampun," komentar salah satu warganet, Ezra Ebe.

Ada pula Nurizaldi Aldi yang berkomentar via Youtube; "Gua liat dipiring si ibu banyak banget rendang sampe ga pake nasi. Gua doain pas dimakan bukannya daging tapi lengkoas semua. Pelajaran buat kita anak-anak muda nanti kalo nikah jangan bikin rendang dah, ayam suir aja. Daripada ada korban jiwa," tulisnya.

Sontak semua jadi heboh. Media tak ketinggalan memberitakannya.

Saat pertama kali melihat video itu, saya tertawa lepas. Tapi setelah berkali-kali memutar video itu, saya pun curiga. Apakah video itu asli atau hanya settingan semata?

Sebab ada beberapa sisi yang cukup aneh bagi sebuah video yang direkam spontan. Keanehan pertama adalah suara direkam dengan volume sangat stabil, meski si perekam video terus bergerak. Sisi yang aneh adalah porsi rendang yang diambil si ibu yang rasanya tak masuk akal untuk dilahap satu orang, bahkan untuk satu keluarga.

Keanehan lainnya adalah suara orang di belakang yang begitu kompak menegur kedua ibu saat klimaks perseteruan. Kecurigaan dalam video itu juga tak terlepas profil salah satu ibu yang merupakan salah satu bintang iklan di layar kaca.  

Dari analisis fakta-fakta itu, kita bisa mengambil sebuah hipotesis bahwa video itu adalah sebuah rekayasa. Terlepas dari motif dari penyebaran video itu, lagi-lagi media sosial membuktikan kekuatannya.

Sebuah video yang belum terkonfirmasi saja bisa buat geger satu negeri. Orang maupun media berani mengambil kesimpulan atas video yang belum jelas asalnya. Walhasil disinformasi tersebar dengan begitu cepat. Masyarakat pun jadi sulit membedakan mana hoax dan asli.

Segala fenomena ini menandakan betapa pentingnya pendidikan dalam menyaring informasi di sosial media. Sebab di era media sosial saat ini, unggahan hoax yang terus disebar dari satu netizen ke netizen lain pada akhirnya bisa dianggap sebagai kebenaran. Tak pelak masyarakat jadi terancam tersesat pada arus informasi palsu.

Beruntung jika informasi palsu itu hanya sekadar gimmick produk, bagaimana jika informasi itu bermuatan hal sensitif, seperti SARA? Karena itu, penting rasanya untuk menyosialisasikan kepada masyarakat cara untuk menyaring informasi di media sosial. Hal yang paling pertama adalah darimana video ini tersebar dan siapa yang menyebarkan.

Jika ada informasi yang viral, kita perlu memeriksa identitas akun yang membuatnya viral. Apakah akun resmi atau tidak jelas? Jika akun penyebarnya tidak jelas kita patut curiga bahwa itu hoax.

Celakanya penyebar konten hoax kerap berupa institusi media. Karena itu langkah kedua yang tak kalah penting adalah mengkritisi media yang menyebarkan informasi. Sebab dalam media jurnalistik ada standar yang mesti dipenuhi.

Jika konten itu berbentuk video, pastinya media wajib memuat penjelasan dari narasumber yang bisa berupa saksi atau pelaku. Jika narasumbernya tidak jelas maka kita bisa mencurigai keaslian konten tersebut.

Di sisi lain, kita juga patut mencurigai konten yang punya sifat too good to be true (terlalu sempurna untuk menjadi sebuah kenyataan), too sad or bad to be true (terlalu menyedihkan atau buruk sebagai sebuah kenyataan) atau too funny to be true (terlalu lucu untuk menjadi sebuah kenyataan).

Nah untuk karakter video rendang punya muatan seperti sifat terakhir. Sebab terlalu lucu melihat dua emak-emak saling jotos karena urusan rendang kondangan. Terlalu lucu juga jika melihat porsi di piringnya.

Langkah lanjutan yang bisa dilakukan setelah itu adalah dengan mengecek di sejumlah aplikasi atau grup anti-hoax. Ini seperti Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. Itulah langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat agar tidak menjadi korban kesesatan informasi di media sosial.

Pada akhirnya, pendidikan melawan hoax memang sudah menjadi kebutuhan. Karena itu penting bagi pemerintah untuk menyisipkan materi tentang dunia maya dalam kurikulum pendidikan siswa. Sejak dini masyarakat perlu disosialisasikan cara menyaring informasi sekaligus berprilaku di dunia maya.

Dengan jalan itu kita bisa membentuk sistem proteksi akan setiap hoax yang bertebaran di dunia maya. Hoaks perlu penanganan segera. Sebab hoax tidak sekadar menganggu arus informasi, melainkan bentuk pelanggaran hak asasi. Ini terutama hak masyarakat atas informasi yang diatur dalam Pasal 19 Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Konvensi Internasional tentang Hal Sipil-Politik. Hoaks juga dapat mengganggu nalar berpikir rasional.

Dengan memasukkan materi pendidikan dunia maya sejak bangku sekolah diharapkan muncul sistem peringatan dini saat menerima informasi. Sehingga setiap informasi yang diterima tak lantas langsung dipercaya dan ikut disebarkan ke sosial media.

Pendidikan tentang dunia maya adalah jalan utama mencegah hoax sejak dini. Sebab mencegah jatuhnya korban hoax akan selalu lebih baik dibanding mengobatinya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA