Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Harga Minyak Dunia Naik, Menkeu Soroti Dampak Dalam Negeri

Selasa 17 Sep 2019 12:31 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolanda

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kanan) mengikuti rapat terbatas tentang Percepatan peta jalan penerapan industri 4.0 di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kanan) mengikuti rapat terbatas tentang Percepatan peta jalan penerapan industri 4.0 di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Yang harus diperhatikan ialah dampak jangka menengah panjang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fasilitas minyak milik Arab Saudi Aramco di Abqaiq dan Khurais diserang pesawat drone, akhir pekan lalu. Menanggapi kejadian tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pihaknya akan mencermati dampak harga minyak mentah dunia terhadap harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP).

“Kalau dilihat dari APBN asumsi selama ini kan malah lebih rendah. Kami melihat bahwa, pertama kalau koreksi yang sifatnya jangka pendek mungkin masih bisa akan terserap,” ujarnya di Gedung Dhanapala, Jakarta, Senin (17/9).

Menurutnya persoalan ini juga harus diperhatikan lantaran pemerintah dalam menjalankan dan mengelola perekonomian kerap muncul banyak faktor yang menimbulkan ketidakpastian. Semisal, geopolitik, politik serta ketidakpastian yang berasal dari kebijakan pemerintah.

“Yang harus kita perhatikan mungkin lebih kepada dampak jangka menengah panjang yaitu dinamika stabilitas keamanan dan politik di Timur Tengah karena ini biasanya yang selama ini terjadi, ketegangan dan perang itu kan di luar Saudi Arabia yang merupakan pusat besarnya, kalau sekarang sudah ada di dalam,” jelasnya.

Ke depan, pihaknya akan terus mencermati gejolak harga minyak mentah dunia. Saat ini, pemerintah Indonesia fokus melihat reaksi dari pemerintah Arab Saudi dari permasalahan tersebut.

“Kita belum tahu nanti akan seperti apa, karena ini akan merupakan sesuatu yg akan kita lihat reaksinya dari Saudi, dari Amerika serikat, Iran dan segala macem yang merupakan suatu kombinasi, yang tidak hanya akan punya sentimen tapi betul-betul konstelasi politik dan keamanan,” ucapnya.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent melejit 8,8 dolar AS atau 14,6 persen menjadi 69,02 dolar AS per barel. Lonjakan tersebut merupakan lonjakan harian terbesar setidaknya sejak 1988. 

Meski melonjak, namun harga minyak mentah itu masih di bawah asumsi ICP dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yakni 70 dolar AS per barel. Pada Agustus 2019, ICP tercatat sebesar 57,26 dolar AS per barel turun 4,05 dolar AS per barel dari bulan sebelumnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA