Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Ekonomi Cina Semakin Melambat

Selasa 17 Sep 2019 12:08 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Pertumbuhan ekonomi Cina melambat.

Pertumbuhan ekonomi Cina melambat.

Foto: Reuters
Pertumbuhan output industri Cina melemah menjadi 4,4 persen pada Agustus lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Perlambatan ekonomi Cina semakin dalam. Pada Agustus, pertumbuhan produksi industri berada pada titik terendah sejak 17,5 tahun terakhir. Kondisi ini terjadi di tengah perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) yang belum menemukan jalan keluar dan pelemahan permintaan domestik.

Dilansir di Reuters, Senin (16/9), penjualan ritel dan pertumbuhan investasi juga memburuk. Ini memperkuat kemungkinan Cina akan memangkas suku bunga utama pada pekan ini guna mencegah penurunan lebih tajam pada kegiatan industri.

Apabila benar terjadi, kebijakan tersebut akan dilakukan Cina untuk pertama kalinya sejak lebih dari tiga tahun terakhir. Ekonomi Cina belum menunjukkan kondisi stabil meskipun sudah ada beberapa upaya peningkatan pertumbuhan sejak tahun lalu.

Para analis mengatakan, upaya itu belum efetif. Beijing perlu mengeluarkan lebih banyak stimulus untuk menangkal perlambatan yang lebih tajam.

Pertumbuhan output industri secara tidak terduga melemah menjadi 4,4 persen pada Agustus 2019 dibanding dengan periode yang sama pada tahun lalu. Laju ini menjadi paling lambat sejak Februari 2002 dan menurun dibanding dengan pertumbuhan Juli, 4,8 persen.

Tren tersebut lebih rendah dibanding dengan proyeksi para analis yang disurvei Reuters. Mereka memperkirakan akan terjadi pertumbuhan sampai 5,2 persen.

Lebih detail, nilai ekspor di industri juga turun 4,3 persen dibanding dengan tahun lalu. Berdasarkan catatan Reuters, ini menjadi penurunan bulanan pertama sejak setidaknya dua tahun lalu. Tren tersebut mencerminkan dampak yang lebih dalam akibat perang dagang antara Cina dengan AS terhadap produsen Cina.

Perang dagang yang berkepanjangan sedang mengalami tensi meningkat secara dramatis pada bulan lalu. Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif baru untuk barang-barang Cina mulai 1 September. Beberapa hari kemudian, Cina membiarkan mata uang yuan melemah tajam.

Kedua belah pihak berencana melakukan negosiasi tatap muka pada awal Oktober. Tapi, sebagian besar analis memprediksi, pertemuan tersebut tidak akan menghasilkan kesepakatan perdagangan bersifat jangka panjang. Atau, dalam waktu dekat, diproyeksikan tidak akan ada penurunan tensi antar kedua negara.

Untuk mengantisipasi dampak yang semakin dalam, dunia usaha mengharapkan bank sentral dapat menurunkan suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah (medium term loan facility rate/MLF) secepatnya. Ini akan membuka jalan bagi pengurangan tingkat suku bunga acuan (loan prime benchmark rate/LPR).

Beberapa analis mengatakan, dalam beberapa pekan terakhir, pertumbuhan ekonomi Cina sudah menyentuh batas bawah, 6-6,5 persen. Pada kuartal kedua kemarin, pertumbuhan hanya mencapai 6,2 persen, terlemah dalam kurun waktu tiga dekade.

Kepala ekonom Cina di Nomura, Ting Lu, memperkirakan pertumbuhan industri masih akan melambat pada September. Faktor utamanya, kampanye anti polusi pada sebelum dan selama peringatan berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober mendatang.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA