Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Mitsubishi Perluas Investasi 130 Juta Dolar AS di Indonesia

Senin 16 Sep 2019 17:31 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda

Mitsubishi Chemical Corporation

Mitsubishi Chemical Corporation

Foto: Mitsubishi Chemical Corporation
Perluasan berupa pembangunan fasilitas baru untuk meningkatkan kapasitas produksi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu perusahaan terbesar Jepang, Mitsubishi Chemical Corporation (MCC) berencana memperluas investasi di Indonesia melalui anak perusahaannya, PT MC PET Film Indonesia (MFI). Perluasan berupa pembangunan fasilitas baru untuk meningkatkan kapasitas produksi polyester film ini difasilitasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Kepala BKPM Thomas Lembong menyatakan, berbagai upaya untuk meningkatkan penanaman modal dan juga pelayanan kepada investor terus dilakukan. Hal ini merupakan kerja nyata yang dilakukan oleh seluruh jajaran di BKPM dalam menjalankan visi Presiden RI Joko Widodo untuk melayani investor baik asing maupun domestik secara lebih baik.

Di era persaingan saat ini, Thomas menambahkan, pelayanan dan kemudahan bagi investor menjadi faktor yang sangat penting bagi mereka untuk memutuskan berinvestasi. "Kami selalu menyambut baik investasi-investasi yang masuk dan kami fasilitasi sebaik mungkin kebutuhan mereka," ujarnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (16/9).

Peningkatan kapasitas produksi polyester film sesuai dengan meningkatnya permintaan pada bidang industri polyester film, terutama di Eropa. Rencananya, perluasan akan selesai pada akhir 2021 dengan nilai investasi sebesar 130 juta dolar AS. MCC telah memproduksi polyester film untuk aplikasi optik, industri dan pengemasan pada lima fasilitas produksi berlokasi di Jepang, Cina, Indonesia, Amerika Serikat, dan Jerman.

Sementara itu, Direktur Promosi Sektoral BKPM Imam Soejoedi menyatakan, setidaknya tercatat ada delapan perusahaan yang sedang dalam tahap serius mempertimbangkan usaha di Indonesia. "Di antaranya di sektor otomotif, kimia dasar, makanan dan minuman, pembangkit listrik, dan jasa lainnya," katanya.

Imam mengatakan, tingginya minat tersebut tidak terlepa dari upaya pemerintah mengeluarkan insentif penanaman modal tax holiday tahun lalu. Dengan mekanisme yang baru, tidak sedikit perusahaan memperhitungkan investasi skala besarnya di Indonesia.

Perusahaan tersebut terdiri dari investor loyal yang ingin melakukan perluasan dan juga investor baru. Khususnya untuk investor Jepang, kabar disetujuinya satu perusahaan Jepang yang mendapatkan tax holiday sangat cepat menyebar di kalangan pengusaha.

Di pasar polyester film, MCC mengantisipasi pertumbuhan berkelanjutan dalam aplikasi optik untuk tampilan. Selain itu, permintaan polyester film terutama untuk proses pembuatan komponen elektronik menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa.

Presiden Direktur PT MFI Bambang H Sastrosatomo menuturkan, tren polyester film juga didasari atas perluasan penggunaan komponen elektronik dalam industri otomotif dan peningkatan produksi komponen elektronik. "Seperti Multilayer Ceramic Capacitors (MLCCs) yang didorong oleh meningkatnya jumlah BTS yang kompatibel dengan 5G dan peningkatan yang berkelanjutan dalam peralatan telekomunikasi," ucapnya.

MFI telah bekerja untuk memenuhi kenaikan permintaan pasar dengan meningkatkan efisiensi pabrik saat ini dan langkah-langkah lainnya, dan mampu memproduksi 20.000 ton polyester film setiap tahunnya. Akan tetapi, dengan pertimbangan proyeksi pertumbuhan permintaan, MFI memutuskan untuk membangun fasilitas baru dengan skala 25.0000 ton per tahunnya. Artinya, kapasitas produksi mereka tumbuh lebih dari dua kali lipat, yaitu menjadi 45.0000 ton.

Menurut data BKPM, Jepang merupakan negara investor kedua terbesar di Indonesia dalam lima tahun terakhir. Total realisasi investasi mereka mencapai 23,3 miliar dolar AS. Sedangkan,realisasi investasi Jepang di kuartal kedua 2019 mencapai 1,22 miliar dolar AS.

Investasi asal Jepang didominasi sektor peralatan transportasi dan transportasi lainnya (28 persen) dan listrik, gas dan air (22 persen). Sebagian besar investasi dari Jepang masih berada di Pulau Jawa (94 persen) dan Sumatera (5 persen).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA