Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Gairah Startup Pendidikan dan Secercah Harapan

Ahad 15 Sep 2019 21:32 WIB

Rep: Teguh Firmansyah/ Red: Agung Sasongko

 Siswa belajar dengan duduk di lantai di SMU Negeri Nunukan Selatan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Senin (5/1). (Antara/M Rusman)

Siswa belajar dengan duduk di lantai di SMU Negeri Nunukan Selatan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Senin (5/1). (Antara/M Rusman)

Startup membantu memperluas akses pendidikan hingga ke pelosok daerah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di lantai tiga sebuah ruko di daerah Pejaten Timur, Jakarta Selatan, Robert Edy Sudarwan (30 tahun) duduk santai sambil sesekali menyeruput kopi hitam yang masih panas. 

Matahari perlahan mulai turun. Namun Robert tetap terlihat bersemangat berbicara panjang lebar soal startup atau usaha rintisan digital yang baru dirintisnya sejak 2017 lalu. Untuk lebih meyakinkan Robert bahkan membuka aplikasi itu dari layar telepon pintarnya.

Baca Juga

Dengan jarinya yang lincah, ia menggeser satu per satu fitur aplikasi startup yang ia beri nama GreatEdu. Usaha rintisan ini fokus di sektor pendidikan dengan mengusung ide sebagai 'Marketplace Pendidikan' pertama di Indonesia.

Mengapa ia sebut marketplace, karena lewat usaha rintisan ini, pengajar dan siswa bisa bertemu secara langsung dan belajar sesuai tema atau topik yang diinginkan. Guru bisa mempromosikan tentang kemampuan atau keahlian yang dimiliki. Sebaliknya siswa dapat mencari tahu dan memilih pengajar mereka. "Kita ingin akses maupun pendidikan dibuka seluas-luasnya," ujar Robert ketika berbincang dengan Republika.co.id, Kamis (5/9).

Robert terdiam sesaat. Ia kembali menyeruput kopi hitamnya dari sebuah cangkir di atas meja kecil persegi. Semua ini, ungkap Robert, dimulai pada Desember 2016 lalu. Saat itu bersama rekannya, ia mendirikan sebuah bimbingan belajar (bimbel) di daerah Rawajati, Jakarta Selatan.

Garasi kontrakan ia sulap jadi ruang belajar dan baca. Robert mengajar dari murid awalnya hanya lima orang yang mayoritas anak di sekitar kontrakan tersebut.

Siswa yang belajar kemudian meningkat pesat hingga lebih dari 30 orang dan menyentuh 100 murid. Tidak hanya di ruang kelas, tapi ada juga yang belajar privat langsung ke rumah. "Pengajar dari awalnya dua, empat sampai 30," ujar pria yang kini sedang menempuh S3 di Universitas Negeri Jakarta itu.

Dari sebuah bimbel inilah mimpi besar ini lahir. "Bagaimana kalau kita buat sebuah platform yang memudahkan pengajar dan murid bertemu dan belajar," katanya.

Dimulai dari bangun situs, ia perlahan membangun aplikasi dan akhirnya bisa diluncurkan pada Maret 2018. Saat ini, kata Robert aplikasi sudah diunduh oleh 600 ribu pengguna dengan user aktif menembus 36 ribu.  Ia berharap dalam satu periode ke depan akan ada satu juta user aktif. Karena itu, GreatEdu akan menggencarkan strategic partnership dan digital marketing. 

photo

Peluncuran aplikasi GreatEdu, aplikasi pertama yang mengusung konsep Digital Crowd Learning, pada Sabtu (31/3).

Robert mengungkapkan, GreatEdu tak hanya mempertemukan langsung antara guru dan murid, tapi juga memiliki fitur lain seperti GreatPedia. Melalui fitur ini guru bisa membagikan materi pelajarannya baik secara gratis maupun berbayar.  Selain itu, para pengguna juga bisa membagikan buku yang mereka punya secara gratis.

GreatEdu juga memiliki fitur lain untuk latihan soal. Siswa bisa belajar mengerjakan soal, dan guru bisa dilibatkan langsung untuk pembuatan tes. "Jadi semua benar-benar dilibatkan," ujar Robert.

Tujuan akhir dari aplikasi ini, kata Robert, adalah pemerataan pendidikan. Ia ingin semua orang dapat mengakses pelajaran baik di daerah maupun kota. Tidak ada lagi kesenjangan untuk mengakses informasi. 

Belajar online

Robert bukanlah orang pertama yang membangun startup di dunia pendidikan. Pada 2013 lalu, sebuah aplikasi pendidikan HarukaEdu telah lahir dengan visi yang hampir sama yakni membantu untuk meningkatkan akses maupun kualitas pendidikan di Indonesia.  Bedanya dengan GreatEdu, HarukaEdu fokus untuk belajar secara online (daring), baik itu kuliah daring maupun kursus daring.  

Pendiri HarukaEdu Novistiar Rustandi mengungkapkan, HarukaEdu kini telah bekerja sama dengan 18 universitas di 17 kota di antaranya di Jakarta, Bandung, Semarang, Tangerang, Bali, Malang, dan Sukabumi.   Mereka yang ikut kuliah online ini sudah mencapai 7.000 orang. "Dan mereka sangat terbantu dengan aplikasi yang kami buat ini," ujarnya.

HarukaEdu, kata Novistiar, sejak awal memang ingin menolong mereka yang sudah kerja, tapi kesulitan untuk kuliah. Berdasarkan survei yang pernah dilakukan ketika awal usaha rintisan ini dibentuk, mayoritas persen responden ingin kerja sambil kuliah secara online.

"Jadi kami bantu mempertemukan antara kampus dan para lulusan SMA/SMK ini yang ingin belajar lagi," ujarnya, kepada Republika.co.id.

Untuk mereka yang ingin mendaftar kuliah online bisa melalui aplikasi Pintaria. Aplikasi tersebut memberikan informasi rinci kampus mana saja yang dapat melayani kuliah secara online.

photo

CEO sekaligus Co-founder HarukaEDU, Novistiar Rustandi saat peluncuran Pintaria.com di Jakarta, Selasa (24/7)

Namun kendati kuliah daring, kampus tetap memberlakukan pelajaran-pelajaran yang harus bertemu secara tatap muka (kuliah offline). Perbandingannya yakni 51 persen online dan 49 persen offline.  "Jadi di hari biasa mereka kerja dan kuliah online, kemudian pada akhir pekan mereka kuliah offline," jelasnya.

Keuntungan lain dengan kuliah daring ini, biayanya jauh lebih murah. Misal, di salah satu universitas, jika menggunakan tarif normal, maka biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 160 juta.

Namun lewat kuliah daring ini, mereka hanya perlu sekitar Rp 60 juta untuk memperoleh gelar sarjana. Jadi secara keuangan cukup membantu juga bagi para calon mahasiswa dengan dana terbatas. "Target kita memang mereka yang kerja, tapi ingin punya gelar sarjana," jelasnya.  

Tak hanya kuliah online, kursus daring juga diminati oleh banyak peserta. Ada sekitar 50 ribu orang yang memanfaatkan kurus daring. Sama dengan kuliah online, sebagian pelajaran juga harus tetap dijalani secara offline.

Untuk memudahkan calon peserta, HarukaEdu menyediakan daftar profesi yang sedang banyak dibutuhkan beserta kisaran gajinya di aplikasi Pintaria. Dengan begitu, bisa memudahkan konsumen yang ingin mengambil kursus.

Novistiar mengaku tak khawatir dengan munculnya startup-startup baru di sektor pendidikan. Justru, kata ia, startup ini bisa saling melengkapi satu sama lain dan bekerja sama dengan pemerintah untuk mendorong kemudahan akses dan peningkatan mutu kualitas pendidikan di Indonesia.  "Edukasi ini yang perlu kita sadarkan, bukan hanya sekedar membeli dan menjadi konsumtif," ujarnya.

Satu lagi startup pendidikan yang sedang menjadi pembicaraan adalah Ruang Guru. Usaha rintisan ini disebut-sebut akan menjadi Unicorn kelima di Indonesia bersanding dengan Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.

Sejalan dengan HarukaEdu maupun GreatEdu,  Ruang Guru juga berawal dari keresahan terhadap kualitas pendidikan Indonesia. Dua pendiri Ruang Guru, Adamas Belva Syah Devara dan Iman Usman bercita-cita untuk  melakukan revolusi pendidikan di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi. Keduanya ingin gawai dapat benar-benar dimanfaatkan untuk pendidikan.

Ruang Guru memiliki fitur seperti RuangBelajar, RuangLes, RuangUji, DigitalbootCamp, RuangLesOnline, hingga RuangBaca.  Humas Ruang Guru Sekar Krisnauli mengungkapkan, sekarang sudah ada sekitar 15 juta pengguna yang terdaftar dan sebanyak 300 ribu guru terlibat.  Ruang Guru sudah bekerja sama dengan pemerintah daerah di 32 provinsi dan berkolaborasi dengan lebih dari 326 pemerintah kabupaten/kota untuk memperluas akses terhadap Ruang Guru.

"Di wilayah manapun asal ada jangkauan internet bisa di seluruh  Indonesia semua bisa memanfaatkan Ruang Guru," ujar Sekar.

Baca juga,  Ruang Guru, Inspirasi Milenial Naikkan Kualitas Pendidikan.

Ruang Guru, lanjut Sekar, juga memiliki berbagai macam kerja sama dengan pegiat industri swasta dalam rangka perluasan akses produk Ruang Guru. Untuk menjangkau anak-anak tidak mampu, Ruang Guru memberikan beasiswa dengan menggandeng sejumlah pihak."Salah satunya dengan Adaro Capital terkait pemberian beasiswa Ruang Guru," ujarnya. 

Beasiswa diberikan kepada lebih dari 1.800 guru di 15 kota/kabupaten dan 1.800 siswa di 12 kota/kabupaten. Beasiswa tersebut yakni berupa akses belajar di Ruang Guru selama 1 tahun untuk siswa-siswi berprestasi kurang mampu dan guru berprestasi.

Sejalan program pemerintah

Tumbuhnya startup pendidikan sejalan dengan program pemerintah setidaknya dari dua hal. Pertama yakni program Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital yang digagas oleh Kemenkominfo sejak 2016. Kedua, startup pendidikan seirama dengan program Presiden Joko Widodo dalam peningkatan sumber daya manusia.

Jokowi dalam berbagai kesempatan berjanji akan membenahi sumber daya manusia (SDM) di Indonesia dalam periode keduanya. Ia pun sangat mendukung sekali pertumbuhan startup di Tanah Air.

Jokowi berharap Indonesia lebih banyak lagi memiliki perusahaan Unicorn. Unicorn merupakan sebutan bagi startup yang sudah memiliki valuasi lebih dari 1 miliar dolar AS. 

photo

Presiden Joko Widodo memerhatikan motor yang dipajang pada sebuah stan dalam acara Digital Startup Connect 2018 di Jakarta, Jumat (7/12/18). Acara yang disponsori oleh Bank BTN itu merupakan kegiatan bagi perkembangan ekosistem 'startup' (perusahaan rintisan) yang jumlahnya ribuan di Indonesia dan diikuti sekitar 2.000 peserta dari kalangan muda.

 

Kehadiran startup ini, bagi Jokowi, adalah bagian dari kesiapan Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.  Karena itu berbagai inovasi yang melahirkan usaha rintisan baru akan mendapatkan berbagai kemudahan, termasuk dari sisi regulasi. "Kita akan dorong agar ada unicorn-unicorn baru tidak hanya empat," ujarnya.

Khusus dalam hal startup pendidikan, potensinya boleh dibilang masih cukup besar. Menurut Menkominfo Rudiantara startup pendidikan berpeluang tumbuh karena pemerintah mengalokasikan 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanjanya untuk pendidikan.

Pada 2020 anggaran pendidikan dialokasikan sebesar Rp 505,8 triliun. Alokasi itu naik 2,7 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 492,5 triliun. Hal tersebut tentu menjadi perhatian bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya di startup pendidikan.

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Inovasi dan Daya Saing Ananto Kusuma Seta mengungkapkan, startup memberi peluang ke masyarakat untuk meningkatkan inovasi di bidang pendidikan. Kehadirannya sulit untuk dibendung seiring dengan pertumbuhan dunia digital

Bagi Kemendikbud, lanjut Ananto, startup pendidikan ini memberikan dua mata sisi. Pertama yakni, startup bagus untuk mengedukasi masyarakat dalam penggunaan teknologi. Kedua startup merupakan cambukan untuk meningkatkan kualitas diri.

Menurutnya, jika usaha rintisan pendidikan sudah masuk hingga pelosok, tentu akan sangat membantu daerah. Kemendikbud sendiri, kata Ananto memiliki program ruang belajar digital semacam Ruang Guru yang diberi nama “Rumah Belajar.” 

Layanan bimbingan belajar secara daring ini disediakan khusus secara gratis. Terdapat delapan fitur dari mulai Sumber Belajar, Buku Sekolah Elektronik, hingga Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, dan Kelas Maya. "Semua ini disediakan secara gratis dan sangat bagus manfaatnya," ujar Ananto kepada Republika.co.id.

Ia pun berharap kehadiran startup digital ini dapat mendorong peningkatan akses dan perbaikan mutu pendidikan. Meski, ia mengaku belum mengetahui secara persis pengaruhnya karena munculnya startup ini masih boleh dibilang baru.  "Saya tak punya studinya, namun kalau jika dilihat dari permintaan yang tinggi berarti ini merupakan hal yang positif." 

Tak sekadar profit

Ananto mendorong agar startup pendidikan tidak sepenuhnya berorientasi profit. Artinya ada substitusi yang menyasar segmen pasar bagi para pelajar tidak mampu. Salah satunya melalui beasiswa pendidikan. "Kita imbau ada substitusi dikawinkan tidak murni privat," ujarnya.

Usulan  senada juga disampaikan Pengamat Pendidikan Doni Koesoema. Ia mengakui pertumbuhan startup digital akan sulit dicegah. Namun yang terpenting adalah bagaimana visi mulia dalam memajukan pendidikan itu yang perlu dikedepankan.

Anak-anak sekolah yang tidak mampu harus benar-benar terjangkau lewat startup ini. Mereka harus bisa mengakses fitur-fitur secara gratis.  "Anak-anak muda perlu punya visi keadilan sosioal," jelasnya kepada Republika.co.id.

Ia juga mendorong pembuatan startup di sekolah-sekolah yang melibatkan langsung antara guru dan murid. Menurutnya startup di sekolah akan sangat efektif karena guru dan murid sudah saling mengenal dan tahu soal pelajaran-pelajaran yang dibahas.  "Dan yang perlu juga diingat adalah penanaman karakter," ujarnya.

Pembangunan pendidikan di Tanah Air masih perlu terus dikembangkan. Inovasi yang disertai dengan visi mulia dibutuhkan agar pendidikan di Indonesia bisa benar-benar maju, dan menyaingi negara-negara  seperti Singapura, Korsel maupun Jepang.

Mimpi-mimpi Robert Edy Sudarwan, Novistiar Rustandi,  Adamas Belva Syah Devara dan Iman Usman dalam membantu memperluas akses dan memperbaiki mutu pendidikan lewat startup di Tanah Air perlu dikolaborasikan dengan program-progam pemerintah. 

Dengan begitu, kerja pendidikan ini adalah kerja bersama. Kerja panjang yang memadukan semua potensi anak bangsa. Kerja yang bermanfaat tidak hanya untuk orang mampu, tapi juga mereka yang penuh keterbatasan. Gairah yang dirasakan dari kota hingga pelosok daerah.  

Seperti yang dikatakan Jokowi, pendidikan adalah jalan panjang yang ditempuh sebuah bangsa yang menghadapi tantangan untuk membangun identitias, karakater, dan martabatnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA