Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Serangan ke Pabrik Minyak Saudi, Dunia Hadapi Krisis Pasokan

Ahad 15 Sep 2019 14:56 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda

Foto satelit pada Sabtu (14/9) menunjukkan asap hitam membubung berasal dari kebakaran di fasilitas pemrosesan minyak milik perusahaan Saudi Aramco di Buqyaq, Arab Saudi.

Foto satelit pada Sabtu (14/9) menunjukkan asap hitam membubung berasal dari kebakaran di fasilitas pemrosesan minyak milik perusahaan Saudi Aramco di Buqyaq, Arab Saudi.

Foto: Planet Labs Inc via AP
Serangan pabrik minyak Saudi memangkas produksi hingga 5,7 juta barel per hari.

REPUBLIKA.CO.ID, HOUSTON -- Dunia menghadapi krisis pasokan minyak atas hilangnya lebih dari 5 persen pasokan global akibat serangan pada Sabtu (14/9) terhadap pabrik pemrosesan utama Arab Saudi. Arab Saudi merupakan pengekspor minyak terbesar dunia.

Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menutup dua pabrik di fasilitas Abqaiq, jantung industri minyak Saudi. Akibatnya, ini akan memangkas produksi minyak Saudi sekitar 5,7 juta barel per hari (bpd). Jumlah ini lebih dari setengah dari output kerajaan, menurut pernyataan dari Saudi Aramco, perusahaan minyak milik kerajaan.

Harga minyak mentah dapat melonjak beberapa dolar AS per barel ketika pasar dibuka pada Ahad malam karena penghentian produksi berkepanjangan. Hal tersebut dapat mendorong Amerika Serikat dan negara-negara lain untuk melepaskan minyak mentah dari cadangan minyak strategis (SPR) mereka untuk meningkatkan stok komersial secara global. Departemen Energi AS mengatakan pada Sabtu bahwa pihaknya siap untuk melepaskan minyak dari cadangan strategisnya jika diperlukan.

"Harga minyak akan melonjak atas serangan ini, dan jika gangguan terhadap produksi Saudi diperpanjang, rilis SPR tampaknya mungkin dan masuk akal," kata Jason Bordoff, direktur pendiri Pusat Kebijakan Energi Global di Universitas Columbia di New York.

Masih terlalu dini untuk mengetahui tingkat kerusakan pada pabrik pengolahan dan rantai pasokan Saudi yang membawa minyak mentah dari ladang minyak ke fasilitas ekspor. CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan perusahaan akan memiliki lebih banyak informasi dalam waktu 48 jam, karena perusahaan itu sedang berupaya untuk mengembalikan produksi minyak yang hilang.

Aramco mengekspor lebih dari 7 juta barel per hari (bph) minyak mentah tahun lalu, dengan hampir tiga perempat dari ekspor minyak mentahnya dikirim ke pelanggan di Asia tahun lalu. Negara ini memiliki cadangan sekitar 188 juta barel, atau kira-kira 37 hari kapasitas pemrosesan Abqaiq, menurut catatan dari Rapidan Energy Group. 

Kapasitas cadangan yang dimiliki oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak untuk memasok konsumen jika terjadi kekurangan produksi yang signifikan telah menurun selama beberapa dekade karena ladang-ladang minyak yang menua telah kehilangan kapasitas produksi.

Sebanyak 2,3 juta barel per hari kapasitas cadangan efektif Arab Saudi pada bulan Agustus menyumbang lebih dari dua pertiga dari persediaan OPEC yang sebesar 3,2 juta barel per hari. Sebagian besar sisanya berasal dari Kuwait dan Uni Emirat Arab, menurut Badan Energi Internasional. Rusia mungkin memiliki kapasitas cadangan menyusul pakta internasional antara OPEC dan sekutunya untuk membatasi produksi dalam mendukung harga minyak mentah, kata para analis. Cadangan Minyak Bumi Strategis AS saat ini memiliki sekitar 644 juta barel, menurut Departemen Energi AS, kira-kira setara dengan 52 hari produksi AS.

Pemadaman berkepanjangan dapat memacu produksi dan ekspor yang lebih tinggi dari AS. Tetapi butuh berbulan-bulan bagi perusahaan AS untuk merespons sinyal harga karena keterbatasan logistik

AS sekarang memproduksi lebih dari 12 juta barel per hari dan mengekspor lebih dari 3 juta barel per hari. Akan tetapi tidak jelas apakah fasilitas ekspor AS dapat menangani pengiriman tambahan.

"Setiap hari fasilitas ditutup, dunia kehilangan 5 juta barel lagi produksi minyak. Kapasitas cadangan dunia bukan 5 juta barel per hari," kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA