Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Ummu Ziyad Merawat Pasukan Muslimin yang Terluka

Ahad 15 Sep 2019 16:06 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Agung Sasongko

Oase (ilustrasi)

Oase (ilustrasi)

Foto: Wordpress.com
Tak banyak sumber yang menceritakan kehidupan Ummu Ziyad.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pada zaman Rasulullah SAW hidup, terdapat sekelompok wanita pemberani yang tak takut menghadapi medan perang. Mereka justru akan bergegas penuh semangat saat mendapati seruan jihad.

Ummu Ziyad merupakan bagian dari kelompok tersebut. Ia bersama enam wanita lainnya turut menerima seruan Rasulullah SAW untuk ber perang.

Mujahidah asal bani Ash Shada'i yang tinggal di Yaman itu ikut dalam pertempuran Khaibar. Perlu diketahui, pertempuran tersebut adalah peperangan umat Islam yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad melawan kaum Yahudi dari bani Qurai dhoh di daerah Khaibar.

Dalam sebuah hadis diceritakan, ketika mengetahui Ummu Ziyad dan enam wanita lainnya akan turut ke perang Khaibar, Rasulullah mendatangi mereka dengan raut wajah marah.

Lantas, Nabi SAW bertanya, "Siapa yang mengizinkan kalian datang ke sini dan dengan siapa kalian datang?" Tak gentar, Ummu Ziyad ber sama Muslimah lainnya menjawab, "Wahai Rasulullah, kami me ngetahui cara membalut luka. Kami keluar mem bawa obat-obatan untuk mengobati mereka yang terluka, mencabut panah dari tubuh mereka, mem beri ma kan dan minum, sekaligus menyiapkan ma kan mereka dan ikut berjuang sekuat tenaga di jalan Allah SWT."

Mendengar kesungguhan Ummu Ziyad dan teman-temannya, Rasulullah akhirnya mengizinkan mereka ikut ke medan perang. "Jika demikian, berangkatlah."

Atas izin Allah SWT, Rasulullah beserta pasukannya berhasil memenangkan Perang Khaibar. Kemudian, beliau membagi kan kurma kepada seluruh pejuang, baik laki-laki maupun perempuan. Rasulullah senantiasa menghargai kontribusi umatnya dalam memperjuangkan agama Allah. Kala itu, peranan perempuan pun sangat penting dalam kebangkitan Islam.

Meski tak berada pada posisi depan pasukan perang, tetapi bagi para mujahidah, berjihad di jalan Allah tak harus berada di arena pertempuran. Melainkan mampu memberikan manfaat sesuai kapasitas yang dimiliki. Hal itu dicontohkan oleh Ummu Ziyad yang dengan sigap menawarkan bantuan di arena pertempuran.

Tak banyak sumber yang menceritakan kehidupan Ummu Ziyad. Satu hal yang pasti, keberanian serta ketakwaan shaha biyah tersebut dapat menginspirasi para wanita di masa kini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA