Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

IMF: Ekonomi Global Masih Jauh dari Resesi

Ahad 15 Sep 2019 10:38 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Ani Nursalikah

Gedung Dana Moneter Internasional (IMF) Washington DC

Gedung Dana Moneter Internasional (IMF) Washington DC

Foto: EPA/MATTHEW CAVANAUGH
Ketegangan perdagangan AS-China membebani petumbuhan ekonomi dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China dan sejumlah negara lainya membebani petumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Tapi, International Monetary Fund (IMF) menyebutkan kondisi ini masih jauh dari resesi global, Jumat (13/9).

Sebelumnya, IMF memperhitungkan perang tarif yang sudah dan akan diberlakukan antara AS dengan China dapat memangkas 0,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global tahun depan, Kamis (12/9). Tren juga memperlihatkan akan muncul berbagai kerugian ekonomi lainnya di tahun-tahun mendatang.

Salah seorang pejabat IMF mengatakan, ketegangan perdagangan berpotensi memperlambat pertumbuhan. Tapi, ia tidak melihat ada potensi resesi sampai dengan saat ini. "Saya pikir, kita masih jauh dari itu (resesi)," ujarnya, Sabtu (14/9).

Pejabat itu menyebutkan, aktivitas manufaktur dunia memang mengalami perlemahan. Di sisi lain, ia masih melihat pertumbuhan di sektor jasa dan kepercayaan konsumen terus meningkat. Pertanyaannya, berapa lama kondisi ini dapat bertahan. IMF berkomitmen memantau tiap indikatornya secara cermat.

IMF mengeluarkan prospek ekonomi dua kali setahun, bertepatan dengan pertemuan musim semi dan musim gugur. Dalam prospek tersebut, IMF memperkirakan PDB global untuk tahun berjalan dan tahun berikutnya.

Sementara itu, pada pekan depan, para pihak terkait AS dan China akan bertemu di Washington. Mereka mempersiapkan pembicaraan tingkat menteri yang bertujuan meredakan perang dagang yang kini sudah mengguncang pasar keuangan dan memicu kekhawatiran tentang resesi global.

Pada pekan ini, ketegangan sempat mereda. Serangkaian isyarat niat baik dari Beijing dan Washington menjadi penyebabnya. Laporan yang menunjukkan peningkatan penjualan ritel di AS pada Agustus, lebih besar dari ekspektasi, juga menghilangkan kekhawatiran pasar tentang resesi.

Tapi, dunia tetap harus waspada. Juru bicara IMF Gerry Rice mengatakan perang dagang yang kini sudah memasuki tahun kedua berdampak buruk pada ekonomi global apabila terus terjadi. Kondisi ini juga mengikis kepercayaan dunia bisnis, investasi dan perdagangan. Sementara, ekonom yang disurvei oleh Bankrate melihat kemungkinan 41 persen ekonomi AS tergelincir ke dalam kondisi resesi saat pemilihan presiden November 2020.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA