Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Meneliti Penentuan Pricing Bank Syariah dari Sektor Riil

Sabtu 14 Sep 2019 13:18 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Magister Managemen dari Pascasarjana Universitas Yarsi, Dr. Any Setianingrum dan rekan-rekannya, Dr. Suhirman Madjid dan Dr. Perdana Wahyu Sentosa dalam Focus Group Discussion penelitiannya, Sistematisasi Implementasi Indek Sektor Riil Bank Syariah, dengan Analytic Network Process di Universitas Yarsi, Jakarta, Jumat (13/9)

Magister Managemen dari Pascasarjana Universitas Yarsi, Dr. Any Setianingrum dan rekan-rekannya, Dr. Suhirman Madjid dan Dr. Perdana Wahyu Sentosa dalam Focus Group Discussion penelitiannya, Sistematisasi Implementasi Indek Sektor Riil Bank Syariah, dengan Analytic Network Process di Universitas Yarsi, Jakarta, Jumat (13/9)

Foto: Republika/Lida Puspaningtyas
Selama ini, margin rate merujuk pada suku bunga acuan sebagai penentu pricing.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbankan syariah dinilai perlu acuan lain dalam penentuan margin rate untuk menegaskan perbedaannya dengan perbankan konvensional. Selama ini, margin rate merujuk pada suku bunga acuan atau interest rate sebagai penentu pricing.

Dasar pemikiran ini menjadi landasan penelitian yang dilakukan oleh Magister Managemen dari Pascasarjana Universitas Yarsi, Any Setianingrum dan rekan-rekannya, Suhirman Madjid dan Perdana Wahyu Sentosa. Ia mengajukan metode lain sebagai acuan penentuan pricing di perbankan syariah.

Salah satunya adalah melalui rasio dari cost dan revenue (CRR) di sektor riil. Nilai CRR ini berdasarkan pada laporan perusahaan terdaftar di pasar modal sesuai sektornya, misal pertambangan, pertanian, teknologi, dan lain-lain.

Any menyampaikan indeks sektor riil dinilai lebih relevan dalam menentukan harga di perbankan syariah. Sehingga harga yang diterapkan, misal dalam pembiayaan, di sektor pertambangan akan berbeda dengan sektor pertanian.

"Karena masing-masing risikonya berbeda, potensi keuntungannya juga berbeda," kata dia usai Focus Group Discussion (FGD) penelitiannya, Sistematisasi Implementasi Indek Sektor Riil Bank Syariah, dengan Analytic Network Process di Universitas Yarsi, Jakarta, Jumat (13/9).

Penerapan harga dinilai tidak dapat disamaratakan antara sektor satu dengan yang lain. Metode ini juga dinilai lebih cocok untuk bank syariah yang secara natural menganut sistem bagi hasil dalam menentukan margin rate-nya.

Penelitian Any bertujuan melakukan sistematisasi terhadap berbagai elemen kunci baik berupa penghambat, tantangan, kebutuhan, manfaat, dan prospek dalam mempercepat implementasi indeks sektor riil di bank syariah. Tahun ini adalah tahun pertama penelitian dan akan berlangsung hingga tahun keempat.

Pengamat Ekonomi Syariah Universitas Airlangga, Imron Mawardi menyampaikan selama ini bank syariah dikesankan tidak berbeda dengan bank konvensional. Meski menggunakan akad-akan syariah, namun menentukan margin rate-nya hampir sama seperti interest rate atau bunga.

"Jadi sebagian orang yang betul-betul ingin syariah, ini menjadi kurang nyaman," kata dia pada Republika.co.id pada kesempatan yang sama.

Sehingga menurut Imron, penting jika membuat satu indeks yang mendasarkan bukan pada suku bunga acuan. Indeks yang paling natural dan ideal adalah sektor riil.

Ide ini sempat mengemuka dan diteliti oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) pada 2010. Namun terhenti karena tingkat kesulitan yang tinggi. Mulai dari pengumpulan data untuk menentukan CRR sektoral, hingga menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk berpindah ke pricing yang baru.

Komisaris Utama Bank Mandiri Syariah, Mulya E Siregar menyampaikan formula ini sangat mungkin diterapkan di bank syariah. Jika formulanya sudah disetujui oleh regulator, maka tinggal diinput ke sistem-sistem komputasi bank.

"Sekarang gampang, tinggal dimasukan sistem, run off di komputer langsung bisa terlihat," kata dia pada kesempatan yang sama.

Mulya menyampaikan Mandiri Syariah juga siap untuk menguji coba sistem atau metode baru tersebut. Namun perjalanannya masih cukup panjang karena penelitiannya perlu empat tahun.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA