Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Menjadi Amil Sampai Tutup Usia

Sabtu 14 Sep 2019 10:11 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

Foto: dok. Pribadi
Menjadi amil adalah amanah, sekaligus peluang dakwah.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nana Sudiana, Pemerhati Sosial & Kemanusiaan

"Sampai aku tutup usia... Kan ku jaga hatimu... Sampai aku tua...
Walau keriput dipipimu terlihat... Takan goyahkan... Cintaku yang begitu kuat...
(Penggalan lagu "Sampai Tutup Usia" - Angga Candra)

Menjadi amil adalah amanah, sekaligus peluang dakwah. Dengan amanah ini pula, terbuka kesempatan membantu banyak orang walau bukan dengan harta sendiri yang dimiliki. Namun menjadi amil pasti juga ada batasnya.

Sampai kapan batas pastinya menjadi amil, tentu saja sampai takdir dari Allah memutuskannya. Namun tetap saja kita harus punya jawaban yang sifatnya manusiawi, mau sampai kapan atau mau sampai kondisi yang seperti apa kita akan berhenti menjadi amil?

Setiap amil pasti punya alasan sendiri-sendiri sampai kapan ia akan menjadi amil. Ada yang basisnya tahun, ada pula yang dasarnya sampai ia punya alternatif bisnis yang lebih mapan dan menjanjikan, atau ada pula yang memang sejak awal hanya menunggu waktu hingga ada peluang lain yang lebih baik. Apa pun pilihannya, semua berpulang pada alasan masing-masing.

Menjadi Amil Hingga Tutup Usia
Di kehidupan nyata gerakan zakat Indonesia, ternyata ada sejumlah orang yang Allah takdirkan ia tetap menjadi amil hingga tua, bahkan meninggal dunia saat masih terlibat di aktifitas keamilannya. Salah satunya bernama Muchlis Harun. Ia lahir di Maninjau Sumatera Barat tanggal 6 Januari 1943 dan Jumat petang 7 Juni 2019 atau pada 3 Syawal 1440 H Allah telah memanggilnya pulang ke rahmatullah. 

Menurut catatan Pak Fuad Nasar, Direktur pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI dalam akun Facebook-nya yang berjudul "In Memoriam Muchlis Harun" beliau mencatat bahwa almarhum adalah amil sejati, menjadi amil hingga tua dan bahkan sampai meninggal dunia. Almarhum cukup lama menjadi amil dan jadi bagian gerakan zakat Indonesia. Ia juga sejak lama dipercaya menjadi Ketua Badan Pengurus LAZ BAMUIS BNI, mulai dari tahun 1998 hingga tahun 2002. Tahun 2003 hingga 2016 menjadi Ketua Badan Pelaksana, terakhir mulai 2016 menjadi Penasehat BAMUIS BNI sampai dengan Tahun 2018.

Pak Muchlis Harun bukan orang sembarangan, walau saat-saat terakhir fisiknya terlihat tua dan ringkih, namun sejatinya ia pernah menduduki kursi pimpinan di Bank BNI, bank plat merah milik pemerintah. Ketika menjadi amil, ia senantiasa berpenampilan tenang, humble dan low profile.

Ketika sebagai pimpinan bank, beliau pernah berkesempatan tugas belajar ke Amerika Serikat. Bukan hanya itu, menurut Pak Fuad Nasar, beliau juga ternyata diketahui sebagai penulis artikel tentang ekonomi di majalah Panji Masyarakat. Majalah Panji Masyarakat sendiri ketika di tahun 70-an masih langsung dipimpin oleh Buya Hamka.

Pak Mukhlis Harun begitu mencintai profesi amilnya, selain ia bekerja keras dan bersungguh-sungguh membawa Bamuis BNI terus sukses dan berkembang, ia juga terus belajar memperbaiki kelembagaan Bamuis BNI. Di tengah semangatnya yang terus menyala untuk membesarkan Bamuis BNI, akhirnya Allah memanggilnya untuk kembali keharibaannya. Ia meninggalkan kita semua para amil untuk kembali kepada Rabb-nya, Allah SWT.

Begitulah amil bila telah Allah anugerahkan kecintaan pada jiwanya untuk mengabdi bagi kepentingan kebaikan, maka usia dan udzur karena tua tak menghalangi seseorang untuk terus menjadi bagian kebaikan. Kini, kitalah yang muda harus terus merawat nyala spiritnya Pak Mukhlis Harun ini dalam memajukan gerakan zakat Indonesia.

Kita mungkin tak harus tua dan hingga meninggal dunia di profesi amil ini, namun setidaknya selagi masih menjadi bagian amil di gerakan zakat Indonesia, mari pastikan kita mengabdi dengan semangat, menjaga keistiqomahan dan senantiasa berjuang meningkatkan kebaikan secara bersama-sama. Tanpa kebersamaan yang kuat, sesungguhnya kita mudah dipatahkan, mudah tergelincir ke jurang kegagalan yang penuh hambatan.

"Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

#Ditulis seiring datangnya senja di Pojok Condet 54 D-E, Selasa, 10 September 2019.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA