Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

BI: Peta Jalan Pengembangan Fintech Syariah Harus Menyeluruh

Jumat 13 Sep 2019 08:16 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Fintech

Fintech

Foto: Republika
Pengembangan ekonomi syariah harus melek teknologi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mendukung pembentukan peta jalan pengembangan financial technology (fintech) syariah. Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Dadang Muljawan menyampaikan BI akan selalu hadir karena pengembangan digital teknologi akan membutuhkan kolaborasi banyak pihak.

"Tidak bisa lepas satu sama lain, karena ini adalah kerja bersama," katanya pada Republika.co.id, Kamis (12/9).

Fintech adalah satu instrumen yang berperan dalam pengembangan digital ekonomi. Ia tidak bisa berdiri sendiri untuk menciptakan optimalisasi peningkatan ekonomi nasional.

Dadang mengatakan BI telah memberi masukan untuk peta jalan agar memperhatikan aspek makroprudensialnya secara menyeluruh. Karena digital ekonomi lebih luas jangkauannya, tidak hanya pada fintech.

BI hanya memiliki wewenang dalam sistem pembayaran atau payment gateway. Sehingga untuk pengembangan secara menyeluruh perlu kolaborasi dengan pihak lain.

"Yang dikembangkan pada ekonomi digital ada triple helix, yakni fintech, digital production, dan marketplace," kata dia.

Semuanya harus berjalan secara pararel dan tidak boleh ada yang tertinggal. Pengembangannya akan pincang jika hanya mendorong salah satu saja.

Digitalisasi juga menjadi satu kesempatan bagi syariah. Para pelakunya harus bisa bersaing di pasar sehingga perlu satu komando utuh agar lebih fokus.

"Ini momentum kebangkitan ekonomi nasional melalui syariah, kita harus melek teknologi," katanya.

Dadang mengatakan digital adalah jawaban untuk percepatan ekonomi nasional sehingga syariah pun harus bergerak ke sana. Ia mengutip pernyataan BJ Habibie terkait Indonesia yang kini menghadapi high cost economy.

Karakteristik Indonesia yang merupakan negara kepulauan membuat segala aktivitas ekonomi menjadi mahal. Mulai dari infrastruktur, transportasi, hingga rantai pasokan. Karena Indonesia adalah negara yang bergerak dalam jumlah besar, maka untuk mendorong ekonomi, Indonesia perlu efisiensi.

"Hambatan-hambatan ini bisa diatasi dengan digitalisasi yang bisa membuat semua terakselerasi," katanya.

Dadang sendiri mempercayai bahwa syariah menjadi jawaban untuk mempercepat perkembangan ekonomi Indonesia. Karena ekonomi syariah punya instrumen-instrumen dana murah yang bisa jadi bahan bakar efektif untuk investasi seperti zakat, infak, dan wakaf.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA