Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Menjadikan Pemuda Kreator Bukan Gladiator

Jumat 13 Sep 2019 00:30 WIB

Red: Joko Sadewo

Agung Sasongko

Agung Sasongko

Foto: dok. Republika
Pemuda membutuhkan sarana dan prasarana untuk mengembangkan diri.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Agung Sasongko*

Entah apa yang ada dibenak para pelajar menggelar laga gladiator bak film karya senias Hollywood. Bukan pula Piala Oscar yang didapat malah batu nisan ujungnya. Prihatin sekaligus miris. Mereka adalah generasi produktif yang diharapkan di masa depan akan melanjutkan perjalanan bangsa ini, tapi malah sibuk dengan urusan gladiator.

Harus diakui, pada usia pertumbuhan dengan gejolak hormonal perlu ada penyaluran. Ego sedang tinggi-tingginya. Ibarat pohon sedang ranumnya tapi enggan menunduk seperti tanaman padi. Kalau gejolak ini tidak disalurkan dengan hal positif akan lahir model gladiator ini.

Karenanya, kegiatan positif seperti ekstrakurikuler  di sekolah atau karang taruna untuk lingkungan jangan dianggap remeh perannya. Dengan jam sekolah berikut kurikulum yang demikian padat, para pelajar ini butuh penyegaran. Setiba di rumah, bukan nongkrong atau keluyuran, tetapi ada sarana menyalurkan bakat dan minatnya.

Ambil contoh, misalnya bakat mural. Ketimbang tembok menjadi sasaran tak jelas lebih baik diarahkan untuk jadi wadah seni. Doyan ngebut misalnya, kenapa tidak disiapkan sarana yang tepat sekaligus aman seperti arena balap. Jadi, aparat tak perlu repot-repot lagi bubarkan mereka. Cukup awasi dan duduk manis.

Intinya bukan hal normatif lagi kalau anak-anak ini butuh kegiatan. Dahulu karang taruna memainkan peran penting mengajak para remaja di lingkungan guna membuat beragam kegiatan positif. Modalnya cuma proposal ke orangtua. Sekarang peran karang taruna seperti ada dan tiada. Ada karena memang terpampang tulisan "Karang Taruna" di pos Rukun Tetangga (RT). Tidak ada, karena memang enggak ada kegiatannya.

Padahal  Rasulullah SAW berwasiat bahwa pemuda menjadi salah satu dari tujuh golongan yang akan dinaungi Allah SWT di bawah 'Arsy-Nya.  Namun para pemuda itu haruslah dekat dengan ibadah.  Di Masa Rasulullah SAW, pemuda memainkan peranan penting dalam pondasi peradaban Islam.

Ali bin Abi Thalib misalnya, semenjak kecil sudah mengakui kenabian Muhammad SAW. Tumbuh besar, dia menjadi pemuda berani. Perannya pun tak main-main. Pada waktu itu, Rasulullah SAW memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Di perjalanan, Quraisy sudah siap dengan rencananya mengepung rumah Rasulullah SAW.

Ali yang sedang tidur dibangunkan, lalu diperintahkan Rasulullah SAW untuk bertukar pakaian. Ali mengenakan pakaian yang biasa dikenakan Rasulullah SAW. Bayangkan, pengepungan Quraisy tak lagi terbendung. Ali yang berperan sebagai Rasulullah SAW berani mengambil peran yang membahayakan nyawanya.

Sesudah ancaman pemuda-pemuda pilihan itu pergi, Ali harus menempuh risiko lainnya. Dia mesti berjalan kaki seorang diri sejauh 477 kilometer menuju Yastrib (Madinah) untuk menyusul Nabi. Dia harus berjalan pada malam hari karena siangnya dia bersembunyi.

Ali sadar apa yang dilakukan Nabi jauh lebih berat. Karena itu, apa pun yang terjadi, Ali melaksanakan perintah Nabi dengan taat.

Ketika sampai di Yastrib, Ali dipanggil Nabi. Saking lelahnya, Ali tak dapat berjalan. Hingga Nabi sendiri datang menghampirinya. Melihat kaki Ali yang bengkak, Rasulullah terharu. Di peluknya anak muda itu dengan penuh kecintaan.

Rasulullah SAW menyiapkan Ali dan para sahabat lainnya 23 tahun sebelum menjadi generasi terbaik Islam. Lalu apa yang kita siapkan guna membangun generasi terbaik pemuda kita?

Karang Taruna tak ada. Ekstrakulikuler yang penting ada. Pengajian isinya orangtua semua. Apa ruang yang tersisa untuk para pemuda. Karenanya, sudah kewajiban kita untuk menyiapkan sarana dan prasarana untuk para pemuda ini. Mulai diaktifkan lagi karang taruna. Mulai digeliatkan lagi remaja masjid. Bimbinglah mereka menjadi kreator bukan gladiator.

Sebagai penutup, kata-kata pendiri bangsa ini, Bung Karno mungkin dapat menjadi  bahan renungan kita semua.

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

“Seribu orang tua hanya bisa bermimpi, tapi seorang pemuda mampu mengubah dunia!”

Wallahu'alam bis shawab

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA