Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Kementan Klaim tak Ada Lahan Puso di Sragen

Rabu 11 Sep 2019 17:30 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Gita Amanda

Ilustrasi petani

Ilustrasi petani

Petani Sragen memanfaatkan 28 ribu titik sumur dangkal dan dalam.

REPUBLIKA.CO.ID, SRAGEN -- Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari mengklaim, padi yang ditanam petani Sragen di musim kemarau hampir 100 persen tak mengalami gagal panen alias tak puso.

Baca Juga

Menurutnya petani bersama Pengendali Organisme Pertanian Terpadu (POPT), Penyuluh Pertanian Lapang (PPL), dan Babinsa mampu mengatasi hama padi seperti tikus di musim kemarau. Secara swadana ataupun dari bantuan pemerintah, petani di wilayah tersebut sudah memanfaatkan sumur dalam, sehingga sawahnya tak kekurangan air. Petani secara gotong royong juga melakukan gropyokan tikus.

"Karena itu hampir 100 persen padi yang di tanam tak puso," kata Eka dalam siaran pers yang diterima Republika, Rabu (11/9).

Eka menyebutkan terdapat sekitar 28 ribu titik sumur dangkal dan sumur dalam di Sragen. Jika sebelumnya petani menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dan gas untuk menggerakan mesin pompa (sumur dalam), saat ini petani sudah memanfaatkan listrik yang sudah masuk ke sawah. Berdasarkan catatannya, tiap satu bulan ada 100 orang yang mengajukan instalasi listrik ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk keperluan sumur dalam. 

Adapun total luas lahan pertanian Sragen seluas 94.155 hektare yang terdiri dari lahan sawah seluas 40.182 hektare atau 42,68 persen. Sedangkan lahan yang bukan sawah tercatat seluas 53.973 hektare. "Lahan sawah, khususnya yang belum ada irigasi teknis atau setengah teknis ini kami optimalkan dengan sumur dalam," pungkas Eka.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan padi yang siap panen di Sragen pada September tahun ini mencapai 20 ribu hektare. Menurut Suwandi, pada Juli-September bagi sejumlah petani padi kurun waktu tersebut merupakan masa kritis karena kemarau panjang.

"Tapi kamu Sibel (sumur buatan dalam), jadi masalah air untuk mengairi sawah di musim kemarau bisa diatasi petani," ujarnya.

Alhasil, sambungnya, walau di musim kemarau, petani Sragen masih bisa tanam padi. Bahkan petani Sragen mampu tanam padi sebanyak tiga kali setahun. Ke depannya dia berharap Sragen mampu meningkatkan efisiensi usaha taninya supaya bernilai tambah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA