Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Belum Terlambat Membentuk Keluarga Tangguh Bencana

Rabu 11 Sep 2019 17:13 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Layla berpose di depan rumahnya yang rusak akibat gempa dan tsunami di Lere, Palu, Sulawesi Tengah.

Layla berpose di depan rumahnya yang rusak akibat gempa dan tsunami di Lere, Palu, Sulawesi Tengah.

Foto: Wahyu Putro/Antara
Edukasi bencana sangat dibutuhkan untuk membangun Keluarga Tangguh Bencana.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr Agus Wibowo, Plt Kapusdatinmas BNPB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat beberapa fenomena alam yang berujung bencana kerap terjadi secara berulang dengan periode waktu yang tidak dapat diprediksi. Kenyataan ini mendorong kita untuk memulai, dari dalam diri, keluarga dan masyarakat sekitar untuk membangun Keluarga Tangguh Bencana (KTB).

Edukasi bencana sangat dibutuhkan untuk membangun KTB tersebut sehingga seluruh keluarga di Indonesia dapat menyelamatkan diri jika terjadi bencana, serta mampu mencegah dan mengurangi dampak bencana. Keluarga yang tangguh bencana merupakan keluarga yang memiliki daya antisipatif, daya protektif, daya adaptif dan daya lenting. 

Daya antisipatif berarti setiap keluarga mengetahui beragam potensi ancaman yang akan dihadapi dan mengetahui cara mengantisipasi risiko yang akan terjadi. Selanjutnya, daya protektif bermakna kemampuan untuk menolak, menghindari serta melindungi diri dan keluarga dari ancaman bahaya.

Baca Juga: Sejarah Bencana Indonesia: Potensi Bencana akan Berulang

Daya adaptif adalah kesanggupan untuk menyesuaikan terhadap potensi ancaman bencana, seperti membangun rumah tahan gempa, jalur evakuasi dan menyiapkan tas siaga bencana. Terakhir, daya lenting adalah kemampuan untuk pulih kembali dengan cepat setelah bencana menimpa masyarakat, seperti dengan mempunyai tabungan, asuransi atau cara lainnya.

photo

Suasana masyarakat terdampak gempa bumi di Halmahera Selatan.

Lalu, mengapa kita sangat membutuhkan KTB? BNPB mencatat bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, abrasi pantai, puting beliung, kekeringan dan kebakaran hutan lahan adalah bencana yang paling sering terjadi. Hampir setiap tahun kita mengalami bencana tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa lingkungan dan daerah aliran sungai sudah rusak.

Pada musim penghujan air hujan yang jatuh di permukaan tanah sebagian besar langsung mengalir sungai dan akhirnya mengalir ke laut. Hal ini disebabkan kawasan resapan air sudah rusak dan dikonversi menjadi tanah pertanian atau perkebunan serta untuk perumahan dan daerah industri.

Hasilnya kawasan resapan air tidak dapat menyimpan air sehingga pada musim kemarau mengalami kekeringan. Bencana ini akan sering menimpa kita setiap tahun, sehingga kita harus selalu siap menghadapi bencana yang dominan terjadi setiap tahunnya.

Sebaliknya, bencana geologi, seperti gempa, tsunami dan erupsi gunung api, walaupun jarang terjadi, dapat berdampak sangat fatal. Dampak bencana geologi dapat berujung pada banyaknya korban jiwa, kerugian harta benda, kerusakan rumah dan infrastruktur. Gempa Sulawesi Tengah tahun 2018 lalu menyebabkan Pemerintah mengeluarkan anggaran sebesar Rp 19 trilyun untuk pembangunan kembali lebih baik Palu dan sekitarnya yang porak poranda akibat gempa.

photo

Foto dokumentasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan Gunung Soputan meletus mengeluarkan abu vulkanik setinggi 5000 meter.

Sementara itu, tahukah Anda bahwa bencana seperti gempa bumi dapat terjadi secara berulang dengan periode waktu yang tidak dapat diprediksi? Beberapa gempa besar pernah mengguncang Jakarta dan menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. BNPB mencatat serangkaian gempa bumi dengan magnitudo besar mengguncang Batavia, nama Jakarta tempo dulu.

Pada 5 Januari 1699 Batavia tercatat mengalami gempa bumi dahsyat yang menyebabkan 18 orang meninggal dunia, 49 gedung batu kokoh hancur dan hampir semua rumah roboh. Selanjutnya pada 22 Januari 1780 wilayah bentukan Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC ini kembali diguncang gempa hebat.

Gempa bumi hebat berulang tepatnya pada 10 Oktober 1834 di Batavia. Dari catatan sejarah gempa tersebut, gempa bumi berulang dengan periode 80 dan 50 tahun. Setelah itu, Jakarta mengalami goncangan yang dipicu oleh gempa bumi di Cianjur dengan magnitudo 7,4 pada 2 September 2009, dan terakhir gempa bumi Banten bermagnitudo 6,9, yang getarannya dirasakan cukup kuat warga Jakarta.

photo

Warga beraktivitas di sekitar bangunan rumah susun yang rusak akibat gempa di Kelurahan Lere, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (2/9/2019).

Gempa bumi berulang juga teridentifikasi di wilayah Sulawesi Tengah. Gempa bumi M 7,4 yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu bukanlah gempa pertama yang terjadi di wilayah tersebut. Setidaknya tujuh kejadian gempa sudah pernah terjadi, yaitu pada 1 Desember 1927, 14 Agustus 1938, 1 Januari 1996, 11 Oktober 1998, 24 Januari 2005, 17 November 2008, dan 18 Agustus 2012.

Bahkan pada 1970 Prof JA Katili dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyarankan pada Pemerintah agar Palu tidak dijadikan Ibu Kota atau pusat pertumbuhan, karena potensi bahaya gempa dari Patahan Palu-Koro dan memprediksi akan terjadi gempa yang merusak pada tahun 2000-an. Peneliti Universitas Syah Kuala Aceh juga menemukan bukti gempa bumi dan tsunami pernah terjadi beberapa kali di wilayah Aceh.

Bukti ditemukan di gua Eek Leuntie di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Lapisan tanah atau pasir ditemukan di dalam gua akibat gelombang tsunami.

Setelah diteliti, ternyata ada beberapa lapisan pasir yang berumur 7.500 tahun yang lalu, 5.400 tahun, 3.300 tahun, 2.800 tahun, dan 26 Desember 2004. Bahkan di Pulau Simeulue mempunyai kearifan lokal “Smong,” yang berarti tsunami.

Para pendahulu mewariskan cerita kepada anak cucu bahwa kalau ada gempa pasti disusul smong atau tsunami. Hal ini menunjukkan para pendahulu percaya smong akan berulang atau terjadi lagi. Melalui cerita itu, seluruh penduduk Pulau Simeulue sudah paham jika terjadi gempa segera menyelamatkan diri ke tempat yang tinggi.

Ini terbukti saat tsunami menerjang pulau setelah gempa besar pada 26 Desember 2004 terjadi, dan "hanya" enam orang meninggal dunia. Bandingkan dengan ratusan ribu korban jiwa meninggal di daratan Aceh atau di tempat lainnya.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Eko Yulianto menemukan bukti-bukti di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa yang menunjukkan tsunami pernah terjadi beberapa kali pada periode waktu yang berbeda. Pada saat rombongan Kepala BNPB Doni Monardo menyusuri sepanjang pantai dari Sukabumi sampai Banten, Peneliti LIPI ini menunjukkan bukti tsunami yang pernah menerjang di pantai Binuangeun, Desa Muara, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

“Ada tiga buah batu koral berukuran besar di daratan sekitar pantai ini. Tadinya ada di laut, tapi terangkat ke daratan oleh tsunami. Ini sekitar 3.000 tahun lalu, ada juga 1.600 tahun lalu dan ada yang 300 tahun yang lalu,” ujar Eko Yulianto kepada Kepala BNPB, Kepala BMKG dan peserta kunjungan lain.

photo

Warga berjalan di dekat rambu peringatan bencana tsunami di pantai wisata Kampung Jawa, Banda Aceh, Aceh, Selasa (8/1/2019).

Lebih lanjut Dr. Wijokongko, Peneliti tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, menyampaikan bahwa wilayah pantai selatan Jawa mempunyai potensi gempa bumi megathrust dengan kekuatan M 8,8. Gempa itu mungkin menyebabkan tsunami setinggi 20 m dan akan menerjang wilayah pesisir dalam waktu kurang lebih 20 menit setelah gempa bumi.

Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga membenarkan potensi tersebut dan menambahkan itu potensi bukan prediksi. Potensi berarti pasti akan terjadi, hanya saja belum ada penelitian yang dapat menentukan kapan akan terjadi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA