Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Kuliah tak Diliburkan, Mahasiswa Riau Jadi Korban Kabut Asap

Selasa 10 Sep 2019 19:27 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Gedung Perpustakaan Daerah Soeman HS (kiri) dan Menara Bank Riau-Kepri (kanan) tampak samar-samar ketika kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (10/9/2019).

Gedung Perpustakaan Daerah Soeman HS (kiri) dan Menara Bank Riau-Kepri (kanan) tampak samar-samar ketika kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (10/9/2019).

Foto: Antara/Rony Muharrman
Empat mahasiswa mengalami gangguan kesehatan akibat pekatnya kabut asap di Riau.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Kabut dan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Kota Pekanbaru, Riau, dan sekitarnya sudah makin pekat. Buruknya kualitas udara mengakibatkan empat mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) Universitas Riau harus menjalani perawatan di RS Universitas Riau (UR).

"Saat dibawa ke RS UR pada siang hari hanya tiga mahasiswa, namun selang beberapa jam atau sebelum Ashar kemudian bertambah seorang lagi. Mereka sudah mendapat penanganan intensif tim medis RS UR," kata Nurul Pratiwi, Bupati Himpunan Mahasiswa PGSD Universitas Riau kepada Antara, di Pekanbaru Selasa.

Menurut Nurul, tiga mahasiswa tersebut berasal dari FKIP UR ialah Ayu Indah dan Tri Nobel yang masih berstatus mahasiswa baru jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) serta Widia Tresha mahasiswa baru jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Sedangkan korban lainnya yang terpapar kabut asap tebal adalah Afika Afri Islami, mahasiswa angkatan 2017.

"Kalau Nobel dan Ayu memang sudah ada riwayat asma, tapi sebelumnya tidak pernah kambuh, namun hari ini asap pekat sekali, dan saat menunggu jam kuliah berikutnya maka mereka langsung kambuh," kata Nurul.

Menurut Nurul, mahasiswa korban kabut asap tersebut mulai mengalami gangguan sesak napas saat menunggu jam dimulainya perkuliahan. Ketika dosen belum sempat masuk dan memberi materi, Afika dan Nobel mengalami sesak napas akut hingga tidak sadarkan diri.

Pada pukul 15.00 WIB, Ayu Indah mengalami hal yang serupa hingga dirujuk ke RS Universitas Riau. Selang beberapa menit kemudian, Widia mahasiswa PGPAUD, juga merasakan sesak napas akut sulit untuk makan dan minum, hingga tidak sadarkan diri ketika jam mata kuliah berlangsung.

"Kendati jam kuliah masih berlangsung, Ayu Indah dibawa segera ke RS dan kuliah otomatis dibubarkan. Mahasiswa yang menghirup asap tebal sudah banyak yang mengeluh dari kemarin, tapi yang pingsan dan membutuhkan perawatan intensif baru hari ini," ujar Muhammad Haekal S Nasution, Bupati Himaprodi PGSD UR.

Haekal juga mengatakan hingga saat ini belum ada respons langsung dari dosen ataupun internal kampus terkait sejumlah mahasiswa yang dilarikan akibat kabut asap ini. Meskipun demikian, beritanya telah disebarkan di WhatsApp grup dengan anggotanya ketua Kelembaggan Himpunan Mahasiswa dan sejumlah dekan dan dosen.

Untuk anggaran pengobatan korban, menurut Haekal, masih menjadi ditanggung oleh uang pribadi mahasiswa yang sakit tersebut. Atas kasus yang merugikan mahasiswa tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unri, sudah berkonsolidasi ke bagian rektorat dan berharap kampus menanggapi serius dengan mengeluarkan kebijakan meliburkan perkuliahan.

"Kami berharap Rektorat menetapkan libur perkuliahan karena kami juga berhak kuliah dengan udara yang sehat, apa bedanya dengan pelajar SD yang diliburkan kini, sebab sama-sama bernapas dengan paru-paru," kata Haekal.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA