Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Regulator AS Peringatkan Utang Perusahaan dan Risiko Pasar

Selasa 10 Sep 2019 09:21 WIB

Rep: Antara/ Red: Friska Yolanda

Aktivitas Wall Street

Aktivitas Wall Street

Foto: AP Photo/Richard Drew
Utang perusahaan AS dipupuk selama satu dekade dalam kebihakan yang akomodatif.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Ketua regulator pasar Amerika Serikat pada Senin (9/9) mengeluarkan peringatan atas risiko-risiko pasar. Risiko itu termasuk meningkatnya utang perusahaan, penarikan Inggris dari Uni Eropa, dan transisi jauh dari tingkat suku bunga pinjaman utama.

Ketua Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) Jay Clayton mengatakan pada audiensi di New York bahwa ia sangat prihatin dengan pertumbuhan utang perusahaan-perusahaan. Menurutnya, utang-utang itu telah dipupuk dalam satu dekade kebijakan moneter yang akomodatif.

Di Amerika Serikat, utang perusahaan-perusahaan mencapai hampir 10 triliun dolar AS. Nilai ini hampir 50 persen dari PDB, katanya.

"Itu angka-angka yang harus menarik perhatian kita," kata Clayton.

Pasar obligasi korporasi AS, yang terbesar di dunia, telah menawarkan tingkat pengembalian yang kuat, terutama bagi investor asing, walaupun Clayton menambahkan ada tanda-tanda bahwa pengembalian itu mungkin melambat.

“Kita harus menyadari apa yang dikatakan harga dan pergerakan harga di pasar utang korporasi. Misalnya, berdasarkan total pengembalian, sisi atas menjadi lebih terbatas sementara sisi negatifnya belum membaik," ujarnya.

Dia menambahkan SEC bersama dengan regulator lainnya harus memantau aliran masuk dan keluar dari dana-dana kredit, dan karakteristik portofolio termasuk konsentrasi, likuiditas dan leverage. Clayton juga mengatakan bank-bank AS harus menilai eksposur mereka pada tingkat penawaran antar bank London, yang dikenal sebagai Libor, menjelang tenggat waktu 2021 untuk transisi dari suku bunga pinjaman. Dia mengatakan bahwa industri harus memutuskan bagaimana secara aktif mengelola risiko-risiko itu.

Mantan pengacara Wall Street itu, juga menandai risiko-risiko potensial yang dipicu oleh perceraian Inggris yang berpotensi berantakan dari Uni Eropa tanpa masa transisi. Dia mengatakan lembaganya sedang menyusun rencana untuk menanggapi setiap dampak potensial dari Brexit tanpa kesepakatan, tetapi bahwa perusahaan-perusahaan juga memiliki peran yang harus disiapkan untuk kejatuhan itu.

“Saya mendorong penerbit, perusahaan jasa keuangan, dan pelaku pasar lainnya untuk melawan rasa puas diri dan kelelahan yang endemik terhadap situasi jenis ini. Saya mendorong Anda untuk terus mempersiapkan diri dan memberi tahu investor Anda tentang dampak potensial Brexit," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA