Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Ini Daftar 11 Perusahaan Indonesia Terbaik se-Asia Pasifik

Selasa 10 Sep 2019 07:27 WIB

Red: Budi Raharjo

Adaro

Adaro

Foto: Republika/Yogi Ardhi
200 perusahaan terpilih dari 3.200 korporasi di Asia-Pasifik yang melantai di bursa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Majalah Forbes merilis daftar 200 perusahaan terbaik di Asia Pasifik 2019 dengan pendapatan di atas 1 miliar dolar AS, kemarin. Sebanyak 11 perusahaan asal Indonesia masuk dalam daftar tersebut.

Baca Juga

Seperti dikutip dari laman resmi Forbes, Senin (9/9), daftar perusahaan terbaik yang diberi nama "Best Over A Billion" itu merupakan kategori baru yang dirilis Forbes untuk melengkapi “Best Under A Billion” atau perusahaan-perusahaan kecil dan menengah dengan pendapatan di bawah 1 miliar dolar AS.

Sebanyak 200 perusahaan itu terpilih dari sebanyak 3.200 korporasi di Asia-Pasifik yang telah melantai di pasar modal. Mereka dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, yakni tingkat rata-rata penjualan selama lima tahun terakhir, pertumbuhan pendapatan operasional, pengembalian modal, hingga proyeksi pertumbuhan selama satu atau dua tahun ke depan.

Terdapat 11 perusahaan Tanah Air yang masuk dalam daftar itu, yaitu Adaro Energy, Bank Central Asia (BCA), Bayan Resources, Chandra Asri Petrochemical, Gudang Garam, dan Indah Kiat Pulp & Paper. Selain itu, ada Indofood Sukses Makmur, Japfa, Kalbe Farma, Mayora Indah, dan Sumber Alfaria Trijaya.

Direktur Utama Bank BCA Jahja Setiaatmadja mengaku bangga perusahaannya bisa masuk ke dalam daftar Forbes. Jahja mengatakan, hal tersebut semakin memotivasi BCA untuk terus melakukan perbaikan kinerja.

Menurut dia, perusahaan selama ini sangat gencar mengembangkan teknologi. "Kami senang masuk Forbes. Semoga lebih banyak perusahaan Indonesia yang masuk agar pasar modal semakin berkembang," ucap Jahja.

BCA telah menganggarkan cost and capital expenditure (capex) atau belanja modal sebesar Rp 5,2 triliun untuk mengembangkan digitalisasi. Besaran angka tersebut naik 24 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Belanja modal itu dianggarkan untuk peningkatan sistem keamanan, perangkat lunak, dan perangkat keras. Namun, kendati perusahaan gencar mengembangkan digitalisasi, kata Jahja, perusahaan tetap mempertahankan fasilitas konvesional. Itu karena tidak semua nasabahnya melek teknologi.

Adapun dari sisi kinerja, BCA pada semester I 2019 mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 12,9 persen menjadi Rp 12,9 triliun dari Rp 11,4 triliun dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Sementara itu, Forbes mencatat BCA meraup laba 5,2 miliar dolar AS dengan total aset 57,4 miliar dolar AS pada 2018.

photo

Petugas membersihkan logo bank BCA di Jakarta, Sealsa (12/3).

Peningkatan inovasi juga menjadi komitmen Kalbe Farma sebagai salah satu perusahaan RI yang masuk ke dalam daftar 200 perusahaan terbaik di Asia-Pasifik. Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, perusahaan akan terus meningkatkan kemampuan inovasi melalui sumber daya manusia (SDM) unggul dan riset terapan secara efektif.

Selain itu, pihaknya akan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk membangun nilai perusahaan. Dia menegaskan, inovasi harus terus dilahirkan agar bisnis perusahaan tetap sesuai dengan perkembangan zaman. “Kemampuan inovasi terus kami pupuk melalui SDM yang unggul dan riset terapan efektif. Perusahaan ingin perkembangan zaman dan perkembangan digitalisasi," kata dia.

Kalbe Farma merupakan salah satu perusahaan bidang farmasi terbesar di Indonesia. Berdasarkan laporan keuangannya, perusahaan mampu membukukan laba bersih Rp 1,25 triliun pada semester I 2019. Jumlah laba tersebut naik 3,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, 11 perusahaan RI yang masuk dalam daftar 200 perusahaan terbaik Asia-Pasifik menandakan bahwa tak semua perusahaan terdampak tekanan ekonomi global, terutama perusahaan yang mengandalkan permintaan pasar domestik.

“Mungkin yang berbasis komoditas tertekan, tetapi kalau yang market base domestik bisa tumbuh,” kata Andry, menilai. Dia melanjutkan, perusahaan Indonesia harus mampu mematangkan strategi di tengah tekanan ekonomi dalam negeri dan global. Sebab, apabila perusahaan tersebut tidak mampu mempertahankan kinerja, mereka akan mengalami kemunduran. n retno wulandhari/novita intan ed: satria kartika yudha

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA