Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Makna Keluarga Bagi Amil

Senin 09 Sep 2019 11:14 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

Foto: Dokumentasi Pribadi
Rumah bagi amil bukan sekedar tempat singgah, ia adalah kerajaan kecilnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

"Family is not an important thing. It’s everything” – Michael J. Fox

Keluarga adalah bagian yang sangat penting dari kehidupan seorang manusia. Benar kata Michael J Fox di atas, "keluarga bukan sekadar sebuah hal penting. Keluarga adalah segalanya". Dalam sebuah keluarga kita hidup, bertumbuh dan berkembang. Kepribadian kita pun dibentuk di sana. Nilai-nilai kasih sayang, kejujuran, kepercayaan diri, terus menerus diajarkan dalam beragam aktivitas sehari-hari.

Di keluarga pula, tempat kita dididik menjadi diri sendiri. Dalam keluarga, kita juga bisa diterima apa adanya, dengan seluruh kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Di sana pula, semua orang dengan senang hati membantu seluruh masalah kita dan mendorong kita mencipta kebahagiaan dan suka cita dalam kehidupan secara bersama-sama.

Mimpi Keluarga Amil

Para amil, kadang bekerja sepanjang hari dalam sepekan, bahkan moment Idul Fitri atau Idul Adha, dimana semua orang sering kali sengaja berkumpul bersama keluarga besarnya, para amil masih sibuk bekerja. Mereka bertebaran dalam beragam tugas lembaga untuk membantu para dhuafa dan mustahik di sejumlah tempat.

Bahkan saat bencana atau tragedi kemanusiaan, ketika orang-orang berebut pergi dari lokasi-lokasi bencana, para amil justru berbondong datang untuk menolong. Luar biasa bukan?

Dalam situasi inilah, kita semua melihat betapa luar biasa para amil ini. Mereka benar-benar bukan orang biasa. Seolah tak ada ketakutan dan kekhawatiran dalam diri mereka.

Kita kadang lupa, bahwa di balik para amil yang hebat ini, terdapat keluarga mereka yang jauh lebih hebat. Yang mendorong mereka bergerak dan terus mendukung tiada henti. Para keluarga amil inilah yang sebenarnya jadi tulang punggung kekuatan dan kekokohan seorang amil. Di balik peran keluarga amil yang tak terlihat ini, hadir di depan kita, sosok-sosok amil yang tampak sempurna, bekerja sepenuhnya untuk kebaikan dhuafa dan sesama manusia secara umum.

Sebagian kita, termasuk para amil, idealnya menyadari dengan baik betapa pentingnya keluarga. Para amil, walau ditengah kesibukan apapun, tetap harus mengutamakan keluarga mereka.

Beragam masalah dan kendala teknis yang timbul, tak menghalangi seorang amil untuk terus berdekat-dekat dengan keluarga mereka dan menjadi bagian solusi dari problematika keseharian mereka. Ini penting sekali, karena sehebat apapun seorang amil, ketika ia selesai sebagai seorang amil, keluargalah yang pasti akan tetap menerima dirinya apa adanya, bahkan mungkin pula tak ada tanya untuk apa seorang amil mengakhiri kebersamaannya dalam skuad amil yang jadi kesehariannya selama ini.

Ketika ada masalah, para amil bisa mendiskusilannya dengan banyak pihak, namun saat batinnya resah, seorang amil tetap membutuhkan keluarga untuk meredam seluruh kegelisahan dan kegundahannya. Ia juga akan terhibur manakala bertemu anak dan istrinya di rumah.

Rumah bagi amil bukan sekedar tempat singgah, ia adalah "kerajaan kecilnya" sekaligus skuad terbaiknya untuk merajut masa depan diri dan keluarganya. Rumah juga tempat ia membina anak-anak biologisnya untuk memastikan memiliki ideologis yang sama dengan dirinya.

Seorang amil sangat ingin anak-anaknya bisa lebih baik dan tetap memiliki jiwa pelayanan dan kebaikan bagi sesama. Terutama perhatian dan pengabdiannya bagi jalan kebaikan umat dan bangsa.

Para amil saat bekerja, sesungguhnya ia tak semata mencari nafkah demi keluarga, ia juga berharap sekaligus mencari pahala untuk diri dan anak istrinya agar ia punya tabungan akhirat. Seorang amil, baik yang berposisi menjadi suami atau istri, berharap kerja kerasnya dari pagi sampai malam, demi mengais rezeki sebagai amil berkeinginan dapat juga kebaikan dan limpahan keberkahan bagi keluarganya.

Walau semakin hari semakin besar kebutuhan hidup yang harus ditanggung seorang suami yang jadi amil, ia tetap sadar bahwa dirinya tak boleh kehilangan fokus untuk jadi amil yang baik dan amanah. Di luar dirinya, bisa jadi orang-orang yang bekerja di tempat-tempat lain bersaing ketat untuk menjadi yang terbaik dari sesamanya, bahkan kadang dengan cara yang curang dan penuh tipu muslihat. Seorang amil walau terus didesak kebutuhan keluarga yang makin hari semakin banyak, ia tetap memastikan dirinya amanah dan terus berusaha menjadi amil yang jujur.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA