Wednesday, 24 Zulqaidah 1441 / 15 July 2020

Wednesday, 24 Zulqaidah 1441 / 15 July 2020

Peningkatan Literasi Bukan Sekadar Tingkatkan Daya Baca

Senin 09 Sep 2019 06:39 WIB

Red: Ratna Puspita

Lukisan dinding yang mengampanyekan gerakan membaca. (Ilustrasi)

Lukisan dinding yang mengampanyekan gerakan membaca. (Ilustrasi)

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Literasi menitikberatkan budaya belajar yang ditopang sekolah, masyarakat, keluarga.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Peningkatan daya literasi anak bukan sekadar meningkatkan daya baca. Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatra Barat Prof Sufyarma Marsidin mengatakan literasi juga terkait pembelajaran.

Baca Juga

“Literasi bukan hanya persoalan membaca saja namun lebih menitikberatkan pada budaya belajar dan pembentukannya harus dilakukan secara berkelanjutan,” katanya di Padang, Ahad (8/9).

Menurut dia, dalam meningkatkan daya literasi anak harus ditopang oleh tiga zona, yakni zona sekolah, zona masyarakat, dan zona keluarga. Ketiga zona harus saling menguatkan sehingga proses pembelajaran anak menjadi sempurna.

Ia mengatakan selama ini sekolah telah mengambil perannya dalam peningkatkan daya baca namun peran masyarakat dan keluarga yang masih rendah. “Ketiga zona tersebut merupakan kesatuan yang utuh dan saling menopang satu dengan yang lainnya. Jika sekolah saja yang bekerja dan yang lain tidak tentu target yang kita inginkan tidak akan terwujud,” katanya.

Apalagi, katanya, khususnya di setiap keluarga. Ia mengatakan seharusnya orang tua mulai dari ayah dan ibu harus mengambil peranuntuk meningkatkan daya baca anak di rumah.

Ia menilai selama ini banyak orang tua yang abai karena masing-masing sibuk dengan ponsel pintar mereka dan pekerjaan yang dibawa ke rumah. Akibatnya, tidak terjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya.

“Selain komunikasi, pembelajaran dari orang tua kepada anak tidak terjadi. Ruang makan merupakan tempat yang tepat untuk membicarakan semua, termasuk mendidik anak-anak. Ini yang harus diperhatikan,” katanya.

Ia menilai untuk Sumatra Barat, masyarakatnya lebih senang bercerita. Melalui cerita, orang tua dapat memindahkan pengalaman yang mereka miliki kepada anak-anak mereka.

“Mulai membicarakan adat, budaya, pendidikan semuanya bisa diceritakan namun yang terpenting adalah bukan cerita kosong,” katanya.

Ia mengatakan setiap keluarga harus kembali pada pendidikan informal, yaitu pendidikan yang tidak mereka dapatkan di sekolah namun di dalam keluarga dan masyarakat. “Jika semua berjalan dengan baik tentu anak-anak memiliki wawasan yang luas dan memiliki rasa ingin tahu yang besar dan tentunya mereka akan membaca,” katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA