Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Kiri-Kanan: Boikot Buku, Anies, Goenawan, Taufiq, & Felix

Ahad 08 Sep 2019 12:08 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Taufiq Ismail hadir dalam acara pemeran buku IIBF yang dibayangi seruan boikot.

Taufiq Ismail hadir dalam acara pemeran buku IIBF yang dibayangi seruan boikot.

Foto: Lukman Hakiem
Semarak IIBF 2019 meski ada seruan boikot.

Oleh: Sidik Sasmita, Peserta Magister Ilmu Sejarah FIB UGM. Peneliti Mukti Ali Institute (MAI) Yogyakarta.

Tanpa dinyana, saat selepas acara peluncuran buku biografi Pak Moh Natsir karya abangda Lukman Hakiem, di ruangan kru panitia IIBF JCC Jakarta, Sabtu siang kemarin (7/9), saya bertemu dengan penyair Taufiq Ismail. Dan sambil menunggu jemputan supir, kami berbincang cukup lama sekira satu jam dengan beliau. Ini kesempatan langka, bisa "berdua-duan" dengan seorang budayawan besar.

Tak rela waktu terlewat percuma, saya langsung ajukan beberapa persoalan untuk menghangatkan kebersamaan dengan Taufiq Ismail. Ini penting sebab Taufiq justru memilih datang dan memberi semacam pengantar pada peluncuruan biografi Moh Natsir tersebut.

Pada acara itu hadir juga Akbar Tanjung, Gubernur DKI Anies Baswedan, dan berbagai macam politisi yang menjadi kolega abangda Lukman Hakiem selalu penulis buku. Panggung diskusi penuh dengan anak muda, anak sekolah, serta para jurnalis yang sibuk 'kejar-kejar' Anies. Selain itu tentu saja terlihat kader anak sekolah menengah serta para muda HMI selaku yunior dari pada si penulis. Sesuai acara ternyata mantan Gubernur NTB, Tuanku Guru Bajang, ternyata hadir di pameran itu bersama putrinya.

''Saya tak sangka bisa sebanyak ini. Padahal semula saya ragu, apalagi sudah ada seruan boikot dari Gunaan Mohamad di twitter,'' kata Tohir, pengelola penerbit Pustaka Al Kautsar selaku penerbit biografi Moh Natsir. Wajah dia sumringah betul hingga akhir acara usia. Apalagi buku yang diterbitkannya itu laris manis.''Ludes. Biografi Pak Natsir yang hard cover malah ludes duluan. Alhamdulillah bisa cukup modal untuk ngopi di lobi depan,'' katanya renyah.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang berdiri dan luar ruangan

Belakangan acara pameran buku IIBF yang diinisasi IKAPI memang menjadi viral di media sosial setelah Goenawan Mohammad menyatakan membatalkan kehadirannya padahal dia sudah terlanjur diundang sebagai salah satu pembicara di sana. Pendiri majalah Tempo dan sastrawan kondang ini secara  terang-terangan menyatakan pembatalan dan alasan ketidakhadirannya itu karena tak setuju dengan kehadiran Felix Siauw di IIBF.

Pada Kamis (5/9/2019), dia mengutarakan pendapatnya tentang hal itu di Twitter.

Menurut Goenawan Mohamad, Felix Siauw tidak cocok menjadi tamu IIBF lantaran tidak sejalan dengan asas NKRI. Melalui (Twitter/@kemalarsjad/@gm_gm) menyatakan:

"Dalam acara Indonesian International Book Festival, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menghadirkan Felix Siauw, orang yang menentang asas NKRI. Acara itu dibiayai dana publik yang dikelola NKRI. Sebuah hipokrisi," ungkap @gm_gm.

"Besok, 6 September, Indonesian International Book Festival, berencana menghadirkan panel diskusi, dengan pembicara Jürgen Bosch, direktur Frankfurt Book Festival, dan saya. Saya membatalkan diri," imbuhnya.

Gambar mungkin berisi: Lukman Hakiem

Atas kenyataan kontroversi tersebut memang menjadi semakin menarik ketika saya berpikiran untuk ditanyakan kepada Taufiq Ismail. Nah, pertanyaan utama adalah hubungan beliau dengan Goenawan Mohamad. Mengapa Taufiq memilih datang yang ini berbeda sikap dengan Goenawan yang memilih melakukan boikot atas sebuah pameran buku meski sebelumnya sudah bersedia datang?

Padahal kita tahu, dekade awal enam puluhan (tepatnya pada 1963) mereka berdua menjadi bagian dari gerakan kebudayaan yang bertujuan meng-counter hegemoni Lekra (lembaga kebudayaan rakyat) di bawah nama "manifesto kebudayaan". Tapi tak berumur panjang, selang setahun kemudian gerakan ini dibubarkan Soekarno karena dianggap makar & kontra-revolusioner. Pada saat yang sama, Lekra makin berkibar.

Kembali ke pertanyaan tadi kenapa soal ini saya ajukan, jawabnya ini karena belakangan setelah rezim orde lama tumbang, dalam waktu yang relatif singkat, mereka berdua berpisah jalan. Dua budayawan kawakan, penyair, penulis sastra, juga sahabat dan sekaligus murid HB Jassin ini, kemudian tidak hanya berpisah jalan, tapi juga terkesan berdiri pada posisi berhadap-hadapan dalam banyak hal, mulai dari soal penghargaan Magsaysya kepada Pramoedya, Lekra, kebebasan bersastra, hingga sekarang soal pameran buku yang dihadiri sosok Felik Siauw.

(Ringkasnya) Taufiq berdiri di garis "kanan", sementara Goenawan di "kiri". Kendati dalam perjalanan berikutnya, ke-"kiri"-an Goenawan itu pun menjadi baur oleh perspektif liberalismenya yang juga tak kalah solid. Maka jadilah GM sebagai "kiri-liberal". Sedangkan Taufiq memilih jaur kanan 'Islamis'. Sungguhpun pasti, pelabelan ini pun bagi saya bukan tanpa problematika. Boleh disebut kategoris ini sebagai sesuatu yang "so called" ("katakanlah").

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang berdiri

Ketika ditanya soal Goenawan Taufiq hanya bicara singkat soal sosok koleganya itu. "Waktu kami tinggal di Batang Pekalongan, Goenawan dan keluarganya adalah jamaah tetap pengajian yang diasuh KH Ghaffar Islamil, ayah saya. Goenawan remaja adalah santri yang cerdas sebab ayahnya pun seorang ulama di Batang. Saya ini teman kakaknya, Kartono. Dulu Kartono pernah menjabat sebagai ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Berbeda sangat jauh dengan adiknya, Kartono yang kini sedang terbaring sakit, sangat militan membela Islam,'' katanya.

Taufiq kemudian melanjutkan, "sampai SMA Goenawan masih seorang santri. Dia anak yang pandai dan suka menulis. Tulisannya bagus. Selepas SMA Goenawan mulai berubah. Dia menjadi target orang-orang kiri dalam merekrut anggota. Kepiawaian Goen dalam menulis rupanya diminati mereka. Maka mulai sejak itulah dia didoktrin sebagai kader Kiri. Kelak warna dan perspektif tulisannya menjadi ke-Kiri-Kiri-an, hingga sekarang,''  kata Taufiq Ismail.

Sebenarnya Taufiq masih punya banyak kisah tentang perjumpaannya dengan Goenawan, termasuk cerita di 2015 saat acara pameran buku Frankfurt Jerman dimana Goen ke sana sambil mendatangkan dua orang penulis Lekra. Lekra kita tahu, merupakan organisasi sayap kebudayaan partai yang masih secara hukum menjadi partai terlarang di Indonesia, yakni Partai Komunis Indonesia (PKI). Nah, di pameran buku Jerman itu Taufiq hadir di situ menyaksikan acara tersebut secara  langsung.

 

Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Lukman Hakiem, orang tersenyum, orang berdiri

Keterangan foto: Mantan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi (TGB) bersama sang penulis Biografi Moh Natsir, Lukman Hakiem.

Nah kini saya paham bila Goenawan Mohammad bersama Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), dan Hilmar Farid (Sekjend Kebudayan) memboikot IKAPI (penyelenggara IIBF) gegara mengundang Felix Siauw di helatan IIBF untuk berdiskusi buku. Pasalnya, karena Felix orang HTI, organisasi terlarang!

Dalam soal kontroversi ini jadi kemudian teringat bincang singkat dengan salah satu tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), yakni Moh Sidik. Menurut tokoh yang sudah sepuh ketika kemarin berbincang sembari minum kopi di JHCC dia mengatakan memang di antara Taufiq dan Goenawan memang sudah berbeda jalan. Goenawan menjadi sosok pemikir sosialis yang ke kiri-kirian, sedangkan Taufiq sebaliknya, Ke-kanan-kanan atau Islamis.

''Sebenarnya beda sikap biasa saja. Mestinya kalau ada perbedaan sikap mari kita diskusi dan buka pikiran di panggung secara terbuka. Ini ciri sosok pemikir yang egaliter. Tak usahlah saling boikot, Kasihan ada acara pameran buku ini, padahal inti pameran buku adalah membuka cakrawala,'' kata Sidik seraya meminta kepada penerbit Al Kautsar untuk mencetak buku yang dahulu pernah jadi kontroversi 'Prahara Budaya'. Buku ini karta Taufiq Ismail dan DS Mulyanto, terbit di sekitar dekade 1990-an.

''Buku itu penting karena berisi kliping korannya milik Lekra. Buku ini pun sudah langka. Oh ya, cetak juga buku-buku soal pemikiran Islam Moh Iqbal. Buku langka di pasaran dan uniknya baik Goenawan dan Taufiq pernah menulis tentang sosok Iqbal. Saya ingat sekali buku itu,'' tegas Moh Sidik.

Hasil gambar untuk prahara budaya

Akhirnya Woww bingiittt khan...? Kiri-kanan jalan terus ya. Jangan hanya kaya rambu di lampu  pengatur lalu lintas yang hanya membolehkan: Kiri jalan terus!

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA