Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Hijrah dan Perubahan ke Arah Lebih Baik

Jumat 06 Sep 2019 09:00 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Perayaan pergantian tahun baru 1 Muharam 1441 Hijriah di Karawang, berlangsung meriah.

Perayaan pergantian tahun baru 1 Muharam 1441 Hijriah di Karawang, berlangsung meriah.

Foto: dok. Diskominfo
Tahun baru hijriah jadi momentum hijrah atau perubahan secara menyeluruh

Hijrah merupakan fenomena yang begitu luar biasa saat ini, begitu sering kita mendengarkan kata hijrah di semua kalangan. Begitu banyak artis yang mulai berhijrah, telinga kita juga tidak lepas dari pemberitaan orang-orang yang masuk Islam.Hijrah secara bahasa adalah berpindah dari sesuatu ke sesuatu yang lain atau meninggalkan sesuatu menuju sesuatu yang lain. Jadi hijrah itu identik dengan perubahan.

Tentu perubahan ke arah yang baik. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan.Awal Tahun Hijrah berpatokan pada saat hijrah yang dilakukan Rasulullah, yaitu dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah Baginda Nabi dari Makkah ke Madinah adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam dan Muslim.

Baca Juga

Hijrah memiliki makna yang sangat besar, tetapi bagaimana refleksi hijrah untuk saat ini? Apakah kita cukup memeluk Islam saja,atau cukup dengan kita beragama Islam? Tidak.

Kita memang sudah memeluk Islam, tetapi apakah sebagai seorang muslim, kita sudah menerapkan semua aturan Islam?

Jangankan melaksanakan, masih sangat banyak kaum muslim yang belum mengetahui bagaimana aturan yang sebenarnya dalam Islam. Masih sangat banyak kaum muslim yang jauh dari agamanya.

Maka sangat benar sabda Rasulullah berabad-abad silam, umat Islam akhir zaman akan seperti buih di lautan, meski banyak namun tak berarti,Karena mereka telah sangat jauh dari aturan agamanya, mereka mengaku beragama Islam tetapi anti terhadap syariah Islam, umat Islam saat ini lebih memilih berada di zona nyaman ketimbang melakukan pembelaan terhadap hak-hak umat.

Sedangkan mata menyaksikan penderitaan umat, telinga mendengarkan jeritan rakyat yang tertindas oleh kebijakan buatan manusia.

Kehidupan diatur dengan aturan dan sistem buatan manusia yang dibuat oleh sekumpulan orang dengan mengatasnamakan rakyat. Itulah sistem akidah sekuler yang saat ini diterapkan. Begitu banyak kerusakan yang disebabkan oleh sistem yang diterapkan saat ini, telah terlihat dari segala aspek. Jadi sudah sangat banyak alasan untuk mencampakkan sistem sekuler yang merusak menuju Negara lslam yang dijanjikan.

Jadi perubahan atau “hijrah” bukan hanya dilakukan pada tataran individu, tetapi pada tataran masyarakat, yaitu perubahan menuju ketaatan kepada Allah SWT secara total, itulah perubahan yang hakiki.

Menjadikan Bulan Muharram sebagai Momentum Hijrah Hakiki.

Bulan Muharram merupakan awal bulan kalender hijriyah. Karena tekad untuk melakukan hijrah terjadi pada bulan muharram. Di mana baiat terjadi di pertengahan bulan Dzulhijjah. Dari peristiwa baiat itulah awal mula hijrah.

Dari semua itu, hijrah dapat dimaknai sebagai momentum perubahan dan peralihan dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari segala bentuk kejahiliahan menuju Islam dan dari masyarakat jahiliah menuju masyarakat Islam.

Jadi sangat jelas, dari hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bukan hanya sekadar berpindah dari Makkah ke Madinah, tetapi perubahan dari segala aspek kehidupan, bukan perubahan secara sebagian tetapi secara menyeluruh.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA