Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Mendikbud: Mahasiwa Harus Punya Tradisi 5C

Jumat 06 Sep 2019 07:58 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Ratna Puspita

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Tradisi mulai dari kemampuan berpikir kritis, komunikasi, hingga kepercayaan diri.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Menteri Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia (Mendikbud RI) Profesor Muhadjir Effendy menekankan kepada mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang agar memiliki tradisi 5C. Ia mengatakan tradisi 5C ini untuk mendorong mahasiswa menjadi pemimpin masa depan.

Menurut Muhadjir, tradisi C pertama, yakni mahasiswa harus memiliki critical thinking atau kemampuan berpikir kritis. Kedua, yakni communication skill atau kemampuan berkomunikasi.

Baca Juga

Muhadjir menerangkan, keterampil berkomunikasi dengan baik ini menuntut mahasiswa untuk rajin membaca. Ia menambahkan kegiatan membaca ini berarti tidak melulu membaca aplikasi penyampai pesan WhatsApp.

"Apalagi sekarang banyak hoaks, maka harus diimbangi dengan membaca buku, literatur. Baik itu melalui buku-buku yang tercetak, maupun buku-buku yang ada di dunia maya atau virtual books,” kata Rektor UMM periode 2000-2016 ini melalui keterangan resmi yang diterima Republika.co.id, Jumat (6/9).

Keterampilan komunikasi juga menuntut mahasiswa untuk pintar berbicara. Untuk itu, Muhadjir mendorong agar mahasiswa lebih banyak bicara melalui dialog, debat, dan diskusi,

Selaniutnya, ia. mengatakan, kemampuan berkomunikasi ini juga ditunjukan oleh kemampuan menulis. Untuk itu, ia mendorong mahasiswa untuk rajin menulis, baik tulisan ringan hingga berat.

“Kalau Anda baca saja tanpa bicara, orang tidak tahu apakah sebetulnya Anda pintar atau tidak,” lanjutnya.

Kemampuan berkomunikasi pendukung, ia mengatakan, penguasaan bahasa asing Ia juga untuk menguasai bahasa asing. Ia berpendapat mahasiswa paling tidak menguasai satu bahasa asing, seperti Inggris atau Mandarin.

Tradisi yang ketiga, yakni collaboration atau bekerja sama. Ia mengatakan kompetisi memang penting, tetapi dunia sekarang ini juga menuntut individu memiliki kemampuan berkerja sama atau berkolaborasi.

Tradisi keempat, yakni creativity atau kreatifitas, yang ditunjukkan sepanjang waktu dengan cara membuat terobosan dan menemukan sesuatu yang baru. Di Muhammadiyah, tradisi kreatif sudah dimulai sejak KH Ahmad Dahlan, yakni dengan membuat sistem pendidikan modern pada zamannya.

Tradisi yang kelima atau terakhir, yakni confidence atau percaya diri. Selain berpikir kritis, keterampilan berkomunikasi, kolaborasi atau kerjasama, dan kreativitas mahasiswa UMM juga wajib kepercayaan diri tinggi. Tuntutan percaya diri ini untuk bisa bertahan dan menjadi pemenang di era 4.0 yang penuh kompetisi. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA