Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Berkaca Pada Hijrah Nabi Muhammad

Kamis 05 Sep 2019 19:23 WIB

Rep: Pengirim: Sagara Sastra/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Hijrah, ilustrasi

Hijrah, ilustrasi

Hijrah Nabi Muhammad tak hanya fisik namun juga sistem kufur menuju Islam

Sungguh, Nabi Muhammad kala itu benar-benar berpindah dari Makkah ke Madinah. Sekilas, hanya tampak seperti sekelompok orang yang berpindah dari satu kota mengunjungi kota yang lain. Padahal sesungguhnya yang terjadi adalah nabi Muhammad sedang menyiapkan sebuah peradaban Islam yang cahayanya dapat menerangi dua per tiga bagian dunia. 

13 tahun lamanya Nabi Muhammad berdakwah tauhid di Makkah. Dakwah yang mengguncang masyarakat Mekah karena praktik keliru penyembahan berhala yang mereka lakukan. Tidak hanya menyasar praktik peribadatan semata, tetapi juga mengkritisi masalah ekonomi. Ya, penjualan patung-patung berhala adalah sebuah bisnis yang menggiurkan bagi masyarakat Mekah. 

Baca Juga

Datangnya para pelancong dari luar kota Makkah untuk menyembah berhala di sekitar Ka'bah juga pasti mendatangkan uang yang tidak sedikit. Terang saja, ketika Muhammad tiba-tiba menyeru bahwa berhala itu haram, suku Quraisy tidak terima. Bagi mereka, berhala merupakan sumber pendapatannya. Tidak hanya berhala sebagai tradisi nenek moyang, namun berhala juga melegitimasi kedudukan dan jabatan.

Ini mirip dengan situasi sekarang ketika diserukan bahwa riba itu haram, banyak yang terguncang. Jelas, dari hulu ke hilir, praktik riba telah menggurita. Skema pembiayaan bisnis, KPR, leasing, bahkan kredit panci pun sarat dengan riba. Pelaku bisnis riba tidak terima jika sumber pendapatannya berkurang karena sepotong ayat yang menyatakan keharaman riba. 

Nabi Muhammad tidak peduli uang ataupun tradisi nenek moyang. Apalagi jabatan dan kehormatan. Baginya, risalah Allah haruslah disampaikan agar umat paham mana yang baik dan benar. 

Terus dan terus, Nabi Muhammad dan pengikutnya mendakwahkan Islam. Mengajak umat meng-Esa-kan Allah. Menginisiasi keadilan antara kaya dan miskin, antara pria dan wanita. Ya, nabi Muhammad memerangi praktik penguburan hidup-hidup bayi perempuan. Praktik yang kejam dan hina. Islam memandang kedudukan pria dan wanita adalah sama, antara yang kaya dan miskin, atau antara pemangku jabatan dan rakyat biasa. Tiada beda. Hanya takwa yang menjadi patokannya. 

Jika kita melihat dari sudut pandang kemanusiaan, apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad pada saat itu sangat masuk akal dan manusiawi. Tetapi tidak bagi pembesar-pembesar Quraisy yang selama ini hidup berkelimpahan dan bergelimang harta dari praktik-praktik busuk di Makkah. 

Segala cara dilakukan untuk menghadang dakwah Nabi Muhammad. Mulai ejekan hingga percobaan pembunuhan terencana telah mereka laksanakan. 

Ketika situasi semakin berbahaya, Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan pengikutnya untuk pindah, untuk hijrah ke Madinah. Sebuah kota yang telah disiapkan oleh Mush'ab Bin Umair dan kawan-kawan. 

Makkah yang penuh ancaman, intimidasi, dan sistem tata kelola pemerintahan yang kufur, akhirnya ditinggalkan. Lalu, Madinah yang telah ditanamkan nilai-nilai Tauhid akhirnya siap untuk dikelola dengan sistem Islam. Penduduk Madinah bersuka cita menyambut kedatangan saudara-saudara mereka dari Makkah. 

Madinah, meskipun hanya 10 tahun masa kenabian, tetapi semua syariat Islam sempurna turun di sana. Kaum Muslimin yang di dadanya tertancap akidah yang kuat, akhirnya mampu melaksanakan semua syariat Islam tanpa tekanan dari bangsa Quraisy. Syariat Islam juga telah diterapkan sebagai sistem tata kelola negara. Ketika dalam negeri telah kuat, berbagai agenda penyebaran dakwah Islam bisa dilaksanakan dengan masif, ilmu pengetahuan berkembang, dan rakyat makmur sejahtera. 

Kaum Muslimin telah benar-benar hijrah dari sistem kufur di Makkah, menuju sistem Islam di Madinah. Begitulah seharusnya momentum hijrah ini kita maknai. Hijrah dari segala kungkungan kapitalisme dan sosialisme menuju Islam yang terang benderang dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA