Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Kenali Faktor Penghambat Kerja Probiotik

Kamis 05 Sep 2019 15:52 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Yoghurt Buah

Yoghurt Buah

Foto: Antara Foto
Mengonsumsi probiotik tak serta-merta membuat sistem pencernaan bekerja dengan baik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Caleb Mok, ahli gizi dari PanAsia Surgery mengatakan mengonsumsi makanan probiotik tak serta-merta berarti sistem pencernaan akan bekerja dengan baik. Itu salah besar karena menjejali makanan probiotik tak akan bermanfaat jika Anda tak memerhatikan diet.

Selain itu, Mok mengungkapkan bahwa pertumbuhan probiotik dalam usus dapat dihambat oleh asupan serat rendah, makanan tinggi lemak, gula dan garam yang tidak sehat, serta makanan yang sangat sulit diproses. Bahkan merokok, konsumsi alkohol, dan istirahat yang tidak memadai, serta kurang olahraga dapat memengaruhi seberapa baik probiotik bekerja di usus Anda.

Untuk mendapatkan manfaat dari probiotik, mereka harus hidup dan berada di tempat yang tepat. Mok mengatakan bagi probiotik, untuk tetap hidup maka suhu adalah hal yang penting.

"Tergantung pada spesies probiotik dan makanan, suhu penyimpanan optimal biasanya antara 2 derajat Celcius dan 8 derajat Celcius," ujar Mok.

Proses memasak juga menjadi hal yang penting. Mok mengatakan hindari suhu tinggi saat memasak makanan probiotik seperti miso, tempe, dan keju.

"Menambahkan makanan-makanan ini di akhir proses memasak dan membuang hidangan dari panas segera adalah beberapa cara untuk melestarikan probiotik dalam makanan," kata Mok.

Tempat yang tepat bagi probiotik untuk bekerja adalah di usus kecil, bukan di perut. Jadi, agar probiotik menjadi efektif, mereka harus bertahan dari rendaman asam lambung yang kuat.

Mok mengatakan besar strain dari keluarga lactobacillus, bifidobacteria, dan streptococcus dapat menahan asam lambung dan mencapai usus kecil. Probiotik bertahan hidup dalam atu putaran enzim pencernaan di usus, sebelum mereka dapat memulihkan dan menjajahnya.

Sementara itu, Gail Cresci, profesor dan spesialis mikroba usus dengan Departemen Gastroenterologi, Hepatologi, dan Nutrisi Cleveland Clinic mengatakan bahwa untuk menemukan probiotik yang tepat bagi tiap orang mungkin membutuhkan upaya coba-coba. Soalnya, ada kemungkinan suatu probiotik malah tidak cocok. Hal itu ditandai dengan mengalami kembung hingga perubahan pola buang air besar.

"Jika Anda tidak melihat manfaat dari satu produk setelah beberapa pekan, coba yang lain dengan jenis bakteri yang berbeda," ujar Cresci.

Bahkan makanan probiotik dapat menyebabkan efek samping, terutama jika protein yang dikandungnya mengalami fermentasi dan menjadi amina alami. Ini dapat menyebabkan sakit kepala serta probiotik berbasis ragi juga dapat menyebabkan konstipasi.

"Anda juga bisa mendapatkan reaksi tipe alergi terhadap konstituen tertentu yang terkandung dalam probiotik," ujar Melvin Look, dokter bedah di Rumah Sakit Mount Elizabeth.

Kembali ke Mok, ia mengatakan terdapat suplemen probiotik yang disebut sinbiotik mengandung kombinasi probiotik dan prebiotik. Ia menjelaskan prebiotik sebenarnya serat, terutama serat larut, yang dapat ditemukan dalam buah-buahan, gandum, umbi-umbian, beberapa sayuran, dan mikro-alga tertentu.

Karena itu, saat hendak membeli suplemen probiotik, lihat apakah mengandung prebiotik umum, seperti fructooligosaccharide, inulin, mannose, dan xylitol.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA