Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Mengenal Resep Kuliner Dunia Islam

Rabu 28 Aug 2019 08:48 WIB

Red: Agung Sasongko

Madu bisa menjadi pengganti gula dalam resep (ilustrasi)

Madu bisa menjadi pengganti gula dalam resep (ilustrasi)

Di era keemasan, terdapat sederet buku tentang resep masak-memasak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di era keemasan, terdapat sederet buku tentang masak-memasak. Beberapa buku kuliner yang dihasilkan para koki Muslim itu antara lain; Kanz al-fawa'id fi tanwi' al-maw'id yang ditulis seorang koki tak dikenal dari Mesir; Fadhalat al-khiwan fi atayyibat at-ta'am wa-'l-'alwan yang ditulis Ibnu Razin Attujibi pada abad ke-12 di Spanyol.

Baca Juga

Selain itu ada pula Kitab At-tabikh fi al-Maghrib wa-'l-Andalus yang disusun seorang koki tak dikenal di Maroko pada abad ke-12 M; Kitab At-tabikh yang ditulis Mohammed al-Baghdadi pada abad ke-13 M di Irak; Kitab At-Tabikh: ditulis Ibn Sayyar al-Warraq pada abad ke-13 M di Irak; Tadhkira ditulis Dawad al-Antaki pada abad ke-13 M di Suriah; Wasla 'l-habib fi wasf al-tayyibat wa-t-tibb ditulis Ibnu A'dim pada abad ke-13 M di Suriah.

Awalnya, resep-resep itu hanya beredar di kalangan istana. Setelah itu, barulah masyarakat biasa bisa meracik hidangan sesuai resep yang dibuat para koki andal itu. Saat itu, ilmu gizi telah dikembangkan sebagai salah satu bentuk pengobatan. Penguasa Muslim di era itu sudah memperkenalkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh.

Di abad ke-13 M, buku-buku gizi beserta resep-resep masakan yang disusun para dokter Muslim menarik perhatian para penguasa, tak terkecuali Gereja di Barat pun ikut kepincut untuk mempelajarinya. Minat untuk mempelajari ilmu gizi beserta resep-resep makanan dan hidangannya semakin berkembang pesat ketika Ferrara, Salerno, Montpellier, dan Paris menjadi pusat untuk mempelajari ilmu kedokteran Islam.

Sejak itu, kalangan aristokrat dan penguasa di Eropa mulai mencicipi masakan dan bumbu masak yang diracik umat Islam. Meski begitu, penduduk biasa di Eropa Utara dibatasi untuk berdiet. Sedangkan, penduduk di Eropa Selatan sudah mulai menikmati hidup lebih baik dengan menyantap salad yang terdiri dari sayuran dan buah-buahan.

Salad dan sop juga merupakan hidangan yang diracik dan disarankan dokter Muslim seperi Al-Razi dan Ibnu Zohr. Selain itu, pasta juga ternyata warisan kuliner Islam. Petualang Muslim pada abad ke-11 M bernama Al-Bakri menuliskannya dalam catatan perjalanannya. Pada abad itu wanita-wanita Muslim sudah membuat pasta untuk jamuan makan.

Pasta warisan kuliner Muslim terbuat dari tepung terigu. Jenis tepung khusus diperkenalkan umat slam ke Sicilia dan Spanyol pada abad ke-10 M. Tak hanya itu, es krim juga merupakan warisan kuliner Muslim. Es krim dalam bahasa Italia disebut cassata yang berasal dari bahasa Arab Qashada (krim). Tempat penyimpanan es juga telah berkembang di masyarakat Islam. Namun, sejumlah dokter Muslim seperti Al-Razi dan Ibnu Sina tak menganjurkan meminum es dingin, karena bisa merusak syaraf.

Pola diet yang dikembangkan sarjana Muslim itu ternyata diterapkan Ratu Cristina selaku penguasa Denmark, Swedia, dan Norwegia. Sejak itu, seni kuliner juga berkembang pesat di Eropa. Masyarakat Barat ternyata tak hanya berutang pada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan sarjana Muslim. Ternyata masakan dan resep yang dikembangkannya pun banyak meniru dan mengambil dari warisan kuliner Muslim.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA