Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Pelaku UMKM Perlu Siapkan Diri Hadapi Persaingan Digital

Selasa 03 Sep 2019 17:25 WIB

Rep: my28/ Red: Fernan Rahadi

UMKM

UMKM

Foto: Antara/Irfan Anshori
Pembayaran tunai diyakini akan sering dipakai setahun ke depan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pelaku UMKM khususnya perempuan dinilai memiliki peran besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi serta upaya menciptakan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu mereka perlu menyiapkan diri menghadapi persaingan digital.

Berdasarkan studi Consumer Payment Attitudes 2018 yang dirilis oleh PT Visa Worldwide Indonesia, sebanyak 77 persen masyarakat Indonesia memperkirakan akan semakin sering menggunakan pembayaran nontunai dalam jangka waktu 12 bulan ke depan. Sedangkan 41 persen masyarakat menyatakan Indonesia akan menjadi masyarakat tanpa tunai dalam kurun waktu tiga tahun.  Survei ini diikuti oleh sebanyak 4.000 responden dari delapan negara Asia Tenggara yang berusia 18 tahun ke atas serta berpenghasilan Rp 3 juta ke atas.

Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia, Riko Abdurrahman, menyatakan mayoritas masyarakat Indonesia harus siap menghadapi masa depan keuangan digital khususnya pembayaran tanpa tunai. "Sebab, delapan dari 10 orang yakni sebanyak 82 persen responden menyatakan telah berani melakukan tindakan berpergian tanpa tunai," kata Riko dalam kegiatan program literasi keuangan #Ibuberbagibijak di Yogyakarta, Selasa (3/9).

Bentuk upaya pembayaran di kalangan masyarakat Indonesia dewasa ini semakin mudah. “Dengan berbagai bentuk ragam pembayaran meliputi kode QR, tap, maupun scan yang mendorong pengurangan pengunaan uang tunai," ujar Riko.

Sementara itu, Kepala Bidang UKM Dinas Koperasi UKM Kota Yogyakarta, Rihari Wulandari, menyatakan sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, apabila dalam berkreasi membuat usaha rumahan tidak disertai pengetahuan dan pemahaman literasi keuangan yang baik, maka keuntungan yang akan didapat tidak akan maksimal, bahkan bisa saja menyebabkan cashflow yang merugikan pihak bersangkutan.

“kami sangat mendukung program #Ibuberbagibijak sebagai langkah edukasi keuangan yang sangat bermanfaat," tuturnya. 

Sementara itu, Kepala Bagian Industri Keuangan Non Bank Pasar Modal dan Efek Otoritas Jasa keuangan (OJK) DIY Noor Hafid menyampaikan meningkatkan pemahaman edukasi keuangan seperti ini perlu dilakukan untuk mencapai adanya inklusi keuangan. “Sehingga, kesejahteraan rakyat meningkat,” ujarnya.

Program literasi keuangan kemarin digelar oleh PT Visa Worldwide Indonesia bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia. Program tersebut telah diluncurkan sejak 2017 dengan keterlibatan 300 ribu orang dari seluruh Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA