Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Haedar: Jangan Jadi Mahasiswa Formal

Selasa 03 Sep 2019 16:36 WIB

Red: Yusuf Assidiq

Flashmob pada pesmaba umm.

Flashmob pada pesmaba umm.

Foto: Dokumen.
Para mahasiswa agar terus menempa diri dan menjaga tradisi literasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Mengawali studi pada tahun akademik 2019/2020, para mahasiswa yang mengikuti Pengenalan Studi Mahasis­wa Baru (Pesmaba) berkesempatan mendengarkan kuliah umum dari Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir.

Dalam kuliah umum yang berlangsung di Hall Dome UMM, Senin (2/9), Haedar mengingatkan kembali bahwa kehadiran Muhammadiyah adalah bertujuan untuk mencerdaskan, memajukan, dan mencerahkan umat, bangsa, dan kemanusiaan. Untuk itu, kata dia, mahasiswa di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah hendaknya tidak sekadar menjadi mahasiswa formal.

“Tetapi juga mampu menjadi mahasiswa yang betul-betul punya karakter sebagai calon-calon intelektual, calon-calon cendekia, bahkan calon-calon ulil albab yang bisa menjadi kekuatan pencerah, baik untuk diri sendiri, keluarga, umat, bangsa dan kemanusiaan semesta,” ujarnya, di hadapan 7.611 mahasiswa baru UMM.

Ia kemudian membeberkan peranan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang pada usia muda memiliki peranan besar dalam memajukan bangsa. Mereka adalah KH Ahmad Dahlan,  Djuanda, dan Jenderal Soedirman. Mereka semua mengawali perjuangan sebagai anak-anak muda yang cerdas dan tercerahkan, ketiganya kemudian hadir menjadi tokoh bangsa yang berperan besar dalam kemerdekaan dan membangun Indonesia.

“Mahasiswa harus belajar dari tokoh-tokoh tersebut dan menatap masa depan untuk menjadi orang-orang yang bermakna bagi kehidupan. Karena, orang terbaik di mata Islam adalah mereka yang memberi manfaat untuk orang lain,” katanya.

Untuk menjadi mahasiswa yang berkarakter dan bermanfaat bagi orang lain, Haedar berpesan agar terus menempa diri dan terus menjaga tradisi literasi. “Iqra’ yang kekuatannya tidak hanya terpancar ke langit, tetapi ilmunya me­mancarkan sinar kemajuan ke seluruh alam semesta,” ujarnya.

Haedar  berpesan agar kelak para mahasiswa baru menjadi pemimpin-pemimpin besar yang meneruskan tra­disi UMM. “Generasi emas harus lahir, satu di antaranya adalah mahasiswa yang mau berkhidmat memajukan, mencerdaskan, dan mencerahkan bangsanya tanpa pamrih.

"Jika kalian jadi tokoh, jangan mementingkan diri sendiri, kelompok sendiri, tetapi perhatikan dan perjuangkan kepentingan umat bangsa bahkan kemanusiaan universal. Itulah semangat Muhammadiyah dan Islam rahmatan lil lamin,” tuturnya.

Di akhir pidato kuliah umum, Haedar mengingatkan agar para mahasiswa baru selalu semangat dalam berjuang, tidak lelah bekerja keras untuk mem­bawa membawa kebaikan bagi masyarakat luas. Menurutnya, masa depan itu milik orang-orang yang mau berjuang.

"Di kala kalian ada di tengah kemudahan, saya percaya kalian bisa berjuang, sukses lebih baik lagi. Semuanya tergantung pada kemauan, kesungguhan, kerja keras, dan selalu berbuat baik pada orang tua, dosen, guru, dan orang yang kita tuakan.”

 

Sambut muktamar

Rangkaian acara Pesmaba UMM selalu diwarnai dengan kejutan. Salah satunya dengan menampilkan flashmob dengan konsep yang berbeda. Konsep flashmob Pesmaba seakan tidak lepas dari tangan kreatif yang menjadi dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Jamroji.

Jamroji sudah lima kali memprakarsai ide flashmob yang selalu berakhir viral. Flashmob tahun ini memiliki ber­konsep formasi antara lain logo Mukta­mar ke-48 Muhammadiyah, logo HUT ke-74 RI dengan tema SDM Unggul Indonesia Maju, dan formasi dari sketsa Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 UMM.

Secara khusus, flashmob ini dipersembahkan untuk menyambut perhelatan akbar lima tahunan, Muktamar Muhammadiyah. Konseptor yang juga inisiator Kampung Warna-warni Jodipan ini ingin flashmob ini menjadi trendsetter pertama yang  membuat formasi logo Muktamar ke-48 Mu­ham­madiyah, disusul dengan ucapan ulang tahun ke-74 Republik Indonesia.

Sekalipun waktu persiapan hanya sepekan, flashmob tahun ini memiliki komando yang berbeda dan mampu mengharmonisasikan 7.611 mahasiswa. Dengan diiringi mars Muhammadiyah yakni "Sang Surya" dan lagu "UMM Terus Maju" yang dikomposeri oleh Ki Sapani Anom Carito, seniman dalang Dwijowirano UMM, setiap lirik dari lagu ter­sebut menentukan gerakan formasi yang ditampilkan.

Flashmob yang diusung UMM berbeda dengan papermob yang identik dengan meninggalkan bekas sampah. UMM berkomitmen untuk menggunakan properti yang menempel di badan, sehingga ramah lingkungan dan peduli tentang sampah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA