Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Abu Bakar dan Pesan Kesetiakawanan Hijrah Rasulullah SAW

Selasa 03 Sep 2019 15:13 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Nashih Nashrullah

Pengurus masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Ustaz HM Jazir ASP

Pengurus masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Ustaz HM Jazir ASP

Foto: dok. Republika
Hijrah memberikan pesan kesetiakawanan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Muharram memang menjadi salah satu momentum untuk mengenang langkah awal hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Sekaligus, memperingati kemenangan umat Islam dan terbukanya Makkah.

Baca Juga

Tapi, tidak cuma itu. Dalam pandangan Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Ustaz Muhammad Jazir ASP, Muharram dan hijrahnya Rasulullah SAW justru mengandung sangat banyak nilai-nilai kesetiakawanan. 

"Hijrah itu gambaran kesetiakawanan luar biasa," kata Jazir ketika mengisi Jambore Hijrah Bikers di Kompleks Masjid Jogokariyan, akhir pekan lalu. 

Abu Bakar misalnya, kata dia, menunjukkan betul kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Dialah yang dalam kondisi diburu, menemani Muhammad SAW menempuh perjalanan 600 kilometer lebih.

Selama perjalanan, Abu Bakar melakukan begitu banyak cara agar dapat memghapuskan jejak kaki Muhammad. Salah satunya, dengan membiarkan kaki Muhammad bertumpu tepat di atas kakinya.

"Sehingga, yang terlihat cuma jejak kaki satu orang, sebab orang-orang kafir quraisy waktu itu sudah menebak kalau Muhammad pasti berangkat bersama Abu Bakar," ujar Jazir. 

Selain itu, Abu Bakar memerintahkan putrinya, Aisyah, menggiring kambing di jalur lintas mereka. Sehingga, jejak kaki benar-benar tidak mudah dikenali.

Jazir mengingatkan salah satu hadis yang diriwayatkan al-Baihaqi tentang Abu Bakar. Dia menyebutkan, jika ditimbang keimanan seluruh umat Islam di muka bumi, tidak ada separuh berat keimanan Abu Bakar.

Dia berpendapat, kesetiakawanan menjadi kunci kemenangan dari zaman ke zaman. Termasuk, bagi umat Islam yang jumlahnya sedikit kala itu, tapi begitu kuat dengan kesetiakawanan yang sungguh-sungguh teruji. 

"Dan memang teman itu terlalu banyak ketika kita cuma menghitungnya, tapi terlalu sedikit ketika kita membutuhkan," kata Jazir.  

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA