Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Kerajaan Islam Banten, Ziarah ke Masjid Banten Lama

Senin 02 Sep 2019 05:09 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

(ilustrasi) Masjid Agung Banten di kesultanan banten abad ke-19

(ilustrasi) Masjid Agung Banten di kesultanan banten abad ke-19

Foto: tangkapan layar wikipedia.org
Kerajaan Islam Banten adalah musuh yang membaut Belanda Kewalahan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Ratusan dari pagi hingga malam, berjajar sepanjang 100 meter hingga ke pelataran Masjid Agung Banten. Mereka menjajakan dagangannya kepada para peziarah yang mendatangi masjid yang dibangun Maulana Hasanuddin, sultan Banten pertama sekitar lima abad lalu.

Memasuki bagian depan masjid bersejarah ini, yang memiliki menara setinggi 30 meter, pengunjung terlebih dulu melewati Istana Sorosowan yang kini hanya tinggal puing-puing. Bahkan, para peziarah umumnya tidak memperhatikan keberadaan bekas istana, yang di abad ke-16, ke-17, dan ke-18 pernah menjadi pusat kegiatan Kerajaan Islam Banten.

Istana ini dihancurluluhkan Gubernur Jenderal Marsekal Willem Herman Daendels pada pada 12 November 1808. Alasannya, karena berang terhadap sultan yang tidak mau mengerahkan rakyatnya menjadi korban pekerja rodi untuk membangun jalan pertahanan di Ujung Kulon, yang kala itu masih berawa-rawa. Sejak saat itu selama hampir 200 tahun, istana yang megah dan pernah menjadi kediaman 21 sultan Banten dibiarkan merana.

Belanda sendiri, yang selalu direpotkan para pejuang Islam Banten yang tidak henti-hentinya melakukan perlawanan, sejak lama berniat menghancurkannya. Gubernur Jenderal Ryklop van Coan, dalam suratnya kepada pemerintah Belanda 31 Januari 1679, menyatakan: Yang amat perlu untuk pembinaan negeri kita adalah penghancuran dan penghapusan Banten. Banten harus ditaklukkan, bahkan dihancurleburkan, atau Kompeni yang lenyap.

Kini, rakyat Banten merasa mempunyai waktu paling tepat untuk menghidupkan kembali kemegahan Istana Sorosowan, meski hanya berupa replikanya. Gambarnya selama ini tersimpan di Belanda. Upaya ini sekaligus ditujukan untuk menjadikan kota Banten Lama sebagai Pusat Kebudayaan Banten. Dengan begitu, rakyat di provinsi paling barat Pulau Jawa ini akan memiliki kembali kebanggaan sejarahnya yang gemilang.

Berdirinya Kerajaan Islam Banten di mulai ketika Syarif Hidayatullah beserta 98 orang muridnya dari Cirebon berusaha mengislamkan Banten. Mengikuti jejak Nabi Muhammad saw, dengan akhlak mulia, penuh kesabaran dan ketekunan, dalam dakwahnya ia mendapatkan banyak pengikut. Di antaranya adalah bupati Banten dan hampir seluruh rakyatnya.

Bahkan, bupati mengawinkan putrinya dengan Syarif Hidayatullah. Dan, lahirlah Maulana Hasanuddin, yang kemudian menjadi sultan Banten pertama, setelah ayahnya diangkat sebagai Temanggung di Cirebon.

Maulana Hasanuddin pun meneruskan usaha ayahnya menyebarkan Islam. Berkat kelembutan hatinya, berbondong-bondonglah orang yang masuk Islam.

Menurut sejarawan Inggris, Arnold Toynbee, di antara para mualaf terdapat 800 orang petapa dan resi. Sehingga di Banten kala itu telah terbentuk masyarakat Islami. Hasanuddin mendirikan kota Banten dan istana Sorosowan pada 8 Oktober 1526, bertepatan 1 Muharam 933 H.

Sebagaimana layaknya sebuah kota Islam, Banten Lama juga memiliki beberapa ciri seperti kota-kota Islam yang sezaman di bagian dunia. Di tengah kota terdapat alun-alun, yang digunakan bukan saja untuk kegiatan ketentaraan dan kesenian rakyat, tetapi juga sebagai pasar di pagi hari.

Istana Sorosowan terletak di bagian selatan alun-alun. Di sampingnya terdapat sebuah bangunan datar yang ditinggikan dan beratap, disebut srimanganti, yang digunakan sebagai tempat bertatap muka raja dengan rakyat. Sedangkan di sebelah barat alun-alun didirikan sebuah masjid agung. Di masjid inilah para sultan menjadi iman, sekaligus khatib pada shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Penduduk Banten pada masa Maulana Hasanuddin, menurut sejarawan Prof Djajaningrat diperkirakan 70 ribu jiwa. Hal ini menunjukkan betapa padatnya kota ini. Sedangkan, menurut Cornelis de Houtman, ekspeditor pertama Belanda yang datang di Banten (1598), kota ini besarnya hampir sama dengan Amsterdam.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA