Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Serban, Jubah, dan Inspirasi Kekhalifahan Otoman Diponegoro

Sabtu 31 Agu 2019 07:44 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pangeran Diponegoro naik kuda, mengenakan jubah dan surban, ketika beristirahat bersama pasukannya di bantaran sungai Progo, pada penghujung tahun 1830.

Pangeran Diponegoro naik kuda, mengenakan jubah dan surban, ketika beristirahat bersama pasukannya di bantaran sungai Progo, pada penghujung tahun 1830.

Foto: Gahtena.nl
Kekalifahan Otoman menjadi Inspirasi bagi Pangeran Diponegoro.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

 

 

Apakah ada hubungan antara kecamuk Perang Diponegoro dengan kekhalifan Otoman? Pernyataan ini memang berkecamuk di benak banyak orang. Selain itu ini terkesan masih menjad misteri.

Namun, segala pernyataan ini kontak terjawab ketika berjumpa dengan sejarawan yang merupakan ikon utama pengkaji kisah seputaran Perang Jawa dan Pangeran Diponegoro itu, Peter Carey. Sejarawan asal Inggris ini mengatakan kedua punya hubungan yang bersifat tidak langsung. Dan Pangeran Diponegoro memang banyak terinspirasi soal sosok kekhalifan Ottoman, Turki.

 

‘’Ini terlihat dari beragam bentuk. Mulai dari cara mengkaji taktik perang. cara pembagian pasukan, bahkan hingga gelar dan pangkat di ketentaraan Pangeran Diponegoro misalnya ada Dullah, Bulkiyo dan lainnya,’’ kata Peter Carey, Jumat malam kemarin (30/8) dalam sebuah perbincangan di Jakarta kemarin.

 

Peter Carey menambahkan, soal pengaruh Turki ini juga terlihat dengan melihat dari cara pakaian Pangeran Diponegoro saat ‘madeg’ (menjadi) pemimpin pasukan ketika Perang Jawa ini mulai berkobar.

 

‘’Pilihan serban dan pakaian jubah begitu langsung dikenakanan pada sore itu ketika rumahnya di Tegalrejo diserbu Belanda. Pangeran Diponegoro langsung memakai simbol pakaian seperti itu ketika kabur dari penggrebegan. Dia ingin perang yang dilakukannya adalah perang suci,’’ katanya.

Nah, agar tak panjang lebar mari disimak wawancara penulis dengan Peter Carey Jumat petang kemarin itu. Wawancara dilakukan di beranda Galery Cemara milik pakar filsafat  Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno di bilangan Menteng Jakarta. Percakapan ini direkam oleh anak muda asal Manado, Michael Limboto.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA