Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

WHO: Sistem Kesehatan yang Lemah Tingkatkan Kasus Campak

Kamis 29 Aug 2019 18:49 WIB

Red: Ani Nursalikah

Petugas medis memperlihatkan botol berisi vaksin campak.

Petugas medis memperlihatkan botol berisi vaksin campak.

Foto: EPA
Kasus campak di dunia naik tiga kali lipat di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan semua tempat di dunia, kecuali Amerika, mengalami peningkatan kasus campak, penyakit yang dapat membunuh atau melumpuhkan anak-anak, meskipun dapat dicegah dengan tindakan vaksinasi, Kamis (29/8).

Direktur Departemen Imunisasi, Vaksin, dan Biologi WHO Kate O'Brien menyalahkan sistem kesehatan yang lemah dan informasi yang keliru tentang vaksin. Dia meminta saluran media sosial dan masyarakat memastikan penyampaian informasi tentang pencegahan penyakit yang sangat menular itu secara akurat.

"Kita mengalami kemunduran, kita berada di jalur yang salah. Ada kecenderungan yang mengkhawatirkan semua wilayah mengalami peningkatan campak kecuali untuk wilayah Amerika, yang penurunannya kecil," kata O'Brien.

Kasus yang dilaporkan dari Januari hingga Juli tahun ini hampir tiga kali lebih banyak dibandingkan periode yang sama pada 2018. Hampir 365 ribu kasus telah dilaporkan secara global tahun ini, angka tertinggi sejak 2006.

Baca Juga

Dia mencatat angka tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari 6,7 juta kasus yang diperkirakan terjadi. Campak menyebabkan sekitar 109 ribu kematian pada 2017.

Wabah terbesar berkecamuk di Republik Demokratik Kongo (155.460 kasus), Madagaskar (127.454), dan Ukraina (54.246). Empat negara di Eropa juga dicopot dari status bebas campak pada 2018, yaitu di Albania, Republik Ceska, Yunani dan Inggris.

Data WHO tidak termasuk rincian angka spesifik untuk wilayah Amerika. AS mencatat 1.215 kasus campak di 30 negara bagian dalam wabah terburuk sejak 1992.

Para ahli kesehatan mengatakan virus ini telah menyebar di antara anak-anak usia sekolah yang orang tuanya menolak memberikan vaksin campak-gondong-rubella, untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut. Kepercayaan pada vaksin - di antara produk medis paling efektif dan banyak digunakan di dunia - paling tinggi di negara-negara miskin tetapi lebih lemah di negara-negara kaya di mana skeptisisme telah memungkinkan wabah penyakit seperti campak bertahan, menurut sebuah studi global pada Juni.

"Kami melihat informasi yang salah sebagai ancaman yang meningkat," kata O'Brien. "Kami meminta penyedia media sosial, komunitas, pemimpin, orang-orang yang berbicara, untuk memastikan Anda mengkomunikasikan informasi yang akurat, valid, dan dapat dipercaya secara ilmiah."

Siddhartha Datta dari kantor regional WHO untuk Eropa mengatakan di 53 negara Eropa, 90 ribu kasus campak dicatat pada paruh pertama tahun ini, sudah lebih dari jumlah kasus pada 2018.

Ukraina, yang menyumbang lebih dari setengah kasus, menerapkan reaksi tanggapan yang kuat. "Kementerian kesehatan sedang melakukan kampanye imunisasi yang ditargetkan. Mereka juga melakukan vaksinasi berbasis sekolah, vaksinasi berisiko tinggi bagi anggota militer dan pekerja perawatan kesehatan," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA