Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

Thursday, 11 Rabiul Akhir 1442 / 26 November 2020

OJK: Milenial Masih Belum Melek Berinvestasi dan Berasuransi

Kamis 29 Aug 2019 17:34 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya

Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK Sondang Martha (dua kiri) memaparkan materi saat menjadi pembicara dalam seminar tatap masa depan di Jakarta, Kamis (29/8).

Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK Sondang Martha (dua kiri) memaparkan materi saat menjadi pembicara dalam seminar tatap masa depan di Jakarta, Kamis (29/8).

Foto: Republika/Prayogi
Saat ini generasi milenial memang masih banyak bergantung kepada orangtua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Generasi milenial dinilai masih kurang melek dalam berinvestasi maupun membeli proteksi melalui asuransi. Bahkan, bagi yang berinvestasi, umumnya tidak melek investasi atau memiliki tingkat literasi rendah.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan generasi milenial termasuk rendah. Usia 18-25 tahun tingkat literasi 32,1 persen, sedangkan usia 25-35 tahun memiliki tingkat literasi 33,5 persen.

"Yang beli produk investasi ada 100 orang, tapi yang mengerti hanya 30 orang. Makanya banyak yang terjebak investasi bodong," ujar Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sondang Martha dalam diskusi Republika, Pilih Mana: Investasi atau Asuransi? di Jakarta, Kamis (29/8).

Sondang menyarankan agar milenial lebih bijak dalam mengatur keuangan. Dia juga menyarankan agar para milenial menggunakan 10 persen dari penghasilan untuk digunakan berasuransi.

"Harus punya perencanaan keuangan. Kalau merasa punya asuransi itu susah dan ingin langsung berinvestasi, ada produk SiMuda, merger antara asuransi dan investasi," kata Sondang.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Moch Ichsanuddin mengakui bahwa saat ini generasi milenial memang masih banyak bergantung kepada orangtua. Meskipun sudah memiliki polis asuransi, namun umumnya pembayaran premi masih ditanggung orangtua.

Kondisi tersebut, menurutnya, berbeda ketika milenial sudah mulai bekerja. Umumnya mereka tidak menganggap penting berasuransi. Hal ini berbeda dari pandangan generasi usia 35 tahun ke atas yang sudah memandang pentingnya berinvestasi untuk hari tua.

Gaya hidup hedonisme dinilai menjadi faktor yang menahan milenial untuk menggunakan penghasilan mereka untuk berinvestasi. "Kalau dari sisi substansi ilmu konsumsi, investasi itu adalah suatu hal menunda konsumsi demi masa depan, asuransi juga. Sekarang perkembangannya, asuransi sudah di-bundling dengan suatu investasi. Asuransi sudah one stop servicing," jelas Ichsanuddin.

Untuk itu, ia menyarankan agar milenial mulai melirik memiliki proteksi finansial dengan cara berasuransi dan berinvestasi. Apalagi dengan adanya saluran distribusi digital sata ini.

Adanya penjualan produk investasi melalui e-commerce sangat membantu milenial untuk berinvestasi dengan nilai kecil. Sementara dalam berasuransi, meskipun e-commerce dijadikan saluran distribusi, jumlahnya secara umum masih belum besar.

"Kalau milenial sendiri jumlahnya sekarang memang masih kecil di asuransi. Jalur distribusi pemasaran untuk asuransi digital itu ke depan akan sangat membantu, kalau cuma door to door itu sangat berat," ungkap Ichsanuddin.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA