Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Ahli Geofisika Ciptakan Perangkat Deteksi Gempa

Kamis 29 Aug 2019 13:18 WIB

Red: Nora Azizah

Alat pendeteksi gempa / Ilustrasi

Alat pendeteksi gempa / Ilustrasi

Foto: Wikipedia
Warning Alert System (EWAS) dirancang sebagai pengganti panca indera manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Ahli geofisika dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Dr. Eng. Supriyanto, M. Sc. membuat perangkat yang dinamai Earthquake Warning Alert System (EWAS) untuk mendeteksi kehadiran gempa bumi

"Alat ini dirancang khusus sebagai pengganti panca indera manusia, yang mampu mendeteksi kehadiran bencana gempa bumi," kata Supriyanto di kampus Universitas Indonesia di Depok, Kamis (29/8).

EWAS, ia menjelaskan, memungkinkan pendeteksian kehadiran gempa bumi secara seketika dan menyampaikan informasi mengenai datangnya gempa dalam waktu kurang dari lima detik kepada warga.

EWAS memanfaatkan sensor getaran, sirene/alarm, dan modul komunikasi gelombang radio untuk mendeteksi getaran dalam kawasan yang luas seperti yang biasa digunakan pada alat komunikasi handy talky.

"Setiap kali terjadi gempa, suara alarm EWAS(bisa) terdengar hingga sudut-sudut desa, sehingga berhasil menyadarkan warga desa untuk secepatnya bereaksi menyelamatkan diri dengan keluar dari bangunan tempat tinggalnya," kataSupriyanto.

Kecepatan deteksi dan penyampaian informasi mengenai gempa memungkinkan warga segera mengamankan diri dan pemangku kepentingan terkait mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi dampaknya.

EWAS, yang membutuhkan daya listrik 20 watt, kini telah dipatenkan serta diproduksi dan dipasang di beberapa daerah di Indonesia.

EWAS telah dipasang di wilayah yang pernah kena dampak gempa di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat dan Desa Muara-Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Lebak, Banten.

Cara memasang EWAS tergolong mudah sehingga warga bisa melakukannya sendiri berdasarkan petunjuk pemasangan yang disediakan.

Alat sejenis EWASyang ada di pasaran harganya relatif mahal karena didatangkan dari luar negeri dan biaya operasional dan perawatannya tinggi.

Peneliti Universitas Indonesia membuat EWASuntuk menyediakan perangkat deteksi gempa yang harga serta biaya operasional dan perawatannya lebih rendah.

GunamenyediakanEWASbagi masyarakat luas, Supriyanto tengah mendirikan sebuah perusahaan rintisan di bidang teknologi Geosinyalyang dikelola oleh dua dosen dan tiga mahasiswa Universitas Indonesia dengan latar belakang ilmu kebumian dan instrumentasi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA