Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Mengungkap Geliat Keilmuan di Timbuktu

Kamis 29 Aug 2019 10:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Muslim Mali berjalan menuju Masjid Sankore, salah satu situs yang jadikan warisan dunia oleh UNESCO.

Muslim Mali berjalan menuju Masjid Sankore, salah satu situs yang jadikan warisan dunia oleh UNESCO.

Foto: AP Photo/Harouna Traore
Universitas Sankore menjadi pusat belajar terkemuka di Timbuktu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada era kejayaan Islam di Timbuktu, banyak sarjana berkulit hitam terbukti lebih pandai dibandingkan sarjana asal Arab. Sejarawan terkemuka, Al-Hasan bin Muhammad Al-Wazzan atau Leo Africanus dalam bukunya, The Description of Africa (1526), mengungkapkan geliat keilmuan di Timbuktu pada abad ke-16 M.

"Ada banyak hakim, doktor, dan ulama di sini (Timbuktu). Semuanya mendapatkan gaji yang layak dari Raja Askia Muhammad. Dia menghormati orang-orang yang terpelajar," papar Al-Wazzan. Kisah sukses dan keberhasilan perabadan Islam di benua hitam Afrika yang ditulis Leo, konon telah membuat masyarakat Eropa terbangun dari jeratan era kegelapan hingga mengalami Renaisans.

Lalu, bagaimana asal muasal berdirinya Universitas Sankore?

Baca Juga

Seperti halnya Universitas Al-Qarawiyyin di Kota Fez, Maroko, aktivitas keilmuan di Timbuktu juga bemula dari masjid. Alkisah, pada 989 M, kepala hakim di Timbuktu bernama Al-Qadi Aqib ibnu Muhammad ibnu Umar memerintahkan berdirinya Masjid Sankore.

Masjid itu dibangun secara khusus meniru Masjidil Haram di Makkah. Pada bagian dalamnya dibuatkan halaman yang nyaman. Di masjid itulah kemudian aktivitas keilmuan tumbuh pesat.

Seorang wanita Mandika yang kaya raya lalu menyumbangkan dananya untuk mendirikan Universitas Sankore dengan tujuan sebagai pusat pendidikan terkemuka.

Perlahan namun pasti, Universitas Sankore pun mulai berkembang. Universitas ini lalu menjadi sangat dikenal dan disegani sebagai pusat belajar terkemuka di dunia Islam pada masa kekuasaan Mansa Musa (1307 M-1332 M) dan Dinasti Askia (1493 M-1591 M). Pada masa itulah, Sankore menjadi tujuan para pelajar yang haus akan ilmu agama dan pengetahuan lainnya.

Universitas ini dilengkapi dengan perpustakaan yang lengkap. Jumlah risalah yang dikoleksi perpustakaan itu berkisar antara 400 ribu hingga 700 ribu judul. Dengan fasilitas buku dan kitab yang lengkap itu, para mahasiswa akan belajar sesuai tingkatannya. Jika telah lulus dari berbagai ujian dan mengikuti pelajaran, para mahasiswa akan diwisuda dan dianugerahkan sorban.

Sorban itu melambangkan kecintaan pada Ilahi, kebijaksanaan, moral, dan pengetahuan yang tinggi. Pada zaman modern ini, para wisudawan diberikan toga. Tingkat paling tinggi yang ditawarkan Universitas Sankore adalah 'superior' (setara PhD), lamanya kuliah selama 10 tahun.

Ulama dan ilmuwan terkemuka yang dimiliki Universitas Sankore adalah Ahmad Baba as-Sudane (1564 M-1627 M). Ia adalah rektor terakhir Universitas Sankore yang menulis 60 buku dengan beragam judul, termasuk hukum, kedokteran, filsafat, astronomi, matematika, serta ilmu lainnya.

Ilmuwan dan ulama kenamaan lainnya yang dimiliki universitas itu antara lain; Mohammed Bagayogo as-Sudane al-Wangari al-Timbukti--mendapat gelar doktor saat berkunjung ke Universitas Al-Azhar, Mesir; Modibo Mohammed al-Kaburi; Abu al-Abbas Ahmad Buryu ibn Ag Mohammed ibn Utman; Abu Abdallah; dan Ag Mohammed Ibn Al-Mukhtar An-Nawahi.

Kebebasan intelektual yang dinikmati di universitas-universitas di dunia Barat pada zaman modern ini, konon telah terinspirasi oleh Universitas Sankore dan Universitas Qurtuba di Spanyol Muslim.

Tak hanya itu, universitas ini juga menjadi salah satu model perguruan tinggi yang benar-benar multikultural. Mahasiswa dan beragam latar belakang etnis dan agama menimba ilmu di Universitas Sankore.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA