Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Huawei Incar Proyek Kabel Optik Hubungkan Asia-Amerika Latin

Kamis 29 Agu 2019 08:48 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolanda

Seorang pria menggunakan ponselnya di depan toko Huawei di Beijing, Cina, Senin (20/5).

Seorang pria menggunakan ponselnya di depan toko Huawei di Beijing, Cina, Senin (20/5).

Foto: AP Photo/Ng Han Guan
Huawei juga meluncurkan pusat data komputasi awan di Santiago, Chili.

REPUBLIKA.CO.ID, SANTIAGO -- Raksasa teknologi asal Cina Huawei mengatakan sangat tertarik membangun jaringan kabel optik-fiber bawah laut yang menghubungkan Amerika Selatan dan Asia. Saat ini perseroan tengah mengikuti proses tender yang digelar Chili.

Baca Juga

Hal ini dikatakan CEO Huawei Chili David Dou Yong. Dou Yong mengatakan perusahaannya sangat bersemangat mengikuti proses tender yang digelar di Chili. Mereka juga akan berpartisipasi dalam lelang tender pembangunan trans-Pasifik. 

"Huawei akan sangat aktif berpartisipasi dalam peluang bisnis ini, proses lelang ini memiliki beberapa tahap, kami siap dan akan mengikuti prosesnya sampai pelelangan memilih vendor yang mulai melakukan implementasi dan tentu kami akan menjadi bagian dalam proses tender," kata Dou Yong, Kamis (29/8).   

Dua bulan yang lalu perusahaan telekomunikasi Cina lainnya Hengtong Optic-Electric Co Ltd sedang melakukan proses filing dengan Shanghai Stock Exchange. Mereka telah menandatangani surat perjanjian dengan Huawei untuk membeli 51 persen saham  Huawei Marine Systems Co Ltd dengan uang tunai dan pembagian saham. 

Pertama kalinya perusahaan Cina itu menjual aset mereka sejak Amerika Serikat (AS) menuduh Huawei sebagai alat pemerintah Cina untuk melakukan spionase. Hal itu membuat banyak negara ragu untuk melibatkan Huawei dalam proyek jaringan kabel bawah laut. 

Pada bulan Mei lalu pemerintahan Presiden AS Donald Trump memaksukan Huawei ke dalam daftar hitam perusahaan asing yang tidak diizinkan berbisnis dengan pemerintah AS. Trump menuduh mereka terlibat dalam aktivitas yang membahayakan keamanan nasional AS. Tuduhan yang dengan tegas dibantah Huawei. 

Sementara Huawei sendiri belum dapat mengkonfirmasi penjualan aset tersebut. "Ini sesuatu yang muncul beberapa bulan yang lalu tapi belum dikonfirmasi dan belum ada keputusan final," kata kepala hubungan masyarakat Huawei Weiqiang Zou. 

Pada Rabu (28/8) kemarin Huawei meluncurkan data center di Santiago, Chili. Huawei mengeluarkan kocek sebesar 100 juta dolar AS untuk membangun pusat penyimpanan data komputasi awan ini. Huawei melobi pemerintah Chili untuk menyimpan data mereka dengan teknologi komputasi awan.

Dalam sebuah dokumen tercatat selama tiga tahun terakhir petinggi-petinggi perusahaan Huawei melakukan lusinan pertemuan dengan wali kota dan menteri serta pejabat pemerintahan Chili. Mulai dari kepala polisi, pejabat bank sentral, otoritas pajak, tentara, hingga badan pembangunan nasional. 

Mereka juga bertemu dengan pejabat-pejabat kementerian pertambangan, kesehatan, ekonomi, transportasi, energi dan dalam negeri. Melobi para pejabat Chili untuk menggunakan teknologi komputasi awan dan pengenal wajah.  

Dou Yong mengatakan belum ada kesepakatan yang dibuat. Tapi perusahaannya akan terus mendorong pemerintah Chili untuk berbisnis dengan mereka. 

"Kami memandang Chili sebagai tolok ukur untuk seluruh Amerika Latin," katanya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA