Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Friday, 10 Sya'ban 1441 / 03 April 2020

Transjakarta Capai Rekor Jumlah Penumpang

Kamis 29 Aug 2019 08:58 WIB

Rep: Flori Sidebang/Nurul Amanah/ Red: Bilal Ramadhan

Bus Transjakarta menunggu penumpang di Halte Bundaran HI, Jakarta, Senin (25/3).

Bus Transjakarta menunggu penumpang di Halte Bundaran HI, Jakarta, Senin (25/3).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Transit plaza akan dibangun di tiap stasiun MRT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Direktur Operasional PT Transjakarta Prasetya Budi atau yang akrab disapa Prabu mengatakan, selama uji coba perluasan ganjil-genap terhadap kendaraan pribadi membawa dampak yang signifikan terhadap jumlah penumpang Transjakarta. Bahkan, kata dia, Transjakarta mencapai rekor terbaru jumlah penumpang tertinggi, yakni mencapai 851.902 penumpang pada Senin (26/8) lalu.

"Kita tertinggi penumpang itu dicapai dua hari lalu sampai 851 ribu penumpang. Memang ganjil genap terlihat sudah efektif meningkatkan penumpang," kata Prabu dalam jumpa pers, Rabu (28/8).

Sementara itu, sambung dia, sebelum perluasan ganjil genap diuji coba, jumlah rata-rata penumpang Transjakarta sebesar 700 ribu penumpang per hari. Rekor 761.272 penumpang pun dicapai pada 1 April 2019 lalu. Di sisi lain, Prabu mengungkapkan, dari data sementara Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, jumlah penumpang Transjakarta melonjak lebih besar pada saat tanggal ganjil, yakni sebesar 19 persen.

Sementara, pada saat tanggal genap, jumlah penumpang meningkat sebanyak 16 persen. Ia menyebut, jumlah mobil dengan pelat ganjil memang lebih banyak peningkatannya karena tanggal ganjil setiap bulannya juga lebih banyak dibandingkan tanggal genap.

Prabu menegaskan, pihaknya bersama Dishub DKI Jakarta akan melakukan pemantauan terhadap kondisi jumlah kendaraan pribadi selama masa uji coba perluasan ganjil genap. Sehingga, data terakhir yang akan diperoleh pada masa akhir uji coba, yakni 6 September dan akan digunakan pihak Transjakarta untuk menentukan langkah, seperti menambah jumlah armada bus pada koridor tertentu.

"Kita nanti lihat koridor mana yang penambahan penumpangnya paling banyak, menengah, sedang, atau rendah. Lalu, dari situ juga ada kajian apakah kendaraan pribadi berkurang karena beralih ke Transjakarta atau motor. Lalu, kami akan pertimbangkan jumlah armadanya," kata dia menjelaskan.

Menurutnya, hasil kajian hingga akhir masa uji coba sangat penting karena masyarakat baru akan memutuskan untuk beralih ke transportasi umum setelah sosialisasi berakhir. Untuk diketahui, uji coba perluasan ganjil genap akan berakhir pada 6 September dan mulai 9 September pengendara pribadi akan mulai dikenakan sanksi.

"Saat terakhir uji coba dan pertama dilakukan sanksi pasti beda. Itu akan terus kita evaluasi," ujar dia.

Pengembangan MRT

Anies Baswedan berencana meluaskan jalur MRT hingga 231 kilometer (km) dalam waktu 10 tahun (2030). Untuk mencapai tujuan tersebut, pembangunan jalur MRT terus dilakukan. Saat ini, sudah dilakukan pembangunan untuk Fase II dengan rute Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga Kota.

Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, akan ada perpanjangan untuk Fase II. Dari titik Kota akan ada penambahan sampai 5,2 km menuju depo Ancol Barat. Perkembangan pendanaan untuk Fase III East West (Kalideres hingga Ujung Menteng) juga sudah mencapai titik terang.

Dua pendonor utama, JICA dan Asian Development Bank, sudah memberikan kejelasan terkait pendanaan. Tapi, terkait mekanisme pendanaaan, belum dapat dipastikan. "Sejauh ini, gambaran besarnya melalui feasibility study anggaran dibutuhkan sebesar Rp 53 triliun untuk Fase III. Sudah ada kejelasan dari dua pendonor utama," kata William dalam agenda forum Jurnalis di Jakarta, Rabu.

Demi meningkatkan kenyamanan akses penumpang, MRT juga mengembangkan infrastruktur, di antaranya, park and ride dan transit plaza. Transit plaza yang saat ini sedang dikembangkan ada di Stasiun MRT Lebak Bulus. Letaknya persis di depan Poins Square.

Transit Plaza sengaja dibangun untuk menaikkan dan menurunkan penumpang ojek daring. Selama ini, ojek daring sering kali menaikkan dan menurunkan penumpang di jalur angkutan umum, tepatnya di bawah stasiun MRT Lebak Bulus. Sehingga, kerap menimbulkan kemacetan.

Pada Jumat (23/8), lanjut dia, pihaknya sudah melakukan uji coba buka tutup jalur angkutan umum. Jalur ini hanya boleh dilewati angkutan umum, seperti Transjakarta dan Jak Lingko. Pihak MRT pun terus bekerja sama dengan Dishub DKI, khususnya Suku Dinas Jakarta Selatan, Satpol PP, dan Polres Jaksel untuk terus menertibkan jalur ini.

Di depan Poins Square hingga Stasiun MRT Lebak Bulus disiapkan trotoar yang dilengkapi kanopi agar terhindar dari hujan. Sifatnya masih sementara karena nantinya kawasan MRT Lebak Bulus akan dibuat Jembatan Pedestrian Layang.

Selain transit plaza, MRT juga memperhatikan aksesibilitas pejalan kaki dan pengendara sepeda di sekitar stasiun. Terutama, di jarak 500 meter sekitar stasiun. Kali ini, MRT akan bekerja sama dengan Dinas Bina Marga untuk membangun trotoar baru serta menyempurnakan yang sudah ada.

"Untuk di jalanan utama sekitar stasiun, efektivitas trotoar akan terus ditingkatkan. Namun, untuk di jalanan lingkungan yang sempit, akan dicat supaya lebih terlihat bahwa itu adalah jalur untuk pejalan kaki. Sehingga, warga yang melintas akan merasa aman," ujar William.

Untuk pengendara sepeda, akan disediakan tempat parkir sepeda gratis di Stasiun MRT Cipete Raya, tepatnya di sisi Jalan Teladan. Tempat parkir ini dijaga petugas keamanan dari pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA