Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Lanfang, Tamatnya Nasib Dua Republik Bisnis di Kalimantan

Kamis 29 Aug 2019 04:53 WIB

Red: Muhammad Subarkah

etniis Haka di Kalimantan.

etniis Haka di Kalimantan.

Foto: wikipedia
Perubahan struktur ekonomi dan stuktur sosial di Monterado dan Lanfang.

Oleh: Teguh Setiawan, Jurnalis Senior

Memasuki dekade kedua abad ke-19, Belanda mulai memaksakan pengaruhnya di kedua federasi kongsi: Lanfang dan Heshun Zongting. Di Monterado, Heshun Zongting melakukan perlawanan terhadap kehadiran pengaruh Belada sejak masa kepemimpinan Liu Zhengbao pada 1918. Lanfang—dengan segala keterpaksaan— menerima pengaruh Belanda saat Liu Tai Er memimpin antara 1923 sampai 1837.

Adalah J van Boekholtz yang ditunjuk langsung gubernur jenderal Hindia Belanda, yang menancapkan bendera Belanda di Kalimantan Barat. Ia tiba di Pontianak 21 Juli 1818, dan segera mengklaim hak Belanda atas kerja sama dagang dengan sultan, seperti pernah disepakatkan Sultan Abdoel Rachman pada 1779.

Namun, pengaruh Belanda hanya salah satu penyebab kemunduran Federasi Kongsi. Penyebab lainnya, menurut Yuang Bingling, adalah perubahan struktur ekonomi dan stuktur sosial.

Tidak ada data valid berapa ekspor emas dari Monterado dan Lanfang. Arsip Belanda menyebutkan, pada 1822 ekspor emas Monterado dan Lanfang mencapai seratus ribu troy ounce. Sedangkan, Raffles memperkirakan sepanjang 1810 ekspor emas dari kongsi-kongsi di Kalimantan Barat mencapai 350 ribu troy ounce, atau tiga kali lipat dari perhitungan Belanda.

Namun, antara 1830 sampai 1840, ekspor emas menurun drastis. Kongsi-kongsi hanya bisa memproduksi emas tidak lebih dari 30 ribu sampai 40 ribu troy ounce dalam satu tahun. Meski demikian, kejatuhan produksi emas tidak berdampak serius bagi ekonomi kongsi-kongsi secara keseluruhan.

Kongsi-kongsi telah menyadari bahwa emas bukan lagi andalan, dan mereka beralih ke sektor perdagangan bebas dan perta nian. Terlebih, aktivitas ekonomi masya ra kat Tionghoa saat itu tidak diba tasi hanya pa da penambangan. Di sisi lain, monopoli Melayu di sektor perdagangan telah berakhir.

Tiandihui dan Lanfanghui memberikan kontribusi besar bagi pembangunan pertanian. Santiaogou mengubah rawa di Pemangkat menjadi kawasan pertanian subur, dengan jaringan irigasi. Major AJ Andres sen melaporkan, teritorial Dagang Kong si yang membentang sepanjang pantai dari Djintan sampai Singkawang adalah persawahan.

Santiaogou juga menguasai lahan pertanian sebelah utara Monterado; Taokwo, Minhuang, dan kawasan antara Montrado dan Mandor; Baimantou, Sibale, Shuilonggui, dan antara Montrado-Lara. Kawasan pertambangan emas Federasi Lanfang juga diubah oleh anggota Lanfanghui menjadi sawah.

Masyarakat Hakka dan Hoklo di Kalimantan Barat bukan buruh pertanian, tapi petani skala kecil independen. Mereka menanam padi, sayur, dan buah-buahan. Aktivitas inilah yang menstimulasi ekonomi. Dibanding wilayah lain di Kalimantan, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat sedemikian pesat. Pada 1830, Sambas dan Pontianak mendeklarasikan diri sebagai pelabuhan bebas.

Padahal, Belanda sempat berupaya menerapkan pungutan pajak 12 persen terhadap seluruh barang impor, tapi tidak berjalan. Saat Belanda memaksakan diri, kapal-kapal milik kongsi memilih berlabuh di Pemangkat, Sepang, Singkawang, dan Sedau. Langkah ini dimaksudkan untuk menghindari monopoli penjualan opium oleh Belanda.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA