Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Monday, 9 Rabiul Awwal 1442 / 26 October 2020

Bawa Tulisan 'Bebaskan Hong Kong', Pendaki Himalaya Ditahan

Selasa 27 Aug 2019 05:31 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Pegunungan Himalaya dengan Everest di puncaknya.

Pegunungan Himalaya dengan Everest di puncaknya.

Foto: EPA
Pendaki yang akan naik ke Himalaya ditahan setelah bawa tulisan 'Bebaskan Hong Kong'.

REPUBLIKA.CO.ID, HIMALAYA -- Pihak berwenang Cina mengamankan grup pendaki Hong Kong yang akan naik ke Pegunungan Himalaya. Pasalnya, salah seorang dari kelompok mahasiswa itu membawa tanda bertuliskan "Bebaskan Hong Kong".

Mereka diamankan selama dua hari di sebuah base camp Tibet. Pihak berwenang menginformasikan bahwa perilaku itu telah melanggar peraturan tentang hukum Republik Rakyat Cina tentang Hukuman untuk Administrasi Keamanan Publik.

"Lembaga keamanan publik telah memperingatkan mereka sesuai dengan hukum yang berlaku," kata sebuah pernyataan dari Pasukan Keamanan Siber Biro Keamanan Daerah Otonomi Tibet yang diunggah di media sosial Sina Weibo.

Petugas keamanan memastikan para mahasiswa itu sudah mengakui kesalahan mereka dan berjanji tidak melanggar hukum Cina lagi. Kemudian, pembawa tanda yang dilarang menandatangani "pernyataan maaf" setelah dakwaan pelanggaran.

Pemuda yang membawa tanda tersebut dibebaskan pada Senin bersama teman-teman pendakinya. Mereka berasal dari dua universitas yang berbeda di Hong Kong. Rekan dari si pendaki tidak membawa tanda apa-apa tetapi tetap ditangkap.

Kejadian yang hampir serupa juga berlangsung di puncak Mont Blanc, Pegunungan Alpen, akhir pekan lalu. Aktivis lain mengibarkan bendera protes Hong Kong di lokasi tersebut.

Bendera memiliki warna latar hitam dengan sederet tulisan Cina berwarna putih. Apabila diterjemahkan, tulisan itu berbunyi "Rebut Kembali Hong Kong, Ini Saatnya Revolusi", dikutip dari laman Breitbart.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA