Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Tiga Warisan Dinasti Safawi

Senin 26 Aug 2019 19:00 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Masjid e-Shah di Isfahan, Iran, merupakan salah satu bukti puncak kegemilangan arsitektur Safawi.

Masjid e-Shah di Isfahan, Iran, merupakan salah satu bukti puncak kegemilangan arsitektur Safawi.

Foto: forumseyahat.com
Dinasti Safawi (1301-1736) banyak mewarnai wilayah Persia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Dinasti Safawi (1301-1736) banyak mewarnai wilayah Persia.Dinasti ini merupakan kerajaan terbesar Iran setelah penaklukan Muslim abad ke-7. Dinasti Safawi berasal dari urutan sufi Safawi, yang didirikan di Kota Ardabil, wilayah Azerbaijan.

Dinasi itu merupakan dinasti Iran nenek moyang Kurdi. Namun, selama pemerintahan, mereka menikah dengan orang Turki, Georgia, Circassian, dan Yunani. Dari daerah asal mereka di Ardabil, Safawi membangun kekuasaan yang menyebar ke berbagai wilayah dan menegaskan kembali identitas Iran di wilayah tersebut.

Mereka membangun kekuatan politik. Pengaruhnya menyebar ke berbagai penjuru demi menegakkan kembali identitas Persia sebagai peradaban besar. Berikut ini adalah tiga arsitektur peninggalan Dinasti Syafawi yang kini menjadi warisan budaya.

Chehel Sotoun

Bangunan ini merupakan paviliun di Isfahan, Iran. Inisiatornya adalah Shah Abbas II.Setelah berdiri, bangunan ini digunakan sebagai tempat hiburan dan resepsi. Di istana ini, Shah Abbas II dan penggantinya akan menyambut pejabat dan duta besar, baik di teras maupun di salah satu ruang resepsi megah.

Nama bangunan ini berarti '40 tiang' dalam bahasa Persia. Nama ini diilhami oleh 20 tiang kayu ramping yang menjadi paviliun pintu masuk, yang ketika tecermin di perairan air mancur tampak terlihat sebanyak 40.

Sebuah lukisan terbaru menggambarkan kemenangan Nader Shah melawan tentara India di Karnal pada tahun 1739. Ada juga komposisi yang kurang bersejarah, tetapi lebih estetis dalam gaya miniatur tradisional yang merayakan kegembiraan hidup dan cinta.

Deir E Gachin Caravanserai

Penginapan Caravanserai di Isfahan dibangun pada masa pemerintahan Shah Abbas II. Penginapan ini merupakan resor mewah yang diperuntukkan bagi pedagang terkaya dan tamu-tamu terpilih.Kini bangunan tersebut disulap menjadi hotel mewah dan berganti nama menjadi Hotel Abassi.

Yang khas dari Caravanserai adalah bangunan dengan eksterior berdinding persegi atau persegi panjang, dengan satu pintu yang cukup lebar untuk memungkinkan binatang besar atau yang sarat muatan berat seperti unta masuk. Halaman hampir selalu terbuka tanpa atap. Dinding bagian dalam kamar dilengkapi dengan sejumlah kandang binatang. Kamar yang sama digunakan untuk mengakomodasi pedagang maupun pelayan mereka, hewan, serta barang dagangan.

Caravanserai menyediakan air untuk konsumsi manusia maupun hewan, mencuci, wudhu, dan mandi. Mereka juga menyediakan pakan ternak dan toko untuk pelancong. Di sana mereka dapat memperoleh bahan kebutuhan.

Sekolah Charbagh

Sekolah Shah merupakan kompleks budaya abad ke-17-18 di Isfahan, Iran. Kompleks ini dibangun pada masa Sultan Hussein, seorang raja Safawi. Sekolah ini merupakan sekolah agama bagi ulama di Iran. Untuk membiayai sekolah, ibu Sultan Hussein memiliki karavan besar yang dibangun di dekatnya, yang pendapatannya digunakan untuk yayasan.

Gerbang utama dari jalan utama Shah Abbas mengarah langsung ke ruang depan segi delapan berkubah. Kubah dan sebagian besar dinding ditutupi dengan batu bata kuning cerah yang memberikan perasaan ringan. Gerbang masuk dihiasi dengan fasad emas dan perak. Karya ubin di dalam gedung merupakan karya seni dan industri. Lapangan utama dilengkapi dengan kolam renang dan taman.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA