Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Friday, 21 Muharram 1441 / 20 September 2019

Sawah Kering, Petani Menganggur

Senin 26 Aug 2019 08:09 WIB

Red: Budi Raharjo

Petani berada di areal sawah miliknya yang kekeringan. (ilustrasi)

Petani berada di areal sawah miliknya yang kekeringan. (ilustrasi)

Foto: Antara/Dedhez Anggara
Seluas 4.553 hektare lahan sawah di Banten gagal panen.

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG --Sejumlah petani di Kabupaten Lebak, Banten, sejak dua bulan terakhir menganggur akibat kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan di lahan pertanian. Tak sedikit pula petani yang merugi karena sawahnya gagal panen.

"Kami selama musim kemarau terpaksa banyak tinggal di rumah dan tidak menggarap lahan sawah karena kekeringan," kata Samian, seorang petani Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, Banten, Ahad (25/8).

Area persawahan di wilayahnya yang mencapai puluhan hektare hanya mengandalkan irigasi dari Bendungan Cijoro. Namun, karena irigasi tersebut terdampak kekeringan, petani tak mendapatkan pasokan air.

Hal senada dikemukakan Yadi, seorang petani Desa Cikatapis, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak. Ia mengatakan, petani sudah menganggur sejak dua bulan terakhir. "Kami merasa bingung jika dilanda kemarau karena sawah di wilayah kami masuk kategori sawah tadah hujan, tanpa memiliki jaringan irigasi," katanya.

Provinsi Banten merupakan salah satu daerah terdampak kekeringan. Seluas 4.553 hektare lahan sawah mengalami gagal panen atau puso. Lahan puso paling banyak terdapat di Kabupaten Pandeglang dengan jumlah mencapai 3.564 hektare, disusul Kabupaten Lebak seluas 480 hektare.

Sawah di Pandeglang dan Lebak paling terdampak kemarau kerena sebagian besar lahannya merupakan sawah tadah hujan. Menurut Ketua Kelompok Tani Wanassalam, Pandeglang, Sudirman, kondisi puso saat ini lebih buruk daripada tahun sebelumnya.

"Kemarau tahun lalu enggak, paling masalah hama saja. Sekarang, dari 93 hektare lahan yang ada di kelompok tani kami, hampir setengahnya gagal panen," kata Sudirman, Ahad (25/8).

Celakanya, ia dan petani lainnya tak bisa memanfaatkan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Itu karena adanya perubahan kebijakan mengenai pendaftaran yang menurut dia harus melalui mekanisme daring. Padahal, menurut dia, pendaftaran asuransi sudah dilakukan sejak bulan Ramadhan, tetapi para petani tak diberi tahu bahwa pendaftaran harus dilakukan secara daring.

"Setiap musim itu saya ikut terus asuransi. Sekarang tak bisa manfaatkan karena ada kebijakan baru, sementara kita tidak disosialisasikan," kata Sudirman. Meski begitu, pihak perusahaan telah mengembalikan uang pendaftaran asuransi yang telah ia bayarkan.

Ia berharap pemerintah pusat dan daerah dapat memberikan alat bantu pertanian seperti pompa air. Sebab, para petani di daerahnya tidak banyak yang memiliki pompa air, sementara lahan yang ada kebanyakan merupakan sawah tadah hujan.

Ia mengaku telah meminta bantuan kepada dinas terkait untuk diberikan bantuan pipanisasi dan pompanisasi lahan sawah. Atas permintaan tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang sudah menjanjikan memberikan bantuan pipanisasi di wilayahnya seluas 1.000 meter. "Rencana tahun depan, karena kalau tahun ini kata dinas anggarannya enggak cukup," ungkap dia.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten Agus M Tauchid mengklaim banyaknya lahan puso belum memengaruhi ketahanan pangan di wilayah Banten. Dia menegaskan, ketersediaan pangan di Banten masih mencukupi.

Terkait Asuransi Usaha Tani Padi yang tidak bisa diklaim karena adanya kebijakan baru dari perusahaan jasa asuransi, ia mengakui, memang ada sosialisasi yang masih kurang. Ia mengatakan, personel yang dimiliki perusahaan tersebut belum sepenuhnya menjangkau kabupaten/kota di Banten.

photo

Sejumlah anak memanfaatkan areal persawahan yang terdampak kekeringan untuk bermain bola.

Kementerian Pertanian mengaku telah menerjunkan tim ke lapangan untuk mengatasi kekeringan yang melanda lahan pertanian di sejumlah wilayah Jawa Barat. Penanggulangan kekeringan diupayakan dengan melakukan perluasan tanam serta pengamanan standing crop.

"Kekeringan bukan berarti kita hanya berfokus ke yang terdampak. Tetapi kita cari cara bagaimana bisa memperoleh pengganti dari luas terdampak," kata Kepala Bagian Perencanaan Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Ugi Sugiharto dalam keterangan pers yang diterima Republika, Ahad (25/8).

Pihaknya juga menegaskan akan terus menindaklanjuti hal tersebut. Kementan, kata dia, telah menerjunkan tim untuk mengawal mitigasi kekeringan di wilayah pantai utara (pantura) Jawa.

Ia menambahkan, Kementan juga menyalurkan bantuan benih padi varietas yang tahan kekeringan. Menurut dia, benih padi itu sudah mulai ditanam pada Agustus ini. "Selain bantuan benih, bantuan pestisida dan herbisida serta BBM untuk pompanisasi dan kegiatan olah tanah," ujarnya.

Untuk percepatan tanam, lanjut dia, penanaman benih padi dilakukan melalui mekanisme tabur atau sebar langsung. Hal itu dilakukan dengan olah tanah sederhana dan penggunaan air secara efisien. n alkhaledi kurnialam/imas damayanti/antara ed: satria kartika yudha

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA