Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Aparat Diminta Transparan Usut Kasus Papua

Sabtu 24 Aug 2019 14:15 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Andi Nur Aminah

Anggota Kompolnas Irjen Pol (Purn) Bekto Suprapto

Anggota Kompolnas Irjen Pol (Purn) Bekto Suprapto

Foto: Republika/Fauzi Ridwan
Kompolnas menyatakan ikut memonitor proses penyelidikan kasus tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Bekto Suprapto meminta aparat kepolisian maupun TNI transparan dalam mengusut kasus kerusuhan Papua. Aparat diminta transparan dalam seluruh rangkaian kericuhan.

Transparansi itu harus dilakukan mulai dari mengusut insiden bendera jatuh ke selokan, ujaran rasis, hingga rangkaian kericuhan di Papua. Kejadian-kejadian itu dinilai Bekto menjadi serangkaian insiden yang saling terkait.

"Yang paling penting ini bagaimana polisi melakukan penyidikannya. Kalau ada kesalahan dalam proses ada aparat lain yang melakukan kesalahan itu harus dihukum. Ini harus transparan untuk mengobati (sakit hati warga Papua, Red)," kata Bekto di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/8).

Baca Juga

Kompolnas menyatakan ikut memonitor proses penyelidikan kasus tersebut. Bekto meminta polisi mengusut insiden bendera, juga dugaan ucapan rasisme yang tertuju pada mahasiswa Papua.

"Kompolnas betul-betul datang ke sana untuk mengklarifikasi. Apa buktinya, siapa yang melakukan. Ini biarlah berproses secepatnya," ujar dia.

Anggota DPD RI asal Papua Yorrys Raweyai berpandangan bahwa masyarakat Papua hanya ingin pihak kepolisian dan pemerintah transparan dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi di asrama mahasiswa di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur.

“Persoalannya hanya satu bagaimana pemerintah pihak Kepolisian bisa mengungkap secara transparan dalam memberikan hukuman apakah pelaku atau memprovokasi,” kata Yorrys.

Menurut Yorrys, peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua yang terjadi di Surabaya bukanlah hal yang baru, Insiden tersebut pun, kata dia, membuat masyarakat Papua kecewa dan akhirnya menimbulkan suatu reaksi.

"Diviralkan seluruh Papua dan dengan akumulasi kekecewaan dan membuat semangat kolektif membangun aspirasi. Ada yang menyampaikan aspirasi seperti di Papua. Sekarang spekrtumnya tiba-tiba bangkit satu gerakan," pungkas Yorrys.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA