Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Ma'ruf Amin: IAEI Harus Ambil Peran yang Pas

Sabtu 24 Aug 2019 00:02 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Wakil Presiden terpilih yang juga Ketua Dewan Pertimbangan DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) KH Ma'ruf Amin memberikan Keynote Speech dalam rangkaian acara Muktamar IV IAEI di Jakarta, Jumat (23/8).

Wakil Presiden terpilih yang juga Ketua Dewan Pertimbangan DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) KH Ma'ruf Amin memberikan Keynote Speech dalam rangkaian acara Muktamar IV IAEI di Jakarta, Jumat (23/8).

Foto: Republika/Prayogi
Pelaku ekonomi syariah sudah saatnya eksekusi, tak lagi bicara potensi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) memiliki potensi untuk jadi pondasi kekuatan ekonomi syariah Indonesia. Ketua Dewan Pertimbangan IAEI, Ma'ruf Amin mengatakan IAIE harus dapat menempatkan diri secara pas di sisi mana akan mengambil peran.

"Apakah akan masuk menjadi pemain inti, pemain pelengkap, pemain cadangan atau hanya pemandu sorak," katanya dalam di Muktamar IAEI ke-IV di Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (23/8).

Baca Juga

Ia mengatakan sudah saatnya pelaku ekonomi syariah tidak hanya bicara potensi melainkan eksekusi. Ma'ruf memaparkan sejumlah potensi yang bisa digeluti oleh para ahli mulai dari sektor regulasi hingga industri.

Data Bappenas menunjukkan pertumbuhan masyarakat  golongan berpendapatan menengah di Indonesia akan mendominasi perekonomian sampai dengan tahun 2040. Jumlahnya sebesar 75,5 persen dan sebagian besar mereka adalah umat islam.

Masyarakat ini bisa menjadi pasar, bisa menjadi pelaku. Ini semakin menunjukkan besarnya kekuatan umat islam indonesia. Apabila kelas menengah muslim mengalami pertumbuhan signifikan, maka secara otomatis akan menaikkan pangsa pasar ekonomi syariah. 

Salah satu potensi yang besar adalah jaminan sosial syariah. Menurutnya, banyak masyarakat yang merasa lebih nyaman bila mekanisme kerja BPJS Kesehatan sesuai dengan prinsip syariah. Ia optimistis skema ini bisa memperbaiki defisit dari BPJS Kesehatan.

Dengan melakukan sekuritas syariah iuran peserta dimasa mendatang, kemudian di investasikan dalam bentuk SBSN maka indonesia akan memiliki sistem jaminan kesehatan syariah pertama dan terbesar di dunia. Ini sekaligus akan mendorong kapitalisasi SBSN.

Selain itu sistem jaminan sosial tenaga kerja juda dapat terhubung dengan skema syariah. Sesuai karakteristiknya, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) yang merupakan jaminan atas musibah dirasa lebih nyaman oleh para peserta bila dilakukan dengan mekanisme kerja sesuai dengan prinsip syariah.

Lebih lanjut, Ma'ruf mengatakan perlunya IAEI hadir di industri dalam ekosistem ekonomi syariah. Seperti ekosistem RS Syariah, farmasi, wisata inklusif dan ekonomi kreatif yang saat ini menjadi potensi yang paling menonjol. Yang terbaru, Ma'ruf berharap pula pada digitalisasi sesuai syariah.

"Kita menantikan unicorn syariah pertama di dunia muncul dari Indonesia," kata dia. 

Tugas IAEI adalah hadir di segala lini tersebut untuk membantu pengembangannya. Sekaligus untuk terus menyiarkan bahwa eonomi syariah yang dibangun diatas sistem ekonomi yang bersumber dari ajaran islam diyakini lebih membawa keadilan ekonomi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA